Berita

Presiden Republik Demokratik Kongo Felix Tshisekedi/Net

Dunia

Kurang Menguntungkan, Kongo Tinjau Ulang Kesepakatan Mineral dan Infrastruktur dengan China

SELASA, 31 AGUSTUS 2021 | 08:26 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Setelah dua setengah tahun menjabat, Presiden Republik Demokratik Kongo Felix Tshisekedi meninjau kembali berbagai kesepakatan yang dilakukan pemerintahan terdahulu, salah satunya kesepakatan mineral senilai 6 miliar dolar AS atau setara Rp 86 triliun dan kesepakatan infrastruktur dengan China.

Menteri Keuangan Nicolas Kazadi menjelaskan, peninjauan itu merupakan tindak lanjut pernyataan Tshisekedi pada Mei yang khawatir jika beberapa kontrak pertambangan tidak cukup menguntungkan Kongo.

Sebagai produsen kobalt terbesar di dunia, sekaligus penambang tembaga terkemuka di Afrika, Kongro pada bulan ini membentuk komisi untuk meninjau kembali cadangan dan sumber daya tembaga dan kobalt  di tambang China Molybdenum, Tenke Fungurume, untuk secara adil mengklaim hak-haknya.


Kepada Reuters pada Senin (30/8), Kazadi juga menyebut pemerintah sedang mengevaluasi kesepakatan dengan perusahaan milik negara China Sinohydro Corp dan China Railway Group Limited, demi memastikan kesepakatan yang adil dan efektif.

Kesepakatan dengan Sinohydro dan China Railway sendiri dilakukan pada masa pemerintahan sebelum Tshisekedi, yaitu mantan Presiden Joseph Kabila. Ketika itu, Sinohydro dan China Railway setuju untuk membangun jalan dan rumah sakit dengan imbalan 68 persen saham di usaha patungan tembaga dan kobalt, Sicomines.

Kesepakatan itu merupakan bagian penting dari rencana pembangunan Kabila untuk Kongo. Tetapi para kritikus mengeluhkan kurangnya transparansi, meski beberapa infrastruktur telah dibangun.  

"Kami melihat ada beberapa masalah tata kelola di masa lalu. Kami membutuhkan lebih banyak kejelasan tentang kontrak, jenis keuangan yang ada di balik investasi," kata Kazadi.

Kazadi mengatakan, peninjauan tidak akan mengancam investor. Peninjauan justru dilakukan untuk mempererat kemitraan dengan China.

Data dari kamar tambang Kongo menyebut investor China mengendalikan sekitar 70 persen dari sektor pertambangan negara itu, mengambil alih posisi investor-investor Barat.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

UPDATE

Fakta Sidang Blueray Cargo: Kode BC1 Mengarah ke Djaka Budi Utama

Senin, 15 Juni 2026 | 18:15

Anak Buah Bahlil Irit Bicara Usai 7 Jam Diperiksa KPK

Senin, 15 Juni 2026 | 18:08

KPU Patok Anggaran Rp4,6 Triliun di Tahapan Awal Pemilu 2029

Senin, 15 Juni 2026 | 17:59

IHSG-Rupiah Menguat Sore Ini Usai AS-Iran Sepakat Damai

Senin, 15 Juni 2026 | 17:47

Demo Mahasiswa Ucapkan Selamat Atas Kegagalan Prabowo-Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 17:46

Wapres Gibran Terima Perwakilan Mahasiswa di Tengah Unjuk Rasa

Senin, 15 Juni 2026 | 17:23

Sifra Kejar Cita-cita di Sekolah Rakyat Demi Bantu Orang Tua Disabilitas

Senin, 15 Juni 2026 | 17:19

Demi Kepercayaan Masyarakat, Mahasiswa UBK Desak MBG Dihentikan

Senin, 15 Juni 2026 | 17:06

Komisi II DPR: KPU dan Bawaslu akan Tetap Eksis di 2027

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

DPR Minta Kejagung Tingkatkan Anggaran Perkara untuk Kejati dan Kejari

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

Selengkapnya