Berita

Farhan Abdillah Dalimunthe./Dok

Publika

Amandemen UUD 1945 Harus Melibatkan Rakyat

MINGGU, 29 AGUSTUS 2021 | 14:48 WIB

BEBERAPA waktu belakangan ini wacana terhadap Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 kembali menyeruak dan menjadi diskursus bagi para politisi kita. Ya, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) memang berencana untuk mengamandemen UUD 1945 dalam rangka menghidupkan kembali Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Dalam sidang tahunan MPR RI pada 16 Agustus 2021 yang lalu, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyampaikan tentang perlunya melakukan perubahan atau amandemen UUD 1945 untuk menambahkan GBHN atau Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN).

Hanya saja, rencana tersebut mendapat penolakan dari sebagian partai politik di parlemen. Pasalnya, ada kekhawatiran jika amandemen tersebut tidak hanya membahas GBHN saja, melainkan akan melebar ke pasal-pasal yang lain, salah satunya masa jabatan presiden dan wakil presiden.


Akan tetapi, pada Rabu, 25 Agustus 2021 lalu, Presiden Jokowi memanggil semua petinggi partai politik koalisinya di istana. Pertemuan tersebut dihadiri oleh tujuh ketua umum dan sekretaris jenderal partai koalisi, yakni PDIP, NasDem, Golkar, Gerindra, PKB, PPP dan PAN. Ketua DPP Partai NasDem Willy Aditya menyebut pertemuan tersebut salah satunya adalah membahas wacana amandemen terbatas UUD 1945.

Dalam sejarahnya sendiri, amandemen terhadap UUD 1945 sudah empat kali dilakukan. Menariknya, semua prosesnya dilakukan dalam kurun waktu tiga tahun. Proses amandemen yang kesannya tergesa-gesa, dipaksakan dan penuh pesanan itu berhasil membongkar dan merubah pelbagai landasan dasar sistim politik dan ekonomi Indonesia. Amandemen tersebut juga merombak batang tubuh dan menghapus penjelasan UUD 1945.

Setelah proses amandemen dan adanya perubahan mendasar sistem bernegara itu, kondisi politik Indonesia semakin kacau, kekuasaan politik yang seharusnya digunakan dan diarahkan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur nyatanya hanya dikendalikan oleh segelintir orang untuk memenuhi hasrat penumpukkan kekayaan mereka sendiri.

Di sektor ekonomi, amandemen UUD 1945 juga menjadi pembuka jalan untuk merubah filosofi mendasar sistem ekonomi Indonesia pasal 33 UUD 1945. Dengan menghapus dan menambah beberapa ketentuan, pasal itu kemudian menjadi lebih permisif terhadap kepemilikan swasta dan modal asing, peran serta Negara dalam memiliki dan mengelola kekayaan alam diminimalisir. Dan, lagi-lagi, menurut data Credit Suisse, Oxfam dan TNP2K,  kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang menuju kehancuran. 1 persen orang menguasai hampir 50 persen aset kekayaan nasional.

Bisa disimpulkan bahwa proses amandemen UUD 1945 yang terjadi di Indonesia hanyalah untuk memenuhi kepentingan elit tertentu. Amandemen juga menjadi proyek untuk merubah desain sistem ekonomi dan politik agar sejalan dengan kepentingan segelintir orang saja. Lantaran proses amandemen ini hanya untuk kepentingan elit, rakyat sama sekali tidak pernah dimintai persetujuan atau pendapat mengapa UUD 1945 yang menjadi dasar konstitusi bernegara itu harus diamandemen dan apa urgensinya.

Padahal, berdasarkan pengalaman dari banyak negara, setiap terjadi perubahan terhadap satu pasal dalam konstitusi selalu dilakukan referendum untuk meminta pendapat dan persetujuan dari rakyat. Hal itu juga sudah diamanatkan dalam Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1983 yang menyebutkan bahwa apabila MPR berkehendak untuk mengubah UUD 1945 maka terlebih dahulu harus meminta pendapat rakyat melalui referendum.

Amandemen UUD 1945 tidak bisa dilakukan dengan serampangan dan seenak hati saja sesuai dengan kepentingan elit yang berkuasa. Perubahan mendasar konstitusi bernegara juga tidak semudah itu dirubah hanya untuk merestrukturisasi sistem ekonomi dan politik agar dapat melegitimisasi penguasa untuk terus mengangkangi republik ini.

Oleh karena itu, sikap kami jelas, meski kemungkinan untuk mengamandemen UUD 1945 itu ada, karena kehidupan bernegara ini terus bergerak dan akan senantiasa mengalami perubahan. Namun, dengan tegas kami menolak jika amandemen itu ingin merubah filosofi atau bangunan dasar bernegara seperti anti-kolonialisme, anti-liberalisme dan anti-oligarki. Apalagi, amandemen tersebut hanya untuk melayani kepentingan oligarki.

Selain itu, belajar dari amandemen sebelumnya yang sama sekali tidak melibatkan rakyat dalam pengambilan keputusannya, ke depan proses amandemen harus melibatkan rakyat sepenuhnya melalui mekanisme referendum. Dengan begitu, rakyat bisa menentukan sendiri, apakah menyetujui adanya amandemen dan pasal-pasal mana saja yang boleh diamandemen.

Farhan Abdillah Dalimunthe.
Juru bicara DPP Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA)


Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya