Berita

Presiden Tajikistan Emamoli Rahmon/Net

Dunia

Presiden Tajikistan: Perlu Adanya Pemerintahan yang Inklusif di Kabul, Termasuk untuk Etnis Tajik

SABTU, 28 AGUSTUS 2021 | 22:38 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tajikistan  menjadi perhatian dunia di hari pertama kelompok Taliban menduduki Kabul dan menggulingkan pemerintahan Presiden Ashraf Ghani. Ini bukan saja karena isu bahwa Ghani melarikan diri ke negara itu, tetapi juga karena hubungan dekatnya dengan Afghanistan.

Afghanistan dan Tajikistan berbagi perbatasan sepanjang 1.300 kilometer yang sebagian besar berada di medan yang berat dan tidak terlindungi. Secara etnis, keduanya memiliki bahasa dan budaya yang saling terhubung. Sehingga, apa yang terjadi di Afghanistan tidak berhenti sampai di perbatasan saja, melainkan berimbas hingga ke wilayah Tajik, dan sebaliknya.

Sejak dulu, Tajikistan adalah rumah bagi para pengungsi Afghanistan. Meskipun belum ada informasi resmi, tetapi diperkirakan sejak Juli lalu jumlah warga Afghanistan yang mencari perlindungan di Tajikistan mencapai 1.500-an, termasuk para tentara yang ketakutan.


Saat pengambilalihan Afghanistan, Pemerintah Tajikistan membuat ketentuan untuk melindungi 100.000 pengungsi Afghanistan.

Pengambilalihan itu sendiri membuat Tajikistan kecewa. Ada kekhawatiran bahwa dengan berkuasanya Taliban, akan mendorong munculnya kelompok-kelompok serupa di Tajikistan.

Para elit bahkan mengkhawatirkan munculnya kelompok baru yang berorientasi Pushtun yang akan berusaha membalas dendam pada Tajik dan minoritas non-Pashtun lainnya di Afghanistan. Pashtun, yang juga dikenal sebagai Pushtan, adalah kelompok etnis terbesar di Afganistan. Keturunan Pahstun diyakini berasal dari Persia yang bermigrasi ke wilayah Asia Tengah. Mayoritas Pashtun beragama Islam Sunni yang menghuni wilayah perbatasan Pakistan-Afganistan.

Hanya orang-orang garis keras yang senang melihat Taliban naik ke tampuk kekuasaan.

Presiden Tajikistan Emamoli Rahmon telah tegas mengatakan bahwa negaranya tidak akan mengakui Pemerintahan Afghanistan yang eksklusif dan tidak merepresentasikan seluruh kelompok etnis.

Afghanistan memiliki belasan kelompok etnis yang beragam. setidaknya ada 14 kelompok etnis yang diakui di Afghanistan, salah satunya terbesar adalah Pashtun, dengan 50 persen dari total penduduk Afghanistan. Taliban sendiri dimulai dan didominasi oleh orang-orang Pashtun.

Lalu ada kelompok etnis Tajik, diikuti dengan Hazara dan Uzbek sebesar 9 persen.

Dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Pakistan, Shah Mehmood Qureshi, Rahmon mengatakan bahwa ia kecewa karena Taliban gagal memenuhi janjinya dalam membentuk pemerintahan yang inklusif.

Pakistan secara luas dipandang sebagai pendukung Taliban.

“Fakta-fakta menunjukkan bahwa Taliban mengingkari janji-janji awalnya untuk membentuk pemerintahan sementara dengan partisipasi luas dari kekuatan politik lainnya di Afghanistan, dan tengah bersiap-siap membentuk sebuah imarah Islam,” ujar Rakhmon, seperti dikutip dari Reuters.

Pernyataan Rahmon mendapat sambutan dari seluruh warga Tajik, membuat pamor Rahmon melonjak. Rahmon telah berupaya mencegah konflik lebih luas, sekaligus menopang posisinya.

Tajikistan tidak keberatan untuk memiliki rekonsiliasi nasional yang efisien di negara tetangga di mana etnis Tajik merupakan hampir 45 persen dari populasi, dan hanya dengan syarat-syarat tertentu yang layak untuk seluruh komunitas etnis Tajik lokal.

Profesor Ilmu Politik di Universitas Nasional Ilmu Kehidupan dan Lingkungan Ukraina Valentin Yakushev, mengataka bahwa retorika keras anti-Taliban dari Presiden Tajikistan didasarkan pada logika dua lapis.

"Yang pertama yaitu untuk konsumsi internal di Tajikistan, untuk memproyeksikan dirinya sebagai orang kuat, dan yang kedua adalah pesan eksternal untuk etnis Tajik di mana pun, bahwa harus yakin mereka selalu dapat mengandalkan dukungan kerabat, rakyat, dan negara Tajikistan," kata Yakushev.

Melalui peristiwa Afghanistan, Tajikistan dapat menemukan kesempatan untuk membuat kehadirannya lebih terlihat di panggung dunia. Apalagi seruan Rahmon telah bergema di penjuru dunia.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya