Berita

Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF) yang dibentuk Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) /EPA

Dunia

Junta Myanmar Kerahkan Pasukan Tambahan ke Wilayah Terpencil, Pertempuran dengan Kelompok Etnis Bersenjata Makin Sengit

KAMIS, 26 AGUSTUS 2021 | 08:49 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pertempuran antara militer Myanmar dan kelompok etnis bersenjata diperkirakan akan meningkat dalam beberapa hari mendatang, dengan dikerahkannya pasukan tambahan ke wilayah yang dikuasai pemberontak.

Sejumlah pemimpin etnis mengaku militer telah meningkatkan serangan di wilayah-wilayah terpencil, termasuk di negara bagian Kayah, Kayin, dan Kachin.

Serangan-serangan itu memicu pertempuran sengit dengan milisi Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF) yang dibentuk Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) dan tentara etnis yang mengendalikan sebagian besar wilayah terpencil.


NUG sendiri merupakan pemerintahan yang dibentuk para pejabat yang digulingkan junta, serta tokoh-tokoh pro-demokrasi.

Dari laporan Radio Free Asia pada Rabu (25/8), mobilisasi pasukan militer tambahan oleh junta terjadi setelah NUG, bersama kelompok etnis bersenjata, menetapkan tanggal operasi untuk menggulingkan rezim militer.

Pada Selasa (24/8), bentrokan hebat terjadi di kota Loikaw, negara bagian Kayah, yang menyebabkan 7 tentara tewas dan 10 lainnya terluka.

Jurubicara Pasukan Pertahanan Nasional Karenni (KNDF) yang menguasai wilayah itu, Khun Thomas mengatakan, pertempuran kemungkinan akan terus berlanjut lantaran semakin banyak unit militer yang maju.

"Di mana pun mereka berencana untuk memulai serangan, akan ada pertempuran dan orang-orang di desa-desa terdekat harus mengungsi ke tempat yang aman," ujarnya.

Thomas menyebut, ada sekitar 20 bentrokan antara militer dan pasukan koalisi Karenni pada bulan ini. Hal itu membuat sekitar 2.000 warga sipil mengungsi.

Di Kayin, pertempuran juga meningkat hamir setiap hari di kotapraja Kawkareik sejak 22 Agustus.

Bentrokan harian juga terjadi di kotapraja Tanai, negara bagian Kachin dari 21 hingga 24 Agustus.

Kekacauan di Myanmar terjadi setelah junta melakukan kudeta pada 1 Februari, dengan mengklaim kemenangan telak oleh Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) dalam pemilihan umum November 2020 adalah hasil dari kecurangan.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), menyebut, 1.016 orang meninggal dunia dan 5.937 ditangkap sejak kudeta.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya