Pasukan Taliban bersiap untuk melakukan pertempuran di distrik Ghorband di provinsi Parwan, Afghanistan/Net
Sejumlah insiden terkait tindakan keras kelompok Taliban sebelum dan sesudah mereka mengambil kendali atas Afghanistan, muncul dalam sebuah dokumen keamanan internal milik PBB.
Dalam laporannya pada Rabu (25/8), Reuters, yang melihat dokumen tersebut mengatakan isinya menggambarkan ancaman terselubung, penjarahan kantor-kantor PBB, dan perlakuan kurang menyenangkan terhadap staf mereka sejak 10 Agustus, tak lama sebelum Taliban berkuasa.
Salah satu insiden terbaru yang tercatat dalam dokumen tersebut adalah ketika kelompok Taliban menghentikan seorang anggota staf PBB di Afghanistan ketika ia mencoba mencapai bandara Kabul pada Minggu (22/8) waktu setempat. Mereka menggeledah kendaraannya.
Insiden lainnya terjadi pada Senin (23/8), tiga pria tak dikenal dilaporkan mengunjungi rumah anggota staf PBB lainnya yang sedang bekerja pada saat itu. Mereka bertanya kepada putranya di mana ayahnya, dan menuduhnya berbohong: “Kami tahu lokasinya dan apa yang dia lakukan.â€
Munculnya laporan tersebut telah merusak kepercayaan, paling tidak di antara mereka yang terkait dengan organisasi asing pada janji Taliban untuk salah satunya menghormati hak-hak rakyat sipil.
Hingga berita ini ditutunkan, tidak ada komentar dari Taliban atas munculnya daftar insiden PBB tersebut.
Namun, kelompok itu mengatakan akan menyelidiki pelanggaran yang dilaporkan, dan juga mendorong organisasi bantuan untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Dikatakan minggu ini bahwa bantuan itu akan diterima, selama itu tidak digunakan sebagai sarana pengaruh politik atas Afghanistan.
Juru bicara PBB Stephane Dujarric menambahkan, pihak berwenang di Kabul harus bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan staf dan tempat PBB. "Kami tetap berhubungan dengan mereka dalam hal itu," katanya.
PBB telah merelokasi sekitar sepertiga dari 300 staf asing yang dimilikinya di Afghanistan ke Kazakhstan. Mereka juga menekankan bahwa mereka ingin mempertahankan kehadirannya untuk membantu rakyat Afghanistan.
Tercatat ada sekitar 3.000 staf PBB Afghanistan masih berada di negara itu.
Ribuan orang telah meninggalkan Afghanistan sejak Taliban memasuki Kabul pada 15 Agustus, dengan penerbangan militer dan komersial dari ibukota di mana bandara telah menjadi tempat kekacauan yang mematikan.
Beberapa dari mereka mengaku takut akan munculnya penegakan brutal Taliban terhadap hukum Islam yang ketat saat terakhir kali mereka memerintah, ketika mereka melarang perempuan bekerja dan anak perempuan dari sekolah.
Lainnya, termasuk mereka yang bekerja di bidang advokasi dan hak asasi manusia, percaya bahwa mereka bisa menjadi target pembalasan setelah sejumlah orang tewas dalam dugaan serangan Taliban yang ditargetkan pada tahun lalu.