Berita

Diskusi RMOL World View bertajuk "Menyoal Janji Manis Taliban untuk HAM dan Perempuan" pada Senin, 23 Agustus 2021/RMOL

Dunia

Membongkar Kemunculan Taliban, Ketika Komunisme Membentuk Serangan Balik Populisme Islam

RABU, 25 AGUSTUS 2021 | 16:52 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kebangkitan Taliban setelah merebut ibukota Kabul pada 15 Agustus lalu memicu banyak pertanyaan mengenai masa depan Afghanistan. Dibentuk pada 1994, kelompok ini merupakan hasil fighting back atau perlawanan balik dari rezim komunis setelah invasi Uni Soviet ke Afghanistan yang berakhir pada 1989.

Pemerhati Islam, HAM, dan demokrasi Siti Ruhaini Dzuhayatin menuturkan, ada peristiwa di balik kemunculan Taliban dan kelompok-kelompok militan Islam di Afghanistan.

Dalam sejarahnya, Afghanistan seperti Indonesia, yang menjadi negara jajahan Eropa. Ketika Indonesia dijajah Belanda, Afghanistan dan negara-negara Asia Selatan dijajah oleh Inggris.


"Tapi di Afghanistan, setelah Inggris melepaskan daerah Asia Selatan, yang terjadi adalah Afghanistan kembali pada keemiran, kesultanan," kata Siti dalam diskusi RMOL World View bertajuk "Menyoal Janji Manis Taliban untuk HAM dan Perempuan" pada Senin (23/8).

Anggota Afghanistan-Indonesia Women Solidarity Network (AIWSN) ini menyebut, selama monarki hingga awal 1980-an, Afghanistan cukup berhasil melakukan modernisasi dengen memberi hak sekolah hingga hak publik kepada perempuan. Bahkan ketika itu juga Afghanistan melakukan modernisasi untuk pendidikan Islam.

Meski begitu, Siti juga mengatakan, memang ada jarak antara elit dan masyarakat biasa sehingga kerap memunculkan ketegangan-ketegangan. Namun situasi itu juga terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia.

"Kemudian muncul kelompok dan partai komunis Afghanistan yang kemudian mengambil alih pemerintahan dari monarki. Dari situ sebetulnya ketegangan terjadi," lanjut tenaga ahli Kantor Staf Presiden (KSP) ini.

Selama pemerintahan komunis di Afghanistan, muncul larangan agama yang sangat kuat. Para ulama mendapat perlakuan kejam, hingga pembunuhan. Itu memicu trauma yang luar biasa bagi masyarakat Afghanistan, yang memang memiliki basis keagamanan yang dipimpin para mullah.

"Kekejaman-kekejaman itulah yang sebetulnya mengentalkan satu bentuk sentimen populisme Islam, di bawah kepemimpinan para mullah dan syarif di daerah itu," jelasnya.

Pada akhirnya, perlawanan terhadap komunisme bukan hanya muncul dari sisi agama, namun juga politik. Akibatnya, sentimen-sentimen dari kelompok keagamaan itu menjadi akar-akar politik.

Situasi itu diperburuk lantaran Afghanistan tidak memiliki wadah organisasi Islam modern seperti halnya di Indonesia, layaknya Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, maupun Persis. Organisasi-organisasi itu sangat penting untuk mengelola etika kelompok etno-religious di ruang publik.

Dimotori oleh para pemimpin karismatik, akhirnya muncul perlawanan-perlawanan fanatis.

"Jadi fighting back-nya itu, karena tidak ada basis-basis institusi-institusi civil society yang modern, maka jadinya sentimen-sentimen keagamaan militan," pungkasnya.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya