Berita

Laut China Selatan/Net

Dunia

Aliansi Quad Soroti Potensi Serangan China ke Kabel Bawah Laut

SELASA, 24 AGUSTUS 2021 | 09:46 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Serangan yang menargetkan kabel serat optik bawah laut yang menjadi tulang punggung ekonomi global menjadi sorotan aliansi anti-China yang dibentuk Amerika Serikat (AS), Australia, India, dan Jepang.

Aliansi Quad telah membentuk Satuan Tugas Quad yang berisi 31 tokoh terkemuka dari empat negaram untuk mengidentifikasi ancaman-ancaman dari China.

Satgas itu diketuai oleh Direktur Pusat Keamanan Indo-Pasifik untuk Keamanan Amerika Baru, Lisa Curtis dan Direktur Eksekutif untuk India di Dana Moneter Internasional (IMF), Surjit Bhalla.


Dalam laporan 53 halaman yang terbit pada Senin (23/8), Satgas Quad menyoroti ancaman China terhadap keberlangsungan kabel bawah laut yang menjadi jalan bagi hampir 10 triliun dolar AS transaksi keuangan global setiap harinya.

Mereka mengatakan, Indo-Pasifik merupakan wilayah terpadat di dunia yang menyumbang 60 persen dari PDB global. Wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia ini juga menjadi rumah bagi jaringan kabel komunikasi di bawah laut.

Sebanyak dua pertiga dari seluruh kerusakan kabel bawah laut disebabkan oleh penangkapan ikan dan pelayaran.

Lewat laporannya, Satgas Quad mencatat bahwa China dikenal memiliki armada pengiriman terbesar di dunia. Pada 2020 saja, kapal keruk China telah "merusak” kabel bawah laut yang menghubungkan pulau-pulau di lepas pantai provinsi Taiwan.

Chunghwa Telecom Taiwan mengklaim bahwa mereka menghabiskan sekitar 2 juta dolar AS untuk memperbaiki kabel, selain menyewa kapal nelayan lokal untuk melakukan patroli harian untuk memastikan keamanan kabel.

Laporan lebih lanjut menyatakan bahwa meskipun perusahaan dari AS (SubCom), Jepang (NEC), dan Prancis (Alcatel Submarine Networks) adalah pemimpin saat ini dalam mengendalikan jaringan kabel serat optik bawah laut, Huawei Marine Networks China dengan cepat mengejar dalam beberapa tahun terakhir.

China bertujuan untuk menangkap 60 persen dari pasar komunikasi serat optik dunia pada tahun 2025. Tujuan itu secara langsung terkait dengan rencana globalnya untuk Jalur Sutra Digital, dan Belt and Road Initiatives.

Di sisi lain, Beijing juga telah menyetujui rencana untuk pengawasan jaringan di bawah laut di Laut China Timur dan Laut China Selatan.

"Meskipun sistem secara resmi dimaksudkan untuk memantau perubahan lingkungan, para ahli mengakui bahwa mereka (China) akan memiliki aplikasi pertahanan nasional, yang dapat mencakup pelacakan pergerakan kapal selam asing," kata laporan itu.

Dengan akses itu, Satgas mengatakan, China dapat menghubungkan sejumlah sensor "yang tidak ditentukan" di bawah laut yang terhubung melalui kabel optik ke fasilitas pemrosesan dan pemantauan pusat di Shanghai.

Satgas sendiri mendorong untuk menantang kebangkitan China dengan membangun pusat komando maritim untuk menangani ancaman keamanan maritim non-tradisional.

Laporan itu muncul menjelang latihan "Malabar-21" yang digelar Quad di lepas pantai Guam.

Angkatan laut India, Jepang, dan AS adalah peserta tetap dalam latihan Malabar. Sementara Angkatan Laut Australia baru bergabung kembali dengan pada tahun lalu, setelah melakukan debutnya pada tahun 2007. Pada saat itu, Perdana Menteri Australia saat itu Kevin Rudd menarik negaranya dari latihan setelah keberatan China.

Pemerintah India mengungkap, latihan Malabar akan menjadi operasi kompleks di darat, laut, dan udara. Latihan juga termasuk menembak senjata langsung, perang anti-permukaan, anti-udara, dan anti-kapal selam.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya