Berita

Presiden Vladimir Putin/Net

Dunia

Putin: Militan Taliban Bisa Menyamar sebagai Pengungsi, Ancaman bagi Dunia Internasional

SENIN, 23 AGUSTUS 2021 | 07:53 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Situasi kacau di Afghanistan setelah pendudukan Taliban telah menarik ribuan orang untuk berlomba-lomba keluar dari negara yang dilanda perang tersebut.

Bagi Presiden Rusia Vladimir Putin, itu merupakan tanda bahaya dan dapat menimbulkan ancaman serius bagi masyarakat internasional, terutama negara-negara di sekitar negara Asia Tengah, termasuk negaranya.

“Siapa pengungsi ini? Bagaimana kita bisa tahu? Mungkin ada ribuan, atau bahkan jutaan," kata Putin, seperti dikutip dari RT.


"Perbatasannya seribu kilometer - mereka akan menaiki segalanya, mobil, bahkan keledai, dan melarikan diri melintasi padang rumput," lanjutnya.

Putin mengatakan ini menimbulkan potensi ancaman keamanan dan merupakan perhatian langsung bagi warga negara Rusia.

Ia menegaskan tidak ingin ada orang-orang Taliban yang menyamar sebagai pengungsi muncul di negaranya. 

"Kami tidak ingin mengulangi apa yang terjadi di tahun 90-an dan pertengahan 2000-an. di mana kami mengalami kengerian yang sekarang terulang di wilayah Afghanistan," ujarnya mengutip serentetan serangan teroris yang didorong oleh separatisme di wilayah mayoritas Muslim di selatan negara itu, seperti Chechnya.

Putin melanjutkan dengan mengatakan bahwa salah satu alasan Rusia melakukan serangan terhadap Negara Islam di Suriah dan mengirim militernya kepada pemerintah Presiden Bashar Assad di Damaskus adalah untuk mencegah negara itu berubah menjadi seperti Afghanistan, dan menjadi tempat berkembang biak untuk terorisme.

Pemimpin Rusia itu juga mengecam rencana negara-negara barat, termasuk AS, untuk memukimkan kembali penerjemah Afghanistan, dan lainnya yang berisiko mendapat pembalasan Taliban, ke negara-negara di kawasan itu, seperti Uzbekistan.  

Menurut Putin, ini adalah permintaan yang memalukan dan menimbulkan ancaman keamanan bagi Rusia.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya