Berita

Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Marwan Cik Asan/Net

Politik

Pidato Jokowi Tidak Menjawab Kegelisahan Rakyat, Ini 4 Sikap Kader Demokrat

MINGGU, 22 AGUSTUS 2021 | 08:45 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo pada 16 Agustus kemarin dianggap sebatas ucapan yang menjadi harapan dan cita-cita. Tapi tidak menjawab apa yang menjadi pertanyaan dan kegelisahan rakyat.

Begitu simpulan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Marwan Cik Asan dalam sebuah video yang berdurasi 2 menit 19 detik yang diunggah oleh Kepala Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP Partai Demokrat Andi Arief di akun Twitternya @Andiarief__ pada Minggu (22/8) pukul 07.56.

"Kita mendengar presiden mengucapkan apa yang menjadi harapan dan cita-cita kita. Tapi Presiden tidak mengucapkan apa yang menjadi pertanyaan dan kegelisahan warganegara," ujar Marwan dalam video tersebut seperti dikutip Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (22/8).


Setelah pembukaan itu, Marwan kemudian menyampaikan empat pernyataan suara kader Partai Demokrat menanggapi pidato Presiden Jokowi beberapa hari lalu.

Pertama, Marwan meminta agar Presiden Jokowi untuk merombak kebijakan ekonomi dan mengurangi ketimpangan serta membantu rakyat.

Menurut Marwan, dalam pidato, Presiden mengucapkan sikap yang sesat. Yaitu, akan mengalihkan porsi anggaran konsumsi masyarakat dan perlindungan sosial kepada sektor strategis dan investasi.

"Padahal selama ini, dari 55 persen anggaran untuk masyarakat tidak sepenuhnya terdistribusi ke bawah. Banyak penyertaan modal negara di perbankan yang terkonsentrasi untuk membiayai investasi, bukan untuk kredit ke usaha masyarakat," jelas Marwan.

Hal tersebut pun dianggap berbahaya karena tidak belajar dari malapetaka kegagalan masa pandemi Covid-19.

"Lantas dari mana kita bisa percaya target pertumbuhan 5,0 hingga 5,5 persen tahun depan?" heran Marwan.

Kedua, sambung Marwan, adalah Presiden harus mengendalikan investasi ekstraktif dan mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru. Karena, hingga saat ini pemerintah masih terus mengobral investasi industri dan konsesi pertambangan dan perkebunan.

"Yang kita tau, sangat dekat dengan kepentingan oligarki. Padahal sektor itu yang punya daya rusak tinggi terhadap lingkungan dan masa depan. Lantas bagaimana kita bisa percaya kepada Presiden yang menyebut ini green economy?" kata Marwan.

Kemudian yang ketiga, Presiden harus menyehatkan persaingan dan menumbuhkan swasta.

"Bagaimana kita bicara pertumbuhan pengusaha swasta, sementara tiap hari kita melihat kematian mereka dengan dominasi BUMN. Sementara kita tahu, BUMN kita begitu boros dan tidak efektif. Dan tentu saja, menjadi tempat manis untuk Bancakan," terang Marwan.

Terakhir adalah Presiden harus segera mengakhiri defisit APBN lebih dari tiga persen. Cara Pemerintah yang ugal-ugalan menetapkan defisit anggaran dan membuat utang untuk menutupinya harus segera di akhiri.

Jika pemerintah serius menegakkan efisiensi dan menutup kebocoran, APBN seharusnya masih bisa dikendalikan.

"Tahun 2022 adalah tahun perbatasan. Pemerintah harus berubah, atau akan digilas gelombang perubahan. Salam dari kami, kader Partai Demokrat," sambungnya menutup.

Populer

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cek Siaran Langsung Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Selasa, 22 September 2026 | 02:21

DPRD DKI Apresiasi Kebijakan Penutupan TPS Ilegal

Selasa, 22 September 2026 | 02:01

Indonesia Rebut 7 Medali di Aichi-Nagoya

Selasa, 22 September 2026 | 01:42

Ditjen AHU Perkuat Pengawasan Korporasi

Selasa, 22 September 2026 | 01:23

Wamendagri Ribka Haluk Berduka Tiga ASN Jadi Korban KKB

Selasa, 22 September 2026 | 01:01

Hasil Audit BPK Ditunggu dalam Kasus Toba Pulp Lestari

Selasa, 22 September 2026 | 00:37

Tiga Bulan Nganggur, Karyawan De Club Arjuna Geruduk Balai Kota

Selasa, 22 September 2026 | 00:26

Kejagung Periksa Dirut PT Migas Kota Bekasi terkait Dugaan Korupsi KSO

Selasa, 22 September 2026 | 00:01

80 Negara Siap Hadapi Wajib Sertifikasi Halal

Senin, 21 September 2026 | 23:47

KPK Harus Periksa Nusron Wahid demi Kepastian Hukum

Senin, 21 September 2026 | 23:31

Selengkapnya