Berita

Wartawan senior Teguh Santosa (baris atas, kedua dari kiri) dalam diskusi JMSI Aceh pada Jumat, 20 Agustus 2021/Repro

Dunia

Ini Empat Kunci Keberhasilan Blitzkrieg Taliban Versi Teguh Santosa

JUMAT, 20 AGUSTUS 2021 | 21:07 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kemenangan Taliban dalam menguasai Afghanistan tidak berlangsung begitu saja. Di balik blitzkrieg atau serangan kilatnya, Taliban dengan cerdik berhasil memanfaatkan momentum di dalam negeri dan situasi global.

Begitu kiranya yang disampaikan wartawan senior Teguh Santosa ketika menjadi narasumber dalam diskusi yang digelar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Aceh bertajuk "Konstelasi Global Pasca Kemenangan Taliban di Afghanistan" pada Jumat siang (20/8).

Mantan Ketua bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu menguraikan, setidaknya ada empat faktor yang menjadi penentu kemenangan Taliban. Dari empat faktor itu, dua di antaranya adalah faktor domestik dan dua lainnya merupakan situasi di luar negeri.


String of Pearls

Jatuhnya Kabul pada Minggu (15/8) ke tangan Taliban, dinilai oleh Teguh yang juga pengajar matakuliah politik Asia Timur di FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, sebagai salah satu ekspresi dari rivalitas Amerika Serikat dan Republik Rakyat China. Dalam hal ini, China berusaha mendapatkan pengaruh di kawasan Asia Tengah dan Selatan dengan merangkul negara-negara yang berada di sekitar India yang untuk begitu lama menjadi kekuatan dominan di kawasan.

Upaya ini dilakukan China melalui strategi string of pearls atau untaian permata. Istilah ini merujuk pada manuver China membangun jaringan dengan negara-negara lain dan mengalienasi India.

Sebagai contoh, dosen hubungan internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menggarisbawahi kerjasama China dan Pakistan dalam China-Pakistan Economic Corridor (CPEC), sebagai bagian dari jalur utama proyek Belt and Road Initiatives (BRI).

Afghanistan yang berada di antara China dan Pakistan, menurut Teguh, dengan sendirinya menjadi sangat strategis untuk dirangkul. Dan faktanya, petinggi Taliban bertemu dengan pihak China di akhir bulan Juli lalu.

Fragmentasi Elit

Teguh juga menyoroti fragmentasi elit di Afghanistan yang diperburuk dengan rapuhnya konsolidasi demokrasi pasca-pemerintahan Hamid Karzai.

Khususnya dalam pilpres di bulan September 2019, hanya 1,2 juta orang dari sekitar 10 juta pemilih yang memberikan suara. Sementara ada 18 calon presiden ketika itu.

Ashraf Ghani yang dikenal sebagai tokoh independen baru berhasil memperoleh kemenangan tipis dari lawan politiknya sejak pilpres 2014, Abdullah Abdullah, di babak kedua. Ashraf Ghani hanya mengantongi 50,6 persen dari 1,2 juta pemilik suara yang memilih.

Adapun Abdullah Abdullah yang dikalahkan Ashraf Ghani di arena pilpres 2019 adalah tokoh Partai Koalisi Nasional yang juga pernah menjabat sebagai wakil presiden di era Hamid Karzai (2009-2014).

Ini bukan kekalahan pertama Abdullah Abdullah. Dalam pilpres lima tahun sebelumnya dia juga dikalahkan Ashraf Ghani dengan kemenangan yang kontroversial. Sebagai kompromi politik ketika itu, Abdullah Abdullah mendapatkan posisi Kepala Eksekutif.

Kepemimpinan Nasional Tidak Berakar

Sosok Ashraf Ghani dinilai tidak memiliki akar pondasi yang kuat di akar rumput dan di kalangan partai-partai politik. Sebelum kembali ke Afghanistan di tahun 2002 untuk menjadi Menteri Keuangan di era Hamid Karzai, Ashraf Ghani adalah dosen di John Hopkins University.

Dia juga disebutkan pernah bekerja untuk Bank Dunia. Latar belakangnya ini membuat banyak kalangan yang menilai dirinya sebagai "agen Amerika", dan tidak heran dia selalu lolos dari lubang jarum di dua pilpres yang diikutinya, 2014 dan 2019.

Di saat bersamaan, harus diakui bahwa eksistensi partai politik di Afghanistan masih memiliki kaitan erat dengan relasi kesukuan. Ashraf Ghani dipandang tidak memiliki hubungan yang erat dengan partai politik sekaligus akar rumput.

"Ketika seseorang tidak dapat dukungan dari parpol, maka ia tidak dapat dukungan dari mayoritas suku di parpol itu. Inilah persoalan Ashraf Ghani," tambah Teguh.

Rencana AS Menarik Pasukan


Keputusan AS untuk menarik pasukan menjadi salah satu kunci keberhasilan Taliban menguasai Afghanistan. Rencana menarik pasukan dari Afghanistan merupakan salah satu janji politik Joe Biden dalam masa kampanye pilpres yang lalu. Dari perspektif ini Teguh mengatakan, penarikan mundur pasukan AS itu bukan sebuah kekalahan.

"Seharusnya perang melawan Al Qaeda sudah selesai setelah Osama bin Laden tewas di era pemerintahan Barack Obama," kata Teguh.

Apa yang terjadi di Afghanistan setelah AS menarik diri adalah urusan domestik Afghanistan. Ketika Taliban semakin intensif menekan pemerintahan Ashraf Ghani, AS memutuskan tetap pada rencana mereka meninggalkan negeri yang sudah mereka lindungi selama 20 tahun itu.

Keputusan AS inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh Taliban.

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

RH Singgung Perang Bubat di Balik Sowan Eggi–Damai ke Jokowi

Jumat, 09 Januari 2026 | 20:51

UPDATE

Trump Ancam Kenakan Tarif 25 Persen ke Delapan Negara Eropa

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:48

Arsitektur Hukum Pilkada Sudah Semakin Terlembaga

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:40

Serpihan Badan Pesawat ATR 42-500 Berhasil Ditemukan

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:08

Rekonstruksi Kontrol Yudisial atas Diskresi Penegak Hukum

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:00

KAI Commuter Rekayasa Pola Operasi Imbas Genangan di Kampung Bandan

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:51

Seluruh Sumber Daya Harus Dikerahkan Cari Pesawat ATR yang Hilang Kontak

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:45

Tujuh Kali Menang Pilpres, Museveni Lanjutkan Dominasi Kekuasaan di Uganda

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:20

Belasan RT dan Ruas Jalan di Jakarta Terendam Banjir

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:13

Ongkos Pilkada Langsung Tak Sebesar MBG

Minggu, 18 Januari 2026 | 07:50

Delik Hukum Pandji Tak Perlu Dicari-cari

Minggu, 18 Januari 2026 | 07:45

Selengkapnya