Berita

Bahrul Amal/RMOL

Publika

Di Bawah Bayangan Tiga Bendera

JUMAT, 20 AGUSTUS 2021 | 14:04 WIB

INDONESIA berduka. Itulah tagar di berbagai media sosial yang sempat trending beberapa minggu terakhir. Pasalnya di hampir setiap gang rumah, semenjak awal Bulan Juli, konon berkibaran bendera kuning.

Bendera kuning, dalam tradisi masyarakat Indonesia, artinya penanda bahwa telah ada seseorang yang wafat. Penyebab kematiannya apa tidak perlu diketahui. Yang perlu diingat adalah jika bendera kuning berkibar berarti pertanda bahwa ada keluarga yang bersedih sebab kehilangan salah satu anggotanya.

Peristiwa banyaknya kematian tersebut tentu berkaitan dengan fenomena yang saat ini tengah marak. Fenomena dimana virus corona dengan dampak penularan yang lebih gawat tengah masuk kembali Indonesia. Indonesia, dalam bahasa global, tengah mengalami the second wave atau "tsunami corona kedua".


Belum usai duka tersebut kemudian muncul narasi baru, narasi "Indonesia menyerah".

Indonesia menyerah adalah respons daripada imbas kebijakan yang diambil Pemerintah untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. Korban kebijakan tentu sama banyaknya dengan korban akibat covid itu sendiri. Pekerja seni, pedagang, tukang ngobeng kegiatan yang butuh keramaian, dan lainnya adalah sebagian contoh yang terdampak.

"Menyerah" di sini bukan berarti kalah. Menyerah disini adalah ungkapan perasaan yang menggambarkan putusnya harapan. Putus harapan sebab tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyambung hidup.

Sikap "menyerah" tersebut, menurut berita beredar, diekspresikan dengan adanya pengibaran bendera putih. Pihak yang mengibarkan bendera tersebut utamanya adalah para pedagang.

Bendera putih sebagai tanda menyerah menurut sejarawan Romawi, Cornelius Tacticus, telah mafhum disepakati sejak 109M. Di era modern, bendera putih kemudian dirumuskan pula dalam Konvensi Den Haag tahun 1899-1907.

Salah satu rumusan yang dimaksud adalah siapapun yang mengabarkan bendera putih maka dia tidak boleh ditembak ataupun menembak.

Bendera kuning dan bendera putih ini kemudian beradu di jalanan.

Berselang beberapa saat, di tengah-tengah berkibarnya bendera kuning dan putih, muncul narasi baru. Narasi optimisme. "Indonesia bisa".

Narasi Indonesia Optimis seolah ingin menghidupkan harapan di tengah duka dan menyerah. Pemicunya adalah tim atlet pebulutangkis wanita asal Indonesia, yakni Greysia Polii dan Apriani Rahayu. Keduanya diketahui berhasil membawa harum nama Indonesia dengan memperoleh medali emas pada Gelaran Olimpiade Tokyo.

Sebagai pemenang, sudah menjadi kebiasannya, bendera akan dikibarkan. Dengan bangga Bendera Merah Putih, Bendera Nasional Indonesia, berkibar membawahi Bendera China dan Bendera Korea.

Optimisme kemenangan Greysia Polii dan Apriani Rahayu ini lantas menyebar ke seluruh Nusantara. Optimisme ini bahkan dikaitkan dengan semangat perjuangan untuk keluar dari "Negara Ketegori Hitam" dalam penularan angka Covid. Usulan untuk mengibarkan Bendera Merah Putih oleh masyarakat termasuk bagian dari penanda optimisme itu.

Pada persoalan genting begini benar kata Mandela. Nelson Mandela, Presiden Afrika Selatan yang kesohor itu, mengatakan bahwa "olahraga memiliki kekuatan menginspirasi dan menyatukan bangsa dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh yang lainnya".

Memilih Bendera

Pilihan kemudian ada pada kita. Kita yang memilih dari tiga bendera yang ditawarkan itu hendak mengibarkan yang mana.

Melawan keadaan yang tidak pasti ini tentu kita lebih baik memilih optimis. Artinya adalah kibarkan Bendera Merah Putih.

Bendera yang menandai semangat persatuan untuk mengakhiri mata rantai penularan covid dan mendorong pemulihan kembali ekonomi warga. Hal itu agar berhasil tentu perlu perangkat pendukung lain, yakni Gotong Royong.

Bahrul Amal

Penulis adalah Pengamat hukum Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia)

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya