Berita

Surat kabar yang memuat headline jantuhnya Kabul ke tangan Taliban/AFP

Dunia

Fokus Jalin Kontak Damai dengan Taliban, Rusia Tidak akan Kerahkan Pasukan ke Afghanistan

KAMIS, 19 AGUSTUS 2021 | 21:39 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Rusia tidak berniat mengerahkan pasukan ke Afghanistan atau meningkatkan kehadiran militernya di kawasan itu sebagai tanggapan atas pengambilalihan negara oleh Taliban akhir pekan lalu (Minggu, 15/8). Sebaliknya, Rusia akan berfokus pada pembukaan saluran diplomatik dengan Taliban.

Hal itu diutarakan oleh Wakil kepala Kementerian Luar Negeri Rusia Alexander Pankin dalam pernyataan pers pada Kamis (19/8). Dia menjelaskan, pihaknya juga tidak mempertimbangkan untuk meningkatkan penempatan pasukan melalui kesepakatan militernya dengan negara-negara tetangga Afghanistan, seperti Tajikistan.

Tajikistan yang berbatasan dengan Afghanistan adalah anggota dari Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) yang didukung Rusia. Organisasi itu mengikat bekas Republik Soviet untuk saling membela. Namun Pankin menegaskan, saat ini tidak perlu negara anggota organisasi itu untuk unjuk kekuatan dalam menanggapi potensi ketidakstabilan di Asia Tengah.


Namun, kata Pankin bukan berarti Rusia tidak mempersiapkan langkah-langkah radikal jika dibutuhkan.

Hal senada juga diungkapkan oleh pejabat top Rusia lainnya, yakni Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikolai Patrushev dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Izvestiya Moskow pada hari yang sama. Dia menegaskan, Rusia tidak akan mengerahkan pasukan ke Afghanistan.

"(Sebaliknya) Rusia akan bekerja dengan mitra dan terutama menekankan upaya politik dan diplomatik… (untuk) menyelesaikan masalah secara damai," tegasnya.

Penegasan itu dibuat oleh para pejabat tinggi Rusia usai presiden kelompok Diaspora Afghanistan Rusia, Gulam Mohammad Jalal mengatakan kepada kantor berita Interfax pada hari Rabu (18/8) bahwa sejumlah besar orang di Afghanistan ingin melarikan diri ke Moskow.

“Situasi saat ini di Afghanistan rumit. Ada beberapa orang yang ingin datang ke Rusia, tetapi karena tidak ada kemampuan teknis, penerbangan sipil di bandara Kabul ditangguhkan, kami belum dapat menanggapi seruan dan permintaan ini," terangnya.

Taliban menduduki Kabul dan mendepak pemerintahn Presiden Asgraf Ghani akhir pekan ini. Mereka memperoleh keuntungan teritorial yang cepat di seluruh negeri ketika Amerika Serikat menarik pasukannya dari Afghanistan.

Ghani sendiri saat ini melarikan diri ke Uni Emirat Arab. Namun, dia sekarang mengklaim berpartisipasi dalam pembicaraan yang dapat membuatnya kembali sebagai bagian dari pemerintah persatuan yang inklusif.

Sementara itu, utusan khusus Presiden Rusia Vladimir Putin untuk Afghanistan, Zamir Kabulov, telah mengisyaratkan bahwa Moskow dapat bersiap untuk mengakui Taliban sebagai pemerintah negara yang sah.

“Jika kita membandingkan betapa mudahnya bernegosiasi sebagai kolega dan mitra, maka bagi saya Taliban tampaknya jauh lebih siap untuk negosiasi daripada pemerintah boneka Kabul (yang didukung Amerika Serikat)," ujarnya, seperti dimuat Russia Today.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Utang dan Delusi Pembangunan

Rabu, 16 September 2026 | 05:52

Tak Ulangi Kesalahan Purbaya, Suahasil Diharapkan Terus Gelorakan Ekonomi Konstitusi

Rabu, 16 September 2026 | 05:22

Pengukuhan Pengurus PERKAPI Bakal Dihadiri Menhum dan Ketua Komisi XIII DPR

Rabu, 16 September 2026 | 04:44

Fungsi KDKMP yang ‘Disabotase’

Rabu, 16 September 2026 | 04:24

Menhan Sjafrie Apresiasi Bantuan Jepang dalam Atasi Karhutla

Rabu, 16 September 2026 | 03:57

Politikus Senior PKS: PPHN Jangan jadi RPJPN Kedua

Rabu, 16 September 2026 | 03:30

38 Aset Senilai Rp846 Miliar Disita Kejagung dalam Kasus Febrie

Rabu, 16 September 2026 | 03:03

Kegiatan Belajar di SMPN 16 Medan Pulih 100 Persen Usai Dilanda Banjir

Rabu, 16 September 2026 | 02:48

WNA Malaysia Laporkan Pamen Polri Terkait Kasus Investasi Emas ke Bareskrim

Rabu, 16 September 2026 | 02:24

Kemensos Apresiasi Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Sulsel Mulai Beroperasi

Rabu, 16 September 2026 | 01:59

Selengkapnya