Berita

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Arif Satria/Repro

Politik

Rasionalitas Ekonomi dan Ekologi Harus Sejajar dalam Mengatasi Krisis Lingkungan

KAMIS, 19 AGUSTUS 2021 | 18:33 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Indonesia saat ini dihadapkan pada krisis lingkungan yang harus segera diatasi. Menurut Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Arif Satria, ada beberapa akar masalah dari krisis sumber daya alam dan lingkungan hidup.

Akar masalah tersebut di antaranya etika lingkungan yang antroposentrik, peningkatan populasi penduduk, akumulasi kekayaan, kesenjangan dan kemiskinan, dan kegagalan kebijakan pembangunan (policy failures).

Selain itu juga terjadinya korupsi, kolusi, nepotisme, serta lemahnya penegakan hukum, kegagalan pasar (market failure) atau tidak adanya mekanisme pasar (no market mechanism) pada beberapa SDA tertentu.


"Kalau ada krisis tata kelola, berarti ada krisis pengaturan. Pengaturan itu bukan satu aktor saja, namun bagaimana (agar) perkembangan pasar, negara, dan masyarakat bisa berkembang dengan baik. Artinya pengaturan antara pasar, negara, dan masyarakat," kata Prof Arif dlam webinar bertema 'Politik Pengelolaan SDA: Mencari Titik Temu Kepentingan Ekologi dan Politik', Rabu malam (18/8).

Untuk itu, solusi yang harus dilakukan adalah menyeimbangkan rasionalitas ekonomi dan rasionalitas ekologi.

"Penguatan rasionalitas ekonomi dan ekologi harus disejajarkan, antara lain melalui ekologi modern berbasis teknologi. Sebab kalau pendekatan ekonomi lebih dominan, maka terjadi kerusakan lingkungan. Kalau pendekatan ekologi lebih dominan, tidak ada pertumbuhan ekonomi," jelasnya.

Arif mencontohkan, pengembangan teknologi ramah lingkungan bisa dilakukan seperti dengan mengonversi limbah asap menjadi cairan pupuk dan lainnya.

"Jadi ekonomi tumbuh, tapi tidak merusak lingkungan. Teknologi ramah lingkungan  sebagai solusi. Selain itu juga gerakan sosial, yang membangun lifestyle ramah lingkungan, car free day," paparnya.

Hadir dalam acara ini, Direktur Program AT Institute, Dr Agustian Prasetya; Direktur Eksekutif AT Institute, Dr. Puji Wahono; serta Kepala SKPB, Dr Alfan Alfian.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Penumpang Kereta Bandara Tembus 6,2 Juta Pelanggan Hingga Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:20

Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:15

Prabowo Dorong WNI Masuk Pasar Kerja Teknologi Jerman

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:11

Warna-warni Kendaraan Hias Meriahkan Perayaan 1 Muharam

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:10

Oktasari: Kritik Boleh, Tapi Jangan Abaikan Kerja Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:46

Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Belum Lapor LHKPN 2025, Mendes Yandri Punya Harta Rp20,95 Miliar Saat Awal Menjabat

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Israel Masih Tak Terima Rencana Damai Iran-AS

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:12

Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:52

Universitas Binawan Buka Akses Penyetaraan Kualifikasi Nakes Indonesia di Uni Eropa

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:44

Selengkapnya