Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Australia Naikkan Denda Bagi Pelanggar Lockdown, dari Rp 10 Juta Jadi Rp 53 Juta

MINGGU, 15 AGUSTUS 2021 | 07:28 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Australia memperketat aturan lockdown atau penguncian di New South Wales (NSW) dengan menaikkan denda bagi para pelanggarnya hingga lima kali lipat.

Perdana Menteri NSW Gladys Berejiklian mengumumkan, denda bagi para pelanggar penguncian naik menjadi 5.000 dolar Australia atau Rp 53 juta (Rp 10.500/dolar Australia) dari sebelumnya 1.000 dolar Australia.

Langkah itu diambil lantaran Australia, mengalami lonjakan kasus Covid-19 sehingga sulit untuk tidak mempertahankan aturan penguncian yang sudah berlangsung selama sembilan pekan di Sydney.


"Kami harus menerima bahwa ini adalah situasi terburuk yang dialami New South Wales sejak hari pertama. Dan juga disesalkan, situasi terburuk yang pernah dialami Australia," ujarnya dalam konferensi pers pada Sabtu (14/8), seperti dikutip The Independent.

Pada Sabtu (14/8), Australia melaporkan rekor 466 kasus Covid-19, melampaui infeksi harian tertinggi sehari sebelumnya sebanyak 390 kasus. Angka kematian juga bertambah empat kasus, menjadi 42.

Awalnya, penguncian di Sydney akan berakhir pada 28 Agustus. Tetapi pihak berwenang mengatakan, pelonggaran hanya dapat dilakukan ketika ada cukup banyak orang yang telah divaksinasi dan infeksi harian turun.

"Kami akan melewati ini, tetapi September dan Oktober akan sangat sulit. Ini benar-benar perang, dan kami tahu kami telah berperang selama beberapa waktu, tetapi tidak pernah sampai sejauh ini," tambah Berejiklian.

Sebagai upaya menengakkan aturan penguncian, ratusan personel pertahanan akan dikerahkan ke Sydney.

Selain pelanggar penguncian, denda juga akan diberlakukan bagi orang-orang yang memasuki daerah pedesaan tanpa izin resmi. Denda baru mencapai 3.000 dolar AS>

Izin untuk memasuki daerah pedesaan hanya akan diberikan untuk alasan tertentu termasuk pekerjaan resmi, inspeksi properti atau perbaikan pekerjaan mendesak di rumah kedua.

"Denda itu adalah beberapa denda terbesar yang pernah saya lihat dan kami akan mengeluarkannya mulai hari ini. Orang-orang yang telah memenuhi perintah, membawa liburan keluarga ke tempat lain, itu sudah berakhir," kata komisaris polisi New South Wales Mick Fuller.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya