Berita

Virus Marburg diidentifikasi berasal dari kelelawar/Net

Dunia

Mematikan Seperti Ebola, Menyebar Seperti Covid-19, Apa itu Virus Marburg?

SELASA, 10 AGUSTUS 2021 | 14:47 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Dunia sekali lagi dikejutkan dengan kemunculan virus menular lainnya. Guinea telah mencatat kasus pertama infeksi virus Marburg yang mematikan di Afrika Barat.

Virus Marburg dikatakan cukup mematikan seperti Ebola, dan menyebar dari hewan ke manusia maupun antarmanusia seperti Covid-19.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut tingkat kematian virus Marburg hingga 88 persen. Bahkan kasus pertama yang dikonfirmasi di Guinea dilaporkan telah meninggal pada 2 Agustus.


“Potensi virus Marburg untuk menyebar jauh dan luas berarti kita harus menghentikannya,” kata Direktur Regional WHO untuk Afrika, Dr Matshidiso Moeti.

WHO mengatakan pihaknya menganggap ancaman virus Marburg "tinggi" di tingkat nasional dan regional, tetapi "rendah" secara global.

Sejarah Wabah Marburg

Wabah Marburg pertama kali terjadi di Jerman dan Yugoslavia, setelah monyet hijau yang terinfeksi diimpor ke negara-negara tersebut. Ada tingkat kematian 23 persen di antara 31 pasien.

Epidemi terburuk terjadi di Angola pada tahun 2005, dengan 252 infeksi dan tingkat kematian mencapai 90 persen. Epidemi ini tampaknya menyebar melalui penggunaan kembali peralatan transfusi yang terkontaminasi di bangsal anak.

Seperti halnya Ebola, penularan Marburg dapat terjadi pada pemakaman dan penanganan jenazah. Ada satu laporan penularan seksual.

Pada 2009, muncul dua kasus di antara wisatawan yang mengunjungi Uganda. Kasus pertama adalah seorang wanita Belanda yang meninggal setelah “ditabrak” kelelawar. Sementara yang lainnya adalah seorang wanita Colorado yang menderita penyakit demam dan menjadi sakit kritis setelah melakukan perjalanan ke Uganda. Keduanya diketahui berada di gua yang sama ketika berada di Uganda.

Setidaknya ada 12 wabah besar Marburg sejak diidentifikasi pertama kali di laboratorium kota Marburg, Jerman pada 1967. Sebagian besar wabah ini berada di Afrika bagian selatan dan timur.

Virus Marburg biasanya dikaitkan dengan paparan gua atau tambang yang menampung koloni kelelawar Rousettus.

Setelah menginfeksi manusia, virus menyebar melalui kontak dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, atau dengan permukaan dan bahan yang terkontaminasi.

Namun hingga saat ini wabah Marburg tampak lebih terkendali daripada Ebola.

Gejala Marburg

Infeksi virus Marburg digambarkan sebagai demam berdarah yang parah. Gejalanya termasuk sakit kepala, muntah darah, nyeri otot dan pendarahan melalui berbagai lubang.

Banyak pasien mengalami tanda-tanda perdarahan parah dalam waktu tujuh hari. Tingkat kematian kasus bervariasi dari 24 persen hingga 88 persen, tergantung pada jenis virus dan manajemen kasus.

Sejauh ini tidak ada obat atau antivirus atau vaksin yang efektif untuk menangani infeksi Marburg.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Ini Alasan Nusron Wahid Tak Nongol di DPR Usai Anak Buah Dicokok KPK

Rabu, 16 September 2026 | 16:28

Prabowo Sampaikan Duka Cita atas Kecelakaan KM Virgo Transport 8

Rabu, 16 September 2026 | 16:17

Panja RUU Pemilu Dipastikan Dibentuk Tahun Ini

Rabu, 16 September 2026 | 16:15

Perlu Diusut Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi di Muara Baru

Rabu, 16 September 2026 | 16:11

PT 5 Persen Bikin Partai Nonparlemen Makin Berat ke Senayan

Rabu, 16 September 2026 | 16:10

Prabowo Resmikan LRT Kelapa Gading-Manggarai, Danantara Diminta Ikut Bantu

Rabu, 16 September 2026 | 16:09

Bapemperda DPRD DKI Dorong Penguatan Perlindungan Anak di Ruang Digital

Rabu, 16 September 2026 | 16:00

OPM Bunuh Sopir Angkutan Masyarakat, Mobil Dibakar

Rabu, 16 September 2026 | 15:47

Kolaborasi Lintas Lembaga Terus Diperkuat Meski Karhutla Menurun

Rabu, 16 September 2026 | 15:44

KPK Periksa 3 ASN BPK terkait Dugaan Suap Pengubahan Audit Pemkab Muara Enim

Rabu, 16 September 2026 | 15:32

Selengkapnya