Berita

Mutaz Essa Barshim dari Qatar (jaket merah) dan Gianmarco Tamberi dari Italia (jaket putih) saat sama-sama menerima medali emas Olimpiade Tokyo/Net

Publika

Sungguh, Ini Indah…

RABU, 04 AGUSTUS 2021 | 09:46 WIB | OLEH: ASRO KAMAL ROKAN

HEROIK dan membanggakan. Mutaz Essa Barshim dari Qatar dan Gianmarco Tamberi dari Italia, sama-sama bersaing ketat untuk mendapatkan medali emas Olimpiade 2020, Ahad (1/8/20) di Tokyo.

Keduanya telah melewati persaingan ketat untuk meraih yang terbaik, tidak terkalahkan. Perjuangan hebat dan tekanan mental, mengantarkan atlet berbeda negara dan ras itu, berhadapan di final.

Keduanya sudah saling kenal, bahkan bersahabat. Tapi ini untuk kehormatan negara, kebanggaan, sejarah, predikat terbaik: Citius, Altius, Fortius  -- lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat. Jadi, lupakan persahabatan. Kalah atau menang tidak akan mengubah persahabatan. Bukankah ini normal dalam olah raga?


Tapi tidak bagi Barshim, lelaki yang berkulit sedikit hitam ini.

Kisahnya begini: Di babak final, Barshim dan Tamberi mengerahkan kemampuan maksimalnya untuk meraih emas, pengakuan tertinggi prestasi dunia. Mereka lolos ke final setelah berhasil melompat mistar 2,37 meter.

Untuk mendapatkan juara, wasit memberikan tiga kesempatan bagi keduanya. Suasana tegang dan penuh tekanan. Barshim dan Tamberi berupaya melampaui mistar, yang kini dinaikkan menjadi 2,39 meter -- rekor tertinggi dalam Olimpiade. Tiga kali melompat, tiga kali mereka gagal.

Tapi juara harus ada. Medali emas harus dikalungkan satu di antara mereka. Wasit memberikan lagi satu kesempatan. Suasana di stadion semakin tegang. Dan, tiba-tiba Tamberi mundur di saat menentukan ini. Menurut berbagai laporan media, Tamberi mengalami cidera di bagian kakinya.

Cidera ini memaksa Tamberi menghapus mimpinya meraih emas. Meski, sejak gagal ikut Olimpiade 2016 di Rio de Jenairo, Brazil, karena cidera, pemuda Italia ini berlatih keras meraih mimpinya. Medali emas Tokyo ini, adalah peluang besar baginya. Ini terpaksa dilepaskannya.

Semua berubah. Barshim dan Tamberi menghadap wasit. Di saat itulah, tiba-tiba Barshim -- yang hampir pasti meraih medali emas -- menyampaikan pertanyaan mengejutkan kepada wasit, “Apakah emas dapat dibagi di antara kami berdua?"

Tamberi memeluk Barshim, saat wasit memikirkan jawaban. Mungkin ungkapan haru, terima kasih, atau sebagai ucapan selamat pada Barshim.

Dan, momen dramatis itu terjadi. Wasit memberi jawaban. "Ya, maka emas akan dibagi untuk kalian berdua”.

Mendapat jawaban itu, Tamberi dan Barshim berpelukan, diiringi sorak serta tepuk tangan penonton. Tidak hanya itu. Tamberi melampiaskan kegembiraannya dengan berguling di lintasan lapangan.

Barshim juga terlihat sangat gembira melihat kegembiraan sahabat dan sekaligus lawan bertandingnya. Dia dipeluk offisial Qatar, isyarat mendukung keputusan Barshim yang luar biasa dan membanggakan itu. Barshim menyeka matanya.

Kebahagiaan juga terlihat di kubu tim Qatar dan Italia. Penonton bersorak. Ada yang menitikkan air mata, merayakan keindahan ini. Merayakan kemuliaan, kemenangan hati nurani.

Barshim dan Tamberi memang gagal melompati mistar 2,39 meter. Tetapi mereka berhasil melompaui mistar yang jauh lebih tinggi, bahkan sangat tinggi -- melepaskan diri dari keharusan untuk menang dan terpandang. Membuang ego, perbedaan warna kulit, membebaskan sekat antara mereka dan kita. Sungguh ini indah.

Dunia menyambutnya sebagai kemuliaan, menyatukan perbedaan, yang sering sekali dipicu persoalan ras, politik, ekonomi, dan ketidakadilan.

Barshim dan Tamberi telah melompati mistar tertinggi kehidupan. Mereka bersama gembira meraih kemenangan, dan kemuliaan yang menjadi hak manusia -- kebersamaan ini langka, mewah, dan terasa semakin menjauh dari kita.

Penulis adalah anggota Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya