Berita

Wakil Tetap RI di Wina, Dutabesar Darmansjah Djumala dalam diskusi RMOL World View pada Senin, 2 Agustus 2021/RMOL

Dunia

Renegosiasi JCPOA: Ketika Iran di Atas Angin dan AS Kewalahan

SELASA, 03 AGUSTUS 2021 | 08:58 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Proses negosiasi untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), di Wina, Austria sejak April berlangsung dengan sangat alot.

JCPOA merupakan perjanjian mengenai program nuklir Iran yang disepakati oleh Teheran bersama lima negara anggota Dewan Keamanan PBB ditambah Jerman di Wina pada 14 Juli 2015. Berdasarkan perjanjian ini, Iran akan mengurangi program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi.

Namun pada 2018, Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Donald Trump, menarik diri dari JCPOA, dan memberlakukan lebih banyak sanksi dengan kebijakan "tekanan maksimum" pada Iran.


Keluarnya AS dari JCPOA dinilai banyak pihak sebagai sebuah kesalahan.

Wakil Tetap RI di Wina, Dutabesar Darmansjah Djumala mengatakan, langkah AS justru telah meningkatkan ruang manuver dan daya tawar Iran. Iran menjadi merasa tidak terikat lagi dengan JCPOA, yang mendorongnya untuk meningkatkan pengayaan uranium jauh melebihi kesepakatan.
"Dengan keluarnya AS dari JCPOA, mereka (Iran) ada di atas angin," kata Ketua Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) periode 2017-2018 ini ketika berbicara dalam program diskusi RMOL World View pada Senin (2/8).

Dubes Djumala mengungkap, hingga saat ini Iran sudah mempu meningkatkan pengayaan uraniumnya hingga 63 persen, semakin mendekati kebutuhan untuk memproduksi hulu ledak nuklir.

Situasi ini membuat sisa negara JCPOA dan dunia mendesak AS untuk kembali ke kesepakatan. Proses renegosiasi pun dimulai.

Tetapi Dubes Djumala mengidentifikasi, terdapat dua kendala yang dihadapi dalam proses negosiasi untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran.

Pertama, adanya perubahan pemerintahan di Iran. Sejak dua pekan lalu, proses negosiasi telah dihentikan sementara hingga Presiden terpilih Iran, Ebrahim Raisi dilantik pada Kamis (5/8).

Sementara batu hambatan kedua, Dubes Djumala mengatakan, sulit bagi kedua belah pihak untuk menentukan batas pengayaan nuklir Iran.

"Iran sudah meningkatkan bargaining position-nya (dengan meningkatkan pengayaan hingga 63 persen), sementara JCPOA masih di sini (rendah). Pertanyaannya, kalau mau negosiasi, mana yang jadi departing point? Iran ya nggak mau mundur. Di sini lah stumbling block-nya," jelas dia.

Di sisi lain, Dubes Djumala menuturkan, sejak JCPOA disepakati pada 2015 hingga penarikan AS pada 2018, Iran masih mengalami kesulitan ekonomi.

"Yang namanya sanksi memang dicabut, tetapi beberapa orang Iran dihalangi bertransaksi secara internasional dengan bank-bank Eropa, karena bank-bank Eropa ini banyak bank Amerika," tambahnya.

Untuk itu, ia melanjutkan, perlu ada kemauan politik yang kuat untuk membantu Iran meninggalkan nuklirnya dengan bantuan ekonomi.

"Ini memang tidak setahun dua tahun, ini delicate problem," pungkasnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya