Berita

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern ketika mengikuti upacara tradisional Samoa, Ifoga/Net

Dunia

Lewat Upacara Tradisional, PM Jacinda Ardern Minta Maaf atas Diskriminasi Komunitas Pasifik pada 1970-an

SENIN, 02 AGUSTUS 2021 | 09:58 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Sebuah permintaan maaf disampaikan oleh Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern atas peristiwa kelam pada 1970-an yang menargetkan para imigran yang mayoritas dari negara-negara Pafisik.

Ketika itu aparat Selandia Baru kerap menggerebek dan mengusir paksa pekerja imigran dari Pasifik yang visanya sudah habis. Sementara mereka yang berusaha memperpanjang visa akan ditindak.

Di sisi lain, para imigran Eropa yang melakukan hal serupa tidak mengalami kekerasan.


Peristiwa yang terjadi dari 1974 hingga 1976 itu disebut dengan Dawn Raids, lantaran kerap terjadi pada pagi hari. Itu terjadi ketika ekonomi Selandia Baru mengalami keterpurukan.

Setelah lebih dari empat dekade berlalu, sebuah permintaan maaf kepada komunitas Pafisik diberikan pada Minggu (1/8). Permintaan maaf dilakukan selama Ifoga atau upacara tradisional Samoa, di mana orang-orang meminta pengampunan. Beberapa menteri dan anggota parlemen kemudian menutupi Ardern dengan tiker, yang kemudian disingkirkan oleh anggota komunitas Pasifik.

"Hari ini saya mewakili pemerintah Selandia Baru menawarkan permintaan maaf resmi dan tanpa pamrih kepada komunitas Pasifik atas penerapan UU imigrasi yang diskriminatif pada 1970-an yang menyebabkan peristiwa Dawn Raids," ujar Ardern, seperti dikutip Reuters.

Ardern mengatakan anggota komunitas Pasifik terus menderita dan membawa bekas luka dari serangan tersebut.

"Pemerintah menyatakan kesedihan dan penyesalannya bahwa Dawn Raids dan pemeriksaan polisi ini terjadi," tambahnya.

Sebagai bagian dari permintaan maaf resminya, Ardern mengatakan Selandia Baru akan memberikan 2,1 juta dolar Selandia Baru untuk beasiswa akademik dan kejuruan bagi komunitas Pasifik, serta 1 juta dolar AS untuk beasiswa kepemimpinan bagi kaum muda dari Samoa, Tonga, Fiji dan Tuvalu.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya