Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Dibanding Delta, Para Pakar Lebih Khawatir dengan Varian Lambda

MINGGU, 01 AGUSTUS 2021 | 15:03 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Ketika dunia disibukkan dengan varian Delta, para ahli kesehatan dibuat khawatir dengan varian Lambda yang diyakini lebih mudah menular.

Varian Lambda atau juga dikenal sebagai C37 pertama kali diidentifikasi di Peru pada Agustus 2020. Sejak saat itu, varian ini telah menyebar ke 29 negara, terutama di Amerika Selatan.

Meski penelitian mengenai varian ini masih dalam tahap awal, namun data menunjukkan ada beberapa fitur utama dari Lambda yang membuat khawatir.


Selain mudah menular, varian Lambda juga kemungkinan dapat menghindari vaksin daripada versi asli virus corona SARS-CoV-2, seperti dimuat New Zealand Herald.

Insitut Kesehatan Nasional Peru menyebut varian Lambda telah menyumbang lebih dari 80 persen dari semua kasus Covid-19 di negara tersebut.

"Ketika kami menemukannya, itu tidak menarik banyak perhatian. Tapi pada Maret, (varian Lambda) mengisi 50 persen dari sampel di Lima. Pada April, itu 80 persen dari sampel di Peru," ujar ahli mikrobiologi mulekuler dari Universitas Cayetano Heredia, Dr. Pablo Tsukayama.

Pada Juni, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menambahkan varian Lambda ke daftar varian yang membutuhkan perhatian.

Dalam sebuah artikel untuk The Conversation, Dr Adam Taylor dari Menzies Health Institute di Griffith University Queensland menulis bahwa ancaman pasti yang ditimbulkan Lambda masih belum diketahui.

"Pada tahap ini diperlukan lebih banyak penelitian untuk memastikan bagaimana mutasinya berdampak pada penularan, kemampuannya untuk menghindari perlindungan dari vaksin, dan tingkat keparahan penyakit," jelasnya.

Ia mengatakan, Lambda memiliki beberapa mutasi yang menentukan pada protein lonjakan. Satu mutasi dikaitkan dengan penurunan kerentanan terhadap antibodi yang dihasilkan virus.

"Ini berarti antibodi yang dihasilkan dari infeksi virus corona Wuhan asli tidak begitu efektif dalam menetralkan Lambda," tambahnya.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

BGN Setop Sementara Operasional 1.276 SPPG, Ini Sebabnya

Kamis, 17 September 2026 | 01:56

DPR Apresiasi Kejagung Sita Aset dalam Kasus Febrie Tanpa Pandang Bulu

Kamis, 17 September 2026 | 01:30

Perang Dunia Ketiga Is Coming?

Kamis, 17 September 2026 | 01:04

KKP dan FAO Bidik Sektor Perikanan Genjot Ketahanan Pangan

Kamis, 17 September 2026 | 00:49

Kasus Teror di Papua Bikin Masyarakat Ragu dengan Kemampuan TNI-Polri

Kamis, 17 September 2026 | 00:20

Pemimpin Merupakan Refleksi Sistem Politik yang Dibangun Masyarakat

Kamis, 17 September 2026 | 00:01

Pergantian Menteri Harus Jadi Momentum Perkuat Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 16 September 2026 | 23:35

Ada “Nama Ajaib”, Bos Pajak dan Bea Cukai Minta Rotasi Era Purbaya Dibatalkan

Rabu, 16 September 2026 | 23:08

KPK Didesak Bongkar Jaringan Sistematis Korupsi Layanan ATR/BPN

Rabu, 16 September 2026 | 22:41

Prabowo: PT Timah Untung 900 Persen Berkat Efisiensi BUMN

Rabu, 16 September 2026 | 22:36

Selengkapnya