Berita

Teguh Santosa membacakan sertifikat Star of Soekarno di hadapan Presiden Presidium Majelis Tertinggi Rakyat Korea, Kim Yong Nam/Ist

Dunia

Di Balik Star Of Soekarno

MINGGU, 25 JULI 2021 | 10:07 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

BULAN Oktober 2015 saya diutus Mbak Rachma ke Pyongyang menyerahkan tropi dan sertifikat Star of Soekarno yang diberikan Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) untuk, antara lain, Kim Jong Un.

Saya sudah sering ke Pyongyang. Tapi kunjungan kali ini rasanya luar biasa. Setelah jamuan minum teh di ruang VIP bandara, saya diantar ke sebuah guest house tak jauh dari Istana Kumsusan, agak di pinggir kota. Guest house yang indah, persis di tepi sebuah danau.

Di guest house saya diinformasikan, beberapa hari lagi akan ada penyambutan di Istana Presidium Majelis Tertinggi Rakyat Korea. Juga, yang menerimanya adalah Presiden Presidium yang setara dengan Kepala Negara, Kim Yong Nam.


Kedua pendamping membantu saya agar lancar dalam upacara penyambutan. Kami gladi berkali-kali. Menghafalkan kira-kira posisi Presiden dan posisi saya.

Sebelum ini saya sudah beberapa kali bertemu dan hadir dalam pertemuan dengan Presiden Kim Yong Nam. Tapi, kali ini akan jadi momen yang spesial, karena hanya ada saya dan dia di tengah ruangan.

Saya juga dibawa keluar masuk toko untuk menemukan celana panjang yang pas dan pantas saya kenakan dalam upacara. Dari Jakarta, saya hanya membawa jeans yang biasa saya pakai. Jas dan kemeja putih sudah saya siapkan dari rumah. Di Bandara Soetta sebelum naik pesawat saya singgah di gerai Batik Keris membeli dasi batik.

Celana panjang hitam ketemu di salah satu toko di pusat kota. Beres.

Di hari H, saya masuk ruangan yang megah itu. Ini kali kedua. Pertama, tiga tahun sebelumnya, saat menerima bintang kehormatan kelas tiga. Kali ketiga, tahun 2018, saat menerima bintang kehormatan kelas dua.

Di sisi kiri, Dubes RI Pak Bambang dan staf KBRI lain sudah berbaris rapi. Di seberang mereka sejumlah pejabat Korut juga berbaris tak kalah rapi. Saya berdiri di sebelah Pak Dubes Bambang. Berbisik kepadanya, “Maaf, jadi merepotkan.”

Dia membalas bisikan saya, “Tidak apa-apa Mas. Saya sudah komunikasi dengan Jakarta.”

Selanjutnya upacara dimulai saat Kim Yong Nam memasuki ruangan. Didampingi seorang senior lainnya, Kim Jong Suk, Ketua Komite untuk Hubungan Kebudayaan dengan Negara-negara Lain yang juga Ketua(?) Komisi Diplomasi Majelis Tertinggi Rakyat Korea. Dulu sekali, Mdm. Kim Jong Suk pernah memimpin harian Minju Choson yang diterbitkan Majelis Tertinggi Rakyat Korea.

Setiap kali ke Pyongyang, saya pun selalu bertemu dengan tokoh yang sangat bersahabat ini. Ia adalah sepupu mendiang Kim Il Sung, dan kebetulan namanya sama dengan nama mendiang Kim Jong Suk, istri Kim Il Sung.

Rasanya saya menjalankan peran saya dengan baik. Setelah Mdm. Kim Jong Suk mempersilakan, saya maju ke depan membawa sertifikat Star of Soekarno, dan di hadapan Kim Yong Nam membacakan isinya setelah lebih dahulu menyampaikan satu dua kalimat sambutan dan pesan dari Mbak Rachmawati yang berhalangan hadir.

Selanjutnya, seorang staf KBRI membawakan nampan yang men jadi alas tropi Star of Soekarno. Tropi ini sebenarnya sudah diberikan kepada Kedutaan Korut beberapa minggu sebelumnya dalam sebuah upacara di Hotel Borobudur yang dihadiri Mahathir Mohamad, salah seorang penerima Star of Soekarno lainnya.

Tapi, mengingat nama besar Bung Karno yang disematkan di penghargaan itu, apalagi yang memberikannya adalah Rachmawati Soekarnoputri yang berperan besar menghangatkan kembali hubungan kedua negara yang sempat dingin di era Orde Baru, Korut merasa perlu memberikan sambutan yang pantas untuk kehadiran Star of Soekarno.

Sayang sekali, karena satu dan lain hal, Mbak Rachmawati tidak dapat menyerahkan langsung ke Pyongyang. Saya bayangkan, kalau beliau saat itu bisa mengantarkan langsung, mungkin Kim Jong Un pula yang akan menerima secara langsung.

Ini juga bukan kali pertama saya menjadi utusan Mbak Rachma ke Pyongyang. Tugas pertama sebagai utusan sekaligus kunjungan pertama saya ke Pyongyang adalah di tahun 2003. Mbak Rachma berhalangan hadir karena sedang mempersiapkan partainya untuk ikut pemilu.

Kunjungan di tahun 2003 itu pun luar biasa. Kapan ada kesempatan, saya ceritakan.

Penulis adalah Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea Utara dan Direktur Informasi Publik Komite Asia Pasifik untuk Reunifikasi Damai Korea.



Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Jaksa Agung: Ini Saatnya, Badai Harus Berlalu

Rabu, 02 September 2026 | 22:09

Dugaan Pelanggaran Etik, Perwira Polri Dilaporkan ke Propam

Rabu, 02 September 2026 | 21:49

BPOM Butuh Anggaran Rp2,4 Triliun, Rp509 Miliar Khusus Kawal MBG

Rabu, 02 September 2026 | 21:21

DPR Minta Pelaku Pembakaran Hutan Dihukum Mati

Rabu, 02 September 2026 | 21:04

Halmahera Tengah Diguncang Gempa, Belasan Rumah dan Faskes Rusak

Rabu, 02 September 2026 | 20:45

Polri Ujung Tombak Demokrasi dalam Aksi 27 Agustus

Rabu, 02 September 2026 | 20:22

Keluarga Indonesia Diajak Siapkan Warisan Bermakna

Rabu, 02 September 2026 | 19:46

Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo

Rabu, 02 September 2026 | 19:30

Siswa Tak Libur di Tengah Kabut Asap, Kadisdik Kalteng Diminta Tak Asal Ambil Keputusan

Rabu, 02 September 2026 | 19:23

Indonesia Tak Bisa Akal-akali Alokasi Jemaah Haji dari Arab Saudi

Rabu, 02 September 2026 | 19:17

Selengkapnya