Berita

Asia-Africa Growth Corridor (AAGC) yang ditandai garis merah/Net

Dunia

Tandingi BRI China, India Hidupkan Kembali Megaproyek Koridor Penghubung Asia-Afrika

SENIN, 19 JULI 2021 | 09:47 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Sengketa wilayah memicu perselisihan yang lebih luas antara China dan India. Saat ini India bahkan sedang mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali Asia-Africa Growth Corridor (AAGC), yang diyakini dapat menjadi tandingan Belt and Road Initiatives (BRI) milik China.

AAGC merupakan megaproyek infrastruktur yang bertujuan menghubungkan Asia dan Afrika. Proyek yang diluncurkan pada 2017 ini adalah kolaborasi antara India dan Jepang.

Saat ini, BRI China mengalami hambatan karena pandemi Covid-19. Sejak 2019, komitmen pinjaman China ke Afrika telah berkurang.


Berdasarkan studi dari Carnegie Endowment for International Peace, pemodal China berkomitmen 153 miliar dolar AS untuk peminjam sektor publik Afrika antara tahun 2000 hingga 2019.

"Setelah pertumbuhan yang cepat di tahun 2000-an, komitmen pinjaman tahunan ke Afrika mencapai puncaknya pada tahun 2013, tahun BRI diluncurkan. Namun, pada 2019, komitmen pinjaman China baru hanya berjumlah 7 miliar dolar AS untuk benua itu, turun 30 persen dari 9,9 miliar dolar AS pada 2018,” jelas studi tersebut.

Selain itu, skema loan-to-own dalam pinjaman-pinjaman China memicu banyak keraguan.

Di sisi lain, AAGC dipandang menjanjikan, namun perlu ada evaluasi dan perubahan, khususnya dalam mekanisme pendanaan yang lebih layak dan transparan.

Begitu yang disampaikan oleh French Institute of International Relations (IFRI) ketika menganalisis proyek tersebut, seperti dikutip India Narrative pada Minggu (18/7).

Menurut IFRI, keterlibatan badan-badan multilateral, seperti Asian Development Bank sangat diperlukan untuk menyuntikan dana dalam proyek AAGC.

"Kita harus memikirkan bagaimana kita bisa merevisi AAGC agar lebih menarik dan bermanfaat. Ini harus menjadi proyek yang berorientasi pada keuntungan daripada visi pembangunan manusia," jelas IFRI.

Selama ini, lebih dari 65 persen pinjaman China digunakan untuk sektor infrastruktur seperti energi, pertambangan, konstruksi, hingga transportasi. Sementara dana dari Eropa, Amerika, hingga Jepang lebih fokus pada sektor sosial seperti kesehatan, pendidikan dan kemanusiaan.

AAGC perlu membuat pola pinjaman campuran yang adil, baik dalam bentuk hibah dan pinjaman ke Afrika.

"Sudah saatnya India dan negara-negara lain melihat Afrika untuk mematikan pengembangan kemitraan," ujar pengusaha asal India di Kenya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya