Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Gusti Kulo Nyuwun Saras

SABTU, 17 JULI 2021 | 23:19 WIB | OLEH: TRIAS KUNCAHYONO

I

SUATU hari, pekan lalu, saya menerima kiriman video refren tembang, dari budayawan Yogyakarta, Rama G Budi Subanar SJ. Di hari yang lain, pekan lalu juga, saya mendapat kiriman video pendek berisi refren lagu yang sama, Panyuwunan, (Permohonan), dari Komunitas Perempuan Berkebaya Jogya.

Mereka, para anggota komunitas Perempuan Berkebaya ini, tidak hanya nembang, menyanyikan lagu itu, tetapi bahkan juga menari di sebuah pendopo.


Di beberapa grup WA, juga diposting video pendek refren lagu itu. Ada yang dinyanyikan oleh seorang anak kecil, ada pula yang ditembangkan oleh seorang lelaki dewasa. Tembang Panyuwunan, yang pekan lalu hits, dimuat oleh berbagai portal media pula.

Kata Budi Subanar, lirik tembang Panyuwunan, aslinya adalah geguritan yang ditulis oleh Rama I Kuntara Wiryamartana SJ (dalam buku Sraddha Jalan Mulia Dunia Sunyi Jawa Kuno; KPG, 2019). Demikianlah bunyi refren lagu itu:

Gusti, kula nyuwun saras : sarasing sukma – resiking maras
(Gusti, kami mohon kesembuhan: sembuhnya sukma – bersihnya hati)

Gusti, kula nyuwun tamba : tambaning jiwa – segering raga
(Gusti, kami mohon obat: obatnya jiwa – segarnya raga)

Gusti, kula nyuwun seneng : senenging manah – tulaking sereng
(Gusti, kami mohon cerah ceria: gembiranya hati – penangkal dengki)

Gusti, kula nyuwun sabar : sabaring budi – nalar jembar
(Gusti, kami mohon kesabaran: sabarnya budi – luasnya wawasan)

Syair refren lagu Panyuwunan, menyentuh kedalaman. Mewakili teriakan pengharapan sebagian besar masyarakat Indonesia; dan bahkan umat manusia.

Terasa sangat mengena, refren lagu itu ditembangkan pada saat ini. Saat ketika bangsa ini sedang dalam kondisi yang sangat berat karena pandemi Covid-19 yang semakin menggila.

(meskipun ada yang lebih gila lagi, tidak percaya pada serangan Covid-19 dan malah memberikan komentar-komentar yang sama sekali tidak bijaksana, tidak menunjukkan keluhuran budi, keluhuran orang yang beragama. Dan, ada pula yang mencari keuntungan politik dan bisnis di tengah derita bangsa).

II

Dengan melantunkan refren tembang itu, kita serasa sedang berdoa. Ya, memang berdoa. Doa dilangitkan oleh banyak orang pada saat ini, dengan cara masing-masing:

Oleh mereka yang berduka ditinggal orang-orang yang dicintai karena menjadi korban Covid-19, oleh mereka yang sedih karena ada anggota keluarga atau sanak famili yang sakit, oleh mereka yang kesulitan  mendapatkan obat-obatan atau vitamin, oleh mereka yang kesulitan sekali mendapakan oksigen, oleh mereka yang tidak mempunyai lagi pekerjaan, oleh mereka yang bisnisnya mati, oleh mereka yang sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan menghadapi situasi tak menentu sekarang ini, dan masih banyak lainnya yang menjadi alasan mengapa berdoa.

Manusia sudah mengenal doa sebelum ia mengenal Tuhannya. Pada waktu manusia masih berada di zaman kegelapan, bisa jadi matahari, bulan, bintang, pohon-pohon besar atau batu-batu besar, atau roh-roh yang dituhankan, dianggap sebagai kekuatan yang bisa diminta pertolongan.

Manusia sudah mempunyai kebutuhan untuk meminta tolong kepada sesuatu yang lebih berkuasa dari dirinya, terutama ketika dirinya merasa lemah dan kalah terhadap sesuatu yang lebih kuat dan berkuasa.

Mengapa berdoa? Dengan berdoa, kita tidak merasa sendiri. Tetapi, dengan berdoa, kita merasa bahwa Tuhan bersama dengan kita; menemani kita dalam menghadapi situasi berat, termasuk situasi sekarang ini.

Karena kita tidak sendiri, maka kita menjadi berani; berani menghadapi persoalan hidup, sekalipun itu berat dan sulit, bahkan melampaui kemampuan manusia. Itu berarti bahwa dengan berdoa, kita merasakan bahwa Tuhan selalu beserta kita.

Melalui doa, kita bisa menyampaikan segala hal kepada Tuhan. Kita bisa curhat apa pun; apa pun yang ada dalam hati kita, entah itu perasaan sedih, gembira, kecewa, puas, putus asa, lega, panik, frustrasi, kemarahan, atau apapun.

Bukankah doa, dalam pengertian yang paling sederhana adalah bercakap-cakap dengan Tuhan. Ya, bercakap-cakap seperti kita bercakap-cakap dengan saudara atau sahabat, atau siapa pun orang yang sudah kita kenal, yang kita cintai.

Kata filsuf Islam tersohor dari Persia, Al-Ghazâlî (c.1056–1111), doa merupakan elemen esensial dalam hubungan antara manusia dan Tuhan. Selama seseorang masih manusia, ia tidak bisa mengenyahkan doa kepada Tuhan.

Doa menjadi lantaran terwujudnya keputusan Tuhan. Tetapi, doa bukan merupakan satu-satunya sebab. Karena, segala sesuatu muncul dari kehendak dan kekuasaan Tuhan.

Maka itu, kata Tom Jacobs SJ (2004), doa bukan sarana untuk “membujuk” atau “menyogok” Tuhan. Doa berarti berjuang bersama Tuhan. Bukan serah-terima kepada Tuhan.

Memang kita diteguhkan oleh Tuhan dalam doa. Tetapi, kalau kita diam saja, tidak berbuat apa-apa—dalam hal ini, tidak berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan pandemi Covid-19, tidak menaati protokol kesehatan secara ketat, bersikap semau-gue dan merasa kampiun, merasa hebat—kita juga tidak dapat diteguhkan.

Dengan kata lain, doa tidak pernah dapat dilepaskan dari perjuangan hidup; juga tidak bisa menjadi alternatif untuk perjuangan. Maka ada pepatah ora et labora, berdoa dan berusaha.

Setelah kita berjuang sekuat tenaga, segala daya upaya, barulah menyerahkan selebihnya pada Tuhan, biarlah tangan Tuhan yang berkarya, sesuai dengan providentia Dei, penyelenggaraan Ilahi. Maka berarti, dengan doa manusia menyerahkan diri kepada-Nya.

III

Dengan demikian, doa bukan lagi suatu beban atau kewajiban, melainkan suatu kebutuhan manusia yang menyadari diri sebagai mahkluk ciptaan Allah yang dikasihi oleh-Nya.

Karena itu, kita tidak boleh takut berdoa—apa lagi di waktu-waktu sekarang ini—hanya karena merasa tidak pandai menyusun, merangkai kata-kata yang indah, yang puitis, yang panjang lebar, yang kelihatan pandai, atau yang beda dengan yang lain.

Doa bukan sesuatu yang dibuat-buat, yang dibikin-bikin. Sebab, doa melekat pada keadaan, pada kebutuhan yang nyata, yang kita alami, yang dialami bangsa kita sekarang ini.

Doa adalah nyanyian hati, mohon belas kasihan, yang dipersembahkan pada Tuhan, seperti dilambungkan pemasmur: Gusti mugi kersaa dados redi sela papan pangayoman kawula, benteng santosa ingkang mitulungi kawula; Tuhan jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku.

Gusti, kula nyuwun saras : sarasing sukma – resiking maras
Gusti, kula nyuwun tamba : tambaning jiwa – segering raga


Begitu Panyuwunan, I Kuntara Wiryamantartana……yang juga panyuwunan kita semua…

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

UPDATE

Donald Trump Buka Peluang Bertemu Mojtaba Khamenei

Jumat, 05 Juni 2026 | 08:19

Dolar AS Melemah dari Level Tertinggi Imbas Prospek Damai Timur Tengah

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:52

Emas dan Perak Menguat Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:40

BEI Bidik Dana Besar dari Dalam dan Luar Negeri demi Topang IHSG

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:17

Bursa Eropa Hijau, Saham Bank dan Airbus Pimpin Reli

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:06

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Kenaikan Bahan Baku Berimbas terhadap Industri Makanan dan Minuman

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:54

Artis Fabiola Gabung Sindikat Penipuan Online

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:43

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:28

Inflasi Kehormatan Letkol Teddy Indra Wijaya

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:08

Selengkapnya