Berita

Menteri Keuangan Sri Mulyani/Net

Publika

Kerugian Negara Di Era Menkeu Sri Mulyani (2018 Hingga 2021) Rp 601 Triliun?

KAMIS, 15 JULI 2021 | 16:41 WIB | OLEH: GEDE SANDRA

SEMALAM saya dan seorang kawan berdiskusi via telpon tentang masalah korupsi dan kerugian keuangan negara. Diskusi tersebut membandingkan skala kasus-kasus korupsi/kerugian negara di Indonesia, mulai dari BLBI, e-KTP, Jiwasraya, Asabri, Century, hingga korupsi IUP Kutawaringin Timur.

Menariknya, kawan ini punya ide untuk mengategorikan masalah kelebihan bayar bunga utang pemerintah sebagai kasus kerugian negara juga.

Apakah masalah kelebihan bayar bunga utang pemerintah?


Masalah kelebihan bayar bunga utang sudah sering disampaikan oleh ekonom senior DR Rizal Ramli (RR) di berbagai kesempatan kepada publik.

Bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Filipina, dan Vietnam, bunga yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia kelebihan 2,8 hingga 4,5 persen. Padahal dulu ketika era Menkeu Agus Martowardoyo (2010 hingga 2013), yield surat utang sempat turun hingga 0,5 sampai 1 persen di bawah Filipina dan 2,7 hingga 5,5 persen di bawah Vietnam.

Surat Utang Indonesia bunganya lebih murah dari kedua negara tersebut yang ratingnya lebih rendah dari Indonesia tersebut.

Kebijakan Menkeu Agus adalah kebijakan yang neuchter dan benar. Bunga surat utang Indonesia memang harus lebih murah dari negara yang ratingnya lebih rendah.

Di bawah ini adalah perbandingan yield surat utang (tenor 10 tahun) pemerintah Indonesia dan ketiga negara saat ini di bawah Menkeu Sri Mulyani.

Artinya bunga surat utang pemerintah Indonesia kemahalan. Sehingga beban pembayaran bunga utang kita meningkat setiap tahun. Keseimbangan primer, selisih antara pendapatan negara dan belanja negara tanpa memasukkan beban bunga utang, meningkat semenjak empat tahun terakhir.

DR Rizal Ramli juga sudah sering juga memberikan solusi alternatif untuk mengurangi beban bunga surat utang Indonesia yang kemahalan ini.

Caranya adalah dengan melakukan metoda debt swap dan debt to nature swap. Debt swap adalah menukar surat utang berbunga mahal dengan surat utang yang berbunga lebih murah dan tenor lebih panjang. Sedangkan debt to nature swap adalah pengurangan utang yang ditukar dengan kewajiban pelestarian hutan.

Kedua metode tersebut sudah pernah dikerjakan DR Rizal Ramli sewaktu menjabat menteri di tim ekonomi Kabinet Gus Dur (2000-2021).
 
Berdasarkan perhitungan kasar yang kami lakukan, beban bunga utang setiap tahun dapat berkurang sampai setengahnya bila dilakukan metoda debt swap seperti yang pernah dilakukan DR. Rizal Ramli.

Seandainya Indonesia memiliki menteri ekonomi seperti DR Rizal Ramli sejak empat tahun lalu, bukannya Sri Mulyani, beban bunga dapat berkurang setidaknya Rp 601 triliun!

Inilah dasarnya kami memandang bahwa apa yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan kebijakan bunga tinggi, terutama tim ekonomi di bawah Menteri Keuangan Sri Mulyani, telah menyebabkan kerugian keuangan negara. Selama empat tahun terakhir, pemerintah Indonesia telah kehilangan potensi penghematan sebesar Rp 601 triliun.

Kelebihan bunga utang sebesar Rp 601 T itu, apakah hanya biaya public relation (PR) supaya Menkeu Sri Mulyani dipuji-puji oleh kreditor/investor? Atau jangan-jangan merupakan “hangky-pangky” dengan investment banks- yang koordinasikan penerbitan bonds super mahal itu?

Menurut seorang pejabat di pemerintahan, yang tak mau disebutkan namanya, mungkin sekali ada semacam “fee” dari kebijakan yang merugikan negara ini. Tapi apapun, hanya BPK dan KPK yang dapat menjawabnya kelak.

Perbandingan kerugian negara dari kelebihan bayar bunga utang bila dibandingkan dengan kasus- kasus kerugian negara lainnya dapat dilihat dalam tabel di atas (slide kedua).

Penulis adalah pengajar di Universitas Bung Karno

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya