Berita

Bulan/Net

Dunia

NASA: Pergeseran Bulan Ditambah Perubahan Iklim Akan Picu Banjir Yang Lebih Parah Di Dunia

RABU, 14 JULI 2021 | 10:24 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Sebuah studi yang dilakukan oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan University of Hawaii menunjukkan adanya pergeseran siklus di orbit bulan yang akan memicu banjir.

Studi itu menyebut, pergeseran bulan ditambah dengan naiknya permukaan laut karena perubahan iklim akan memicu banjir yang lebih sering dan lebih tinggi untuk beberapa tahun ke depan.

Pergeseran bulan sendiri merupakan fenomena alami yang terjadi setiap 18,6 tahun, yang mengakibatkan perubahan pasang surut. Fenomena ini pertama kali didokumentasikan pada 1728.


Meski tidak menyebabkan kerusakan besar, namun para ilmuwan memperingatkan fenomena tersebut akan memicu banjir pasang yang lebih parah, terlebih dengan situasi perubahan iklim.

Bahkan situasi mengerikan akan terjadi di kota-kota pesisir ketika pergeseran Bulan berikutnya terjadi pada 2030-an.

Berdasarkan skenario Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), air yang naik diperkirakan akan menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur, dan dapat menggusur masyarakat pesisir.

Pada 2019, NOAA mencatat lebih dari 600 bencana banjir di AS. Jika dibandingkan, banjir akan terjadi tiga hingga empat kali lipat pada pertengahan 2030-an.

“Daerah dataran rendah di dekat permukaan laut semakin berisiko dan menderita karena meningkatnya banjir, dan itu hanya akan menjadi lebih buruk,” kata Administrator NASA Bill Nelson, seperti dikutip The New York Post.

“Kombinasi tarikan gravitasi Bulan, naiknya permukaan laut, dan perubahan iklim akan terus memperburuk banjir pesisir di garis pantai kita dan di seluruh dunia," imbaunya.

Diperkirakan, lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia tergusur, dan sebagian besar garis pantai tidak dapat lagi dihuni sebelum tahun 2100.

“Ini adalah akumulasi efek dari waktu ke waktu yang akan berdampak. Jika banjir 10 atau 15 kali sebulan, sebuah bisnis tidak dapat terus beroperasi. Orang-orang kehilangan pekerjaan karena mereka tidak bisa bekerja," kata penulis utama studi tersebut, Phil Thompson.

Pada akhir Juni studi tersebut diterbitkan dalam jurnal “Nature Climate Change”.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya