Berita

Pusat pendingin yang disediakan otoritas agar warga dapat berlindung dari gelombang panas/Net

Dunia

Korban Meninggal Akibat Gelombang Panas Pecahkan Rekor, Mayoritas Lansia, Hidup Sendiri Tanpa AC

RABU, 14 JULI 2021 | 08:24 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Korban meninggal dunia akibat gelombang panas di Oregon, Amerika Serikat (AS) telah memecahkan rekor.

Berdasarkan laporan awal yang dirilis pada Selasa (13/7), banyak korban merupakan lansia yang hidup sendiri, dan tidak memiliki pendingin ruangan atau AC.

Di Multnomah County, wilayah terpadat di Oregon, setidaknya 71 orang meninggal dunia dengan kemungkinan penyebabnya adalah panas. Namun hanya 54 di antaranya yang sudah dikonfirmasi tewas akibat gelombang panas.


Dimuat Associated Press, beberapa mayat baru ditemukan beberapa pekan setelah gelombang panas menghantam Oregon lantaran mereka hidup sendiri. Rata-rata korban meninggal berusia 70 tahun.

"Banyak dari mereka adalah lansia, mereka yang paling membutuhkan perawatan, dan banyak yang sendirian," kata Ketua Wilayah Deborah Kafoury.

Pihak berwenang Oregon mencatat ada 116 kematian yang diduga terjadi akibat panas. Sementara Washington melaporkan setidanya 91 kematian, dan British Columbia mengatakan ada ratusan kematian mendadak dan tak terduga selama lonjakan suhu di sana.

Menurut laporan pada Selasa, angka kematian akibat panas pada Juni 2021 jauh lebih tinggi daripada 20 tahun terakhir.

Lebih dari tiga perempat dari mereka yang meninggal hidup sendiri, 55 persen tinggal di apartemen atau perumahan, hampir setengahnya tinggal di lantai tiga atau lebih.

Selain itu, hampir seperempat dari mereka tidak memiliki AC, bahkan kipas angin. Tujuh korban memiliki AC, namun rusak atau tidak dinyalakan.

Lebih dari 90 persen dari korban berkulit putih dan 63 persen laki-laki. Sebagian besar kematian dilaporkan setelah 29 Juni, ketika puncak gelombang panas sudah terlewati.

Pada 25 hingga 28 Juni, suhu terpanas sepanjang sejarah tercatat di Portland, yaitu 47 derajat Celcius. Situasi serupa juga terjadi di Oregon, Washington, dan British Columbia di Kanada.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya