Berita

Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PKS, Amin Ak/Net

Politik

Diingatkan PKS, Vaksinasi Berbayar Bisa Jadi Bumerang

SELASA, 13 JULI 2021 | 05:40 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Rencana program vaksinasi berbayar berpotensi menjadi bumerang bagi upaya bersama untuk menciptakan kekebalan kelompok atau herd immunity.

Sebab dengan dipungut biaya, masyarakat dikhawatirkan enggan untuk mengikuti vaksinasi. Hal ini pun akan memengaruhi upaya percepatan vaksinasi yang ditargetkan hingga 70 persen dari total masyarakat Indonesia.

“Pemberian vaksin secara gratis untuk rakyat, selain bentuk tanggung jawab negara bagi keselamatan warganya, juga untuk memperbesar animo masyarakat agar mau divaksin,” kata anggota Komisi VI DPR RI, Amin Ak dalam keterangan tertulisnya, Selasa (13/7).


Presiden Joko Widodo pada pertengahan Desember 2020 sudah menyatakan bahwa pemberian vaksin dipastikan gratis untuk masyarakat. Merujuk hal itu, politisi PKS ini menggarisbawahi bahwa vaksin Covid-19 harus diberikan secara gratis.

"Program vaksinasi Gotong Royong bukanlah bantuan komersial, melainkan upaya swasta mempercepat vaksinasi dengan membiayai sendiri pengadaan dan menyuntikkan vaksin kepada pekerja dan keluarganya secara gratis," sambungnya.

Amin Ak juga menyoroti keputusan Kementerian Kesehatan yang menerbitkan Permenkes 19/2021 sebagai perubahan kedua Permenkes 10/2021 tentang pelaksanaan vaksinasi.

Dalam Permenkes 19/2021, diatur vaksinasi gotong royong bisa diberikan kepada individu dan biaya dibebankan kepada yang bersangkutan atau vaksin berbayar.

"Sudah semestinya kebijakan vaksin gratis untuk seluruh masyarakat, bukan kemudian memunculkan aturan vaksin berbayar," kritiknya.

Kalaupun Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui PT Kimia Farma mau bekerjavsama dengan pihak swasta untuk memperbanyak vaksin gotong royong, kata dia, maka harus tetap memberikan layanan vaksinasi gratis. Biaya vaksin maupun layanan vaksinasinya menjadi tanggung jawab swasta atau korporasi.

"Program vaksinasi berbayar sebaiknya dibatalkan, bukan ditunda. Karena, ini bisa menjadi bumerang bagi rencana pemerintah untuk mencapai kekebalan kelompok," tutupnya.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Rano: Pendidikan Harus Memerdekakan Manusia

Jumat, 08 Mei 2026 | 00:05

Car Free Day di Rasuna Said Digelar Perdana 10 Mei

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:34

Kasus Pemukulan Waketum PSI Bro Ron Berujung Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:12

Kali Kukuba di Halmahera Timur Diduga Tercemar Limbah PT FHT

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:00

Pemerintah Bebaskan Pajak Restrukturisasi BUMN

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:39

Negara Disebut Kehilangan Ratusan Triliun dari Bisnis Sawit

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:15

Akper Husada Naik Kelas Jadi STIKES

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:06

Dugaan Jual Beli Jabatan Pemkab Cianjur Bisa Rusak Meritokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 21:27

DPR Usul 1 Puskesmas Punya 1 Psikolog

Kamis, 07 Mei 2026 | 21:04

New Media Merasa Dicatut, DPR Minta Bakom Lebih Hati-hati

Kamis, 07 Mei 2026 | 20:50

Selengkapnya