Berita

Diaspora Indonesia di New York, Shamsi Ali/Net

Publika

Covid-19 Di Indonesia, Whassup?

JUMAT, 09 JULI 2021 | 01:10 WIB

SATU hal yang mengejutkan saya pribadi sebagai anak bangsa, seorang muslim, yang kebetulan saja ditakdirkan hidup di luar negeri adalah di saat dunia mulai pulih dari hantaman badai Covid-19, Indonesia justru semakin kritis. Di New York biasanya hal seperti ini diekspresikan dengan "whassup man!".

Ada apa gerangan? Apa yang salah dengan kita?

Saya tidak bermaksud melemparkan tuduhan kepada siapapun atas kenyataan ini. Tapi pastinya ada yang salah dan perlu dibenahi. Jika anda melihat asap, pastinya api itu ada. Mungkin saja anda tidak lihat, tidak tahu, atau pura-pura tidak lihat dan tidak tahu.


Atau lebih tegasnya harus ada yang bertanggung jawab dengan keadaan ini. Jangan ribuan rakyat meninggal, ribuan lagi sakit, jutaan kehilangan pekerjaan dan sumber kehidupan, lalu seolah semua biasa saja. Itu namanya kebal muka. Tiada malu lagi.

Dalam kehidupan publik, bernegara misalnya, pastinya setiap peristiwa apakah itu baik atau buruk, nyaman atau sebaliknya, pastinya harus ada yang mengambil alih tanggung jawab itu.

Mengambil alih tanggung jawab alias bertanggung jawab itu menjadi bagian dari karakter keamanahan dalam kehidupan publik. Itu yang menjadikan di India misalnya dua belas menteri yang mengundurkan diri akibat peristiwa Covid-19 varian Delta baru-baru ini.

Apakah mereka salah? Belum tentu. Mereka tidak sampai mengkorupsi dana Covid yang diperuntukkan untuk masyarakat luas. Tapi rasa tanggung jawab itulah yang menjadikan mereka secara batin merasa bersalah, dan pada tingkatan tertentu merasa tertekan akibat banyaknya warga India yang meninggal baru-baru ini.

Semoga hal ini bisa menjadi renungan para pejabat di negeri Indonesia tercinta. Syukur-syukur mereka menjadikannya dorongan untuk membangun "sense of responsibility" (rasa tanggung jawab) sebagai pengejewantahan dari karakter amanah atas tanggung jawab publik yang diembannya.

Di sisi lain kita akui bahwa upaya melawan Covid-19 ini memerlukan upaya menyeluruh (comprehensive efforts). Dan karenanya semua pihak harus mengambil tanggung jawabnya masing-masing pada kapasitasnya. Termasuk di dalamnya tokoh-tokoh agama dan masyarakat secara umum. Masing-masing bisa memainkan peranan yang signifikan dalam upaya tersebut.

Dan karenanya kedisiplinan warga dalam menjalankan segala protokol kesehatan, termasuk menghindari kerumunan untuk sementara, harus diikuti. Dan semua ini dilakukan tidak dengan mental "kucing-kucingan". Jika ada petugas nampak taat. Setelah itu dilanggar seolah biasa saja.

Demikian juga para tokoh agama dan para ulama. Mereka memiliki peranan yang cukup menentukan. Bahwa tokoh agama harus menyadarkan jemaahnya (pengikutnya) untuk ikut memainkan peranan melawan Covid ini. Tidak justru sebaliknya jemaah disuguhi ragam teori yang menjadikan mereka ragu, bahkan memandang enteng bahaya Covid ini.

Hentikan Membisniskan Covid-19

Salah satu faktor krisis utama dan masalah terbesar dalam penanganan Covid 19 di Indonesia adalah kuatnya tendensi "egoisme ketamakan" hampir semua pihak. Dalam upaya penanganan, illa man rahima Rabbuh (kecuali siapa yang dirahmati Allah), semuanya mengedepankan apa keuntungan yang akan didapatkan dari penanganan Covid-19 ini.

Hal itu terlihat dan terasa dengan jelas melalui berbagai pelayanan yang terkait dengan Covid. Dari test Covid, dana sosial Covid, hingga ke karantina dan vaksinasi. Semuanya ada "transaksi bisnis" yang luar biasa. Dan luar biasanya lagi semua itu dilakukan dengan "so called prosedur" yang telah ditetapkan/diadakan.

Ini biadab. Dan saya tidak perlu merincikan lagi semua kebiadaban itu. Karena siapapun yang punya hati dan secuil kejujuran akan mengakui dan menyadari bahwa semua ini adalah tidak manusiawi (inhumane) dan harus dihentikan. Jelas merugikan negara dan rakyat, bahkan tidak berprikemanusiaan.

Setiap hari ribuan yang meninggal. Ribuan lainnya yang harus dirawat. Belum lagi begitu banyak yang terpaksa tidak dilayani di rumah-rumah sakit karena keterbatasan fasilitas. Ribuan bahkan jutaan yang kehilangan dan sumber penghasilan.

Dan dengan semua itu "sense of responsibility" tidak terusik? What s shame!!!.

Shamsi Ali
Diaspora Indonesia di New York.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya