Berita

Sudan Selatan akan merayakan 10 tahun kemerdekaan pada Jumat (9/7). Negara ini diketahui merupakan negara termuda yang ada di dunia/Net

Dunia

10 Tahun Merdeka, Apa Yang Bisa Dirayakan Dari Sudan Selatan?

KAMIS, 08 JULI 2021 | 18:21 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Sudan Selatan akan merayakan 10 tahun kemerdekaan pada Jumat (9/7). Negara ini diketahui merupakan negara termuda yang ada di dunia.

Sayangnya, selama 10 tahun terakhir, negara kaya minyak itu telah terperosok dalam pertempuran yang menewaskan hampir 400 ribu orang. Selain itu, korupsi yang merajalela serta serta krisis kemanusiaan yang memburuk membayangi hari-hari pasca kemerdekaan negara itu.

Di sisi lain, kesepakatan damai antara pemerintah dengan pemberontak pun rapuh, bak tergantung pada seutas benang.


“Setelah 10 tahun kemerdekaan, penduduk Sudan Selatan tidak memiliki banyak hal untuk dirayakan,” kata seorang peneliti di London School for Economics yang telah bekerja di Sudan Selatan sejak 2008, yakni Joshua Craze.

"Negara hanya memberikan untuk elit Sudan Selatan, yang telah mengakar sendiri di atas seluruh negeri,” tambahnya.

Sebenarnya, harapan tinggi akan masa depan yang lebih baik muncul sejak kemerdekaan negara itu pada tahun 2011. Setelah beberapa dekade perang dengan utara, bagian selatan Sudan memilih untuk memisahkan diri. Salva Kiir, mantan pemimpin pemberontak, dilantik sebagai presiden pertama Sudan Selatan, dengan Riek Machar, pemimpin pemberontak lainnya, sebagai wakilnya.

“(Ada) hujatan, perayaan, air mata kegembiraan, ratapan kebahagiaan,” kenang Philips Anyang Ngong, seorang pengacara hak asasi manusia setempat yang berada di perayaan kemerdekaan tetapi bingung dengan apa yang telah terjadi sejak itu.

“Kami mengibarkan bendera tetapi apa yang harus kami tunjukkan hari ini, 10 tahun kemudian?” Dia bertanya.

"Penderitaan yang berkelanjutan," sambungnya, seperti dikabarkan Al Jazeera.

Sorotan serupa pun datang dari pengamat lainnya.

“Negara mewarisi warisan perang dan keterbelakangan dari Sudan. Pemerintah baru juga terdiri dari mantan musuh politik dan milisi yang tidak memiliki visi bersatu untuk negara. Proses integrasi, baik dari segi politik maupun keamanan sangatlah berat. Lembaga negara dan sistem akuntabilitas sudah lemah," ujar peneliti Human Rights Watch, Nyagoah Tut Pur.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Perang di Meja Runding

Kamis, 09 April 2026 | 06:16

Kecanggihan Alat Perang AS-Israel Bisa Dikalahkan

Kamis, 09 April 2026 | 06:04

Polisi di Jateng Dilaporkan Usai Rekam Polwan Mandi

Kamis, 09 April 2026 | 05:36

Tatanan Baru Dunia di Bawah Naungan Syariah Islam dan Khilafah

Kamis, 09 April 2026 | 05:26

Pemuda di Solo Tanam Ganja di Rumah

Kamis, 09 April 2026 | 05:10

Polda Sumsel Pamerkan 1.715 Unit Motor Hasil Curian

Kamis, 09 April 2026 | 04:20

Bandung Masuk 5 Besar Destinasi Wisata Terpopuler di Asia

Kamis, 09 April 2026 | 04:16

Pemprov Jateng Gratiskan Bea Balik Nama Kendaraan Bekas

Kamis, 09 April 2026 | 04:01

Mental Baja di Ujung Kiamat, Iran Tetap Berkata ‘Tidak’

Kamis, 09 April 2026 | 03:30

Jusuf Kalla Tersinggung Berat Omongan Rismon

Kamis, 09 April 2026 | 03:28

Selengkapnya