Berita

Jembatan kereta api melintasi sungai Nujiang di provinsi Yunnan China/Net

Dunia

Deteksi Kasus Baru, Kota Perbatasan China-Myanmar Lockdown Lagi

SELASA, 06 JULI 2021 | 08:26 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kota Ruili di Provinsi Yunnan, China Barat Daya yang berbatasan dengan Myanmar, mengumumkan situasi tanggap darurat tingkat-3 dan memberlakukan penguncian setelah ditemukan tiga kasus baru Covid-19 domestik, Senin (5/7).

Ini menandai keempat kalinya kota itu dilanda epidemi Covid-19, dan ketiga kalinya memberlakukan tindakan penguncian untuk menahan kebangkitan.

"Mulai pukul 8 pagi pada hari Senin, tidak ada yang boleh meninggalkan atau memasuki Ruili kecuali jika dianggap perlu," kata pusat komando pencegahan dan pengendalian Covid-19 kota itu dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Global Times, Senin (5/7).


Jembatan Jiegao, yang menghubungkan China dan Myanmar, ditutup sementara, melarang orang dan kendaraan keluar.

"Mereka yang tinggal atau bekerja di Ruili diizinkan memasuki kota setelah menunjukkan sertifikat yang sah, dan mereka yang perlu meninggalkan Ruili karena alasan khusus harus menunjukkan hasil tes asam nukleat negatif yang diperoleh dalam waktu tiga hari dan mendapat persetujuan dari pusat komando," kata pernyataan itu.

Pengamat mengatakan bahwa perbatasan panjang dan jenis virus Delta yang tersebar luas di antara negara-negara Asia Selatan mungkin telah berkontribusi pada kebangkitan epidemi di Ruili.

"Di antara tiga kasus Covid-19 domestik, dua adalah warga negara China dan satu warga negara Myanmar," kata Komisi Kesehatan Provinsi Yunnan dalam sebuah pernyataan.

Otoritas kesehatan juga melaporkan satu pasien tanpa gejala yang merupakan warga negara China dari Indonesia, serta lima kasus impor, tiga di antaranya berasal dari Myanmar dan dua dari Indonesia.

"Setelah mengidentifikasi kasus domestik, Ruili dengan cepat meluncurkan respons darurat kesehatan masyarakat tingkat-3 dan menutup saluran keluar," kata seorang pejabat dari Ruili pada konferensi pers Senin.

Penduduk di China dan Myanmar sering melakukan pertukaran sosial dan bisnis, yang menimbulkan tantangan bagi pencegahan dan pengendalian epidemi.

"Ini bisa menjadi salah satu alasan utama sering terjadinya wabah epidemi di Ruili karena kontrol perbatasan adalah tugas yang sulit," kata Wang Guangfa, seorang ahli pernapasan di Rumah Sakit Pertama Universitas Peking.

Ruili dan Myanmar berbagi perbatasan sepanjang 170 kilometer. Ruili, sebuah kota dengan 210.000 penduduk tetap, adalah pelabuhan China-Myanmar dengan arus orang, kendaraan, dan barang terbesar.

Merebaknya wabah di Ruili juga erat kaitannya dengan melonjaknya kasus di negara tetangga.

"Sementara penyakit pernapasan harus berkembang dalam kurva ke bawah selama musim panas, epidemi di negara-negara Asia Selatan adalah sebaliknya. Negara-negara Asia Selatan itu berjuang melawan jenis virus Delta dari India, yang lebih kuat dalam penularannya," kata Wang.

Wang mengatakan bahwa kemungkinan kasus impor yang telah menyelesaikan 14 hari karantina dan kemudian menularkan virus ke orang lain rendah. Fenomena pasien Covid-19 yang terinfeksi ulang menyebabkan infeksi baru kepada orang lain juga jarang terjadi.

"Sulit untuk menjaga ketat terhadap kasus-kasus impor di sepanjang perbatasan yang panjang dan rumit dalam waktu yang lama. Jadi dapat dimengerti bahwa kasus impor sporadis telah terjadi," kata Zeng Guang, kepala ahli epidemiologi di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Jepang Akui Otonomi Sahara Solusi Paling Realistis

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:21

Pencanangan HUT Jakarta Bawa Mimpi Besar Jadi Kota Global

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:02

Warga Jakarta Kini Wajib Pilah Sampah Jadi 4 Kategori, Ini Daftarnya

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:40

Kritik Amien Rais Dinilai Bermuatan Panggung Politik

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:30

Pramono Optimistis Persija Menang Lawan Persib

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:18

Putin Klaim Perang Ukraina Segera Berakhir, Siap Temui Zelensky untuk Damai

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:10

JK Negarawan, Pemersatu Bangsa, dan Arsitek Perdamaian Nasional yang Patut Dihormati

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:48

BMKG-BNPB Lakukan OMC Kendalikan Potensi Karhutla di Sumsel

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:41

Israel Bangun Pangkalan Militer Rahasia di Gurun Tanpa Sepengetahuan Irak

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:23

KPK Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya Anggota BPK Haerul Saleh

Minggu, 10 Mei 2026 | 09:44

Selengkapnya