Berita

Di tengah pandemi Covid-19, vaksinasi merupakan salah satu upaya penting yang perlu dilakukan demi mengendalikan penularan/Net

Dunia

Pakar: Orang Yang Tidak Divaksinasi Covid-19 Adalah 'Pabrik Varian'

MINGGU, 04 JULI 2021 | 14:43 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Di tengah pandemi Covid-19, vaksinasi merupakan salah satu upaya penting yang perlu dilakukan demi mengendalikan penularan.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang masih ragu atau enggan untuk menerima suntikan vaksin Covid-19.

Sejumlah pakar penyakit menular di dunia menjelaskan bahwa orang yang tidak divaksinasi sebenarnya melakukan lebih dari sekedar mempertaruhkan kesehatan mereka sendiri. Mereka juga berisiko bagi semua orang jika mereka terinfeksi virus corona, pasalnya mereka bisa menjasi dumber dari varian virus corona baru.


Mengapa demikian?

"Orang yang tidak divaksinasi adalah pabrik varian potensial," kata seorang profesor di Divisi Penyakit Menular di Vanderbilt University Medical Center Dr. William Schaffner, kepada CNN baru-baru ini.

Karena itu dia menekankan bahwa semakin banyak orang yang tidak divaksinasi, maka semakin banyak juga peluang virus berkembang biak.

"Ketika itu terjadi, itu bermutasi, dan itu bisa menimbulkan mutasi varian yang bahkan lebih serius di masa depan," jelasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, semua virus bermutasi, dan meskipun virus corona tidak terlalu rentan terhadap mutasi, virus ini berubah dan berevolusi.

Sebagian besar perubahan tidak berarti apa-apa bagi virus, dan beberapa dapat melemahkannya. Namun terkadang, virus mengembangkan mutasi acak yang memberikan keuntungan, misalnya, transmisibilitas yang lebih baik, atau replikasi yang lebih efisien, atau kemampuan untuk menginfeksi berbagai inang yang sangat beragam.

Virus dengan keunggulan akan mengungguli virus lain, dan pada akhirnya akan menjadi mayoritas partikel virus yang menginfeksi seseorang.

Jika orang yang terinfeksi itu menularkan virus ke orang lain, mereka akan menularkan versi mutannya. Dan jika versi mutan cukup berhasil, maka itu menjadi varian.

Namun perlu replikasi untuk melakukan hal tersebut. Sedangkan orang yang tidak divaksinasi memberikan kesempatan untuk replikasi tersebut.

“Ketika mutasi muncul pada virus, yang bertahan adalah yang membuat virus lebih mudah menyebar di populasi,” kata ahli mikrobiologi dan imunologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg, Andrew Pekosz, seperti dikabarkan CNN akhir pekan ini (Minggu, 4/7).

"Setiap kali virus berubah, itu memberi virus platform yang berbeda untuk menambahkan lebih banyak mutasi. Sekarang kami memiliki virus yang menyebar lebih efisien," tambahnya.

Sedangkan, virus yang tidak menyebar tidak dapat bermutasi.

"Semakin kita membiarkan virus menyebar, semakin besar peluang virus itu untuk berubah," begitu bunyipernyataan yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bulan lalu.

Sementara itu, vaksin Covid-19 yang ada saat ini melindungi dengan baik terhadap semua varian sejauh ini. Namun tidak menutup kemungkinan untuk berubah setiap saat. Itu sebabnya dokter dan pejabat kesehatan masyarakat ingin lebih banyak orang divaksinasi.

"Setiap kali kita melihat virus beredar di populasi, terutama populasi yang memiliki kantong orang yang kebal, orang yang divaksinasi, dan kantong orang yang tidak divaksinasi, Anda memiliki situasi di mana virus itu dapat diselidiki," kata Pekosz.

Jika virus mencoba menginfeksi seseorang yang memiliki kekebalan, virus itu mungkin gagal, atau mungkin berhasil dan menyebabkan infeksi ringan atau tanpa gejala. Dalam hal ini, virus akan bereplikasi sebagai respons terhadap tekanan dari sistem kekebalan yang prima.

Ibaratnya seperti perampok bank yang menjadi buronan yang gambarnya berada di poster buronan di mana-mana, virus yang berhasil bermutasi adalah virus yang membuat perubahan acak yang membuatnya terlihat kurang terlihat oleh sistem kekebalan tubuh.

Karena itu, populasi orang yang tidak divaksinasi memberi virus perubahan, tidak hanya untuk menyebar, tetapi juga untuk berubah.

"Yang dibutuhkan hanyalah satu mutasi pada satu orang," kata seorang dokter anak dan ahli imunologi di Boston College, Dr. Philip Landrigan.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Negeri Para Bocil

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:14

DPR Tidak Boleh Hadapi Pendemo dengan Pendekatan Keamanan

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:02

Tak Benar Yayasan Syarif Hidayatullah Berkonflik dengan UIN Jakarta

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:45

Desil DTSEN Tak Boleh Merugikan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:34

Beban Kesehatan Karhutla Tembus Rp120 Triliun

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:22

Pejabat Jangan Merasa Sok Tahu Persoalan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:12

Jokowi seperti Gelisah dengan Pernyataan Budi Arie

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:28

Dinas Perumahan Harus Bergerak Cepat Tuntaskan Masalah Warga Taman Rasuna

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:16

Naik Motor dari Indramayu, Konten Kreator Ini Semangat Ikut Demo di DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:00

Polri Kumpulkan Donasi Rp12,6 Miliar untuk NTT

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:46

Selengkapnya