Berita

Presiden RI Joko Widodo/Net

Publika

"The King Of Lip Service" Sinyal Negara Dalam Bahaya

KAMIS, 01 JULI 2021 | 14:42 WIB

PENYEMATAN gelar atau julukan kepada seorang presiden yang membawa nama besar dan martabat negara langsung sebagai legitimasi pengakuan rakyat pada pemimpinnya bukanlah hal yang dapat dipandang sederhana, bahkan atas nama demokrasi sekalipun.

Meskipun pascareformasi kebebasan berekspresi, mengkritik memakai berbagai atribut simbolik, bahkan caci maki, dialami hampir di setiap periode masing-masing presiden, namun apa yang disematkan kepada Presiden Jokowi terasa memiliki kebenaran suara jiwa rakyat yang teramat kuat dan dalam.

Indikator itu dapat dilihat dari meluasnya suara banyak kalangan intelektual akademik, profesional, hingga rakyat biasa yang antusias menyambut di media sosial sebagai pembenaran atas julukan itu. Raja yang hanya manis di bibir. Dalam nyata, banyak kepahitan yang diberikan.


Di samping itu Istana pun bahkan tak memiliki nalar logika tandingan ataupun kontra reaksi yang setara. Alih-alih mampu menepis referensi yang dipakai BEM UI malah kesan menyetujui gelar itu tepat adanya adalah gestur yang tercermin di sana.

Istana tentu tahu bahwa julukan "lip service" itu secara harfiah adalah pembohong, dan tentu saja negara yang dipimpin seorang raja pembohong adalah amat memalukan dan menyakitkan kehormatan negara dan bangsa sendiri.

Dalam konteks lebih lanjut, tentu secara konstitusi sangat terlarang kepemimpinan semacam ini dan karenanya sebuah panel pemeriksa perlu dibentuk oleh MPR dan DPR.

Hal ini untuk membuktikan apakah benar presiden telah melakukan perbuatan yang menjadi dasar penobatan itu secara sadar atau tidak.

Ini juga menjadi sangat penting, karena siapapun yang merasa sebagai anak bangsa, apalagi menyandang tanggung jawab sebagai wakil rakyat telah menjadi bagian yang tak terpisahkan di bawah kepemimpinan yang selama ini ternyata banyak membohongi rakyatnya.

Penobatan gelar meskipun hanya berupa simbol yang dihadirkan ke depan publik lewat media sosial tentu memiliki nilai moralitas tersendiri dan istilah raja itu adalah hirarki tertinggi dari penguasa negeri, sehingga tentu merefleksikan citra bangsanya secara langsung.

Istana tak boleh hanya diam membisu tatkala sang Raja dinobatkan sebagai pemimpin pembohong, kecuali memang diam itu dimaknai sepakat dan menjadi sinyal negara dalam bahaya kepemimpinan dari sosok "The King Of Lip Service".

Adian Radiatus

Pemerhati masalah sosial dan politik


Populer

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

OTT Pegawai Pajak Jakarta Utara: KPK Sita Uang Ratusan Juta dan Valas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:14

Mendagri: 12 Wilayah Sumatera Masih Terdampak Pascabencana

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:04

Komisi I DPR: Peran TNI dalam Penanggulangan Terorisme Hanya Pelengkap

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:33

X Ganti Emotikon Bendera Iran dengan Simbol Anti-Rezim

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:27

Trump Sesumbar AS Bisa Kuasai 55 Persen Minyak Dunia Lewat Venezuela

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:10

Konten Seksual AI Bikin Resah, Grok Mulai Batasi Pembuatan Gambar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:52

Ironi Pangan di Indonesia: 43 Persen Rakyat Tak Mampu Makan Bergizi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:41

Emas Antam Berkilau, Naik Rp25.000 Per Gram di Akhir Pekan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:34

Khamenei Ancam Tindak Tegas Pendemo Anti-Pemerintah

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:22

Ekonomi Global 2026: Di Antara Pemulihan dan Ketidakpastian Baru

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:06

Selengkapnya