Berita

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan/Net

Dunia

PM Pakistan: Kenapa Kita Harus Memilih Antara China Dan AS? Sangat Tidak Adil

RABU, 30 JUNI 2021 | 21:36 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan mempertanyakan keharusannya untuk memihak dalam persaingan antara China dan Amerika Serikat (AS).

Khan mengatakan, sangat tidak adil bagi negara-negara seperti Pakistan untuk memihak dalam persaingan kekuatan-kekuatan besar.

"Dari sudut pandang ini, Pakistan berpikir bahwa sangat tidak adil bagi negara-negara seperti kita untuk memihak. Mengapa kita harus mengambil pihak? Kita harus memiliki hubungan yang baik dengan semua orang," ujarnya.


Meski begitu, Khan juga menyoroti aliansi Quad yang dibentuk oleh AS bersama dengan Australia, India, dan Jepang. Aliansi tersebut dibentuk untuk menyeimbangkan pengaruh China di kawasan.

"Gagasan bahwa India seharusnya bersandar ke dunia Barat untuk mengimbangi China akan sangat merugikan India," jelasnya.

Menurut Khan, India justru akan lebih mendapat manfaat perdagangan dari China daripada hanya berperan sebagai penyeimbang. Ia menambahkan, jika ada negara yang kalah, itu adalah India.

"Jika tekanan diberikan pada Pakistan untuk mengubah hubungannya dengan China atau menurunkan hubungan itu tidak akan terjadi karena hubungan kami sangat dalam. Tidak peduli berapa banyak tekanan yang diberikan pada kami, hubungan Pakistan dan China tidak akan berubah," tegasnya.

Pernyataan Khan merujuk pada pengungkapannya bahwa AS telah menekan Pakistan untuk tidak lagi berhubungan dengan China.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya