Berita

Pemerintah Ethiopia deklarasikan gencatan senjata di wilayah Tigray/Net

Dunia

TPLF Rebut Ibukota Tigray, Pemerintah Ethiopia Deklarasikan Gencatan Senjata

SELASA, 29 JUNI 2021 | 10:28 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Setelah berbulan-bulan pertempuran penuh darah, pemerintah Ethiopia mengumumkan gencatan senjata untuk konflik di Tigray.

Pengumuman gencatan senjata sepihak itu mucul setelah Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) mengklaim telah merebut kembali ibukota Mekelle pada Senin (28/6).

"Ibukota Tigray, Mekelle, berada di bawah kendali kami," ujar jurubicara TPLF, Getachew Reda kepada Reuters.


Dari laporan Al Jazeera, penduduk juga melihat pasukan TPLF berada di Mekelle untuk pertama kalinya sejak konflik meletus pada November tahun lalu.

Gencatan senjata diumumkan oleh media pemerintah setelah pemerintahan sementara Tigray yang ditunjuk pemerintah federal melarikan diri dari Mekelle.

"Deklarasi gencatan senjata sepihak ini dimulai dari hari ini, 28 Juni 2021, dan akan berlangsung sampai musim pertanian berakhir," kata pemerintah federal.

Di Ethiopia, musim panen berlangsung dari Juni hingga September. Gencatan senjata diharapkan dapat memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Sementara itu, TPLF sendiri menolak gencatan senjata sepihak tersebut dengan menyebutnya sebagai lelucon.

Menanggapi situasi di Tigray, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinannya.

"Peristiwa baru-baru ini di wilayah Tigray di Ethiopia sangat mengkhawatirkan. Mereka menunjukkan, sekali lagi, bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis ini," ujarnya.

Guterres mengatakan, ia telah berbicara dengan Perdana Menteri Abiy Ahmed, dan berharap penghentian permusuhan yang efektif dilakukan.

"Sangat penting bahwa warga sipil dilindungi, bantuan kemanusiaan menjangkau orang-orang yang membutuhkan dan solusi politik ditemukan," tambahnya.

Pada November lalu, pemerintahan Abiy Ahmed meluncurkan tindakan penegakan hukum setelah pasukan TPLF menyerang tentara Ethiopia di Tigray, termasuk Mekelle.

Konflik tersebut membuat lebih dari satu juta orang mengungsi dan puluhan ribu mengungsi ke negara tetangga Sudan.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cerita Zulhas, Numpang Helikopter TNI ke Bogor

Kamis, 17 September 2026 | 21:47

Hari Transportasi Nasional, Momentum Wujudkan Kedaulatan Energi Bersama Program B50

Kamis, 17 September 2026 | 21:17

Ulasan Buku: Sumbangan Filsafat dari Indonesia untuk Dunia yang Kehilangan Makna

Kamis, 17 September 2026 | 21:15

KPK Amankan Dokumen dan Bukti Elektronik dari Penggeledahan di Kementerian ATR/BPN

Kamis, 17 September 2026 | 20:53

Bahlil Pastikan BUK Pengganti SKK Migas Langsung di Bawah Presiden

Kamis, 17 September 2026 | 20:41

Haji Isam Borong 10 Miliar Saham Bayan Resources

Kamis, 17 September 2026 | 20:21

Prabowo Pimpin Sidang Dewan Energi Nasional, Dorong Persiapan Produksi E50

Kamis, 17 September 2026 | 20:04

Ekoteologi PTKIN Raih Penghargaan UI GreenMetric 2026

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Ratusan Karyawan PT HD Arjuna Tuntut Kembali Bekerja

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Bahlil Akui Kasus Korupsi Fahd A Rafiq Musibah bagi Golkar

Kamis, 17 September 2026 | 19:38

Selengkapnya