Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Gilgamesh dan Global Antropogenik

JUMAT, 09 JANUARI 2026 | 04:59 WIB | OLEH: JIMMY H SIAHAAN

GILGAMESH adalah sebuah epos dari Mesopotamia kuno. Versi pertama yang masih ada dari epos gabungan ini, yang dikenal sebagai versi "Babilonia Kuno", berasal dari abad ke-18 SM dan diberi judul berdasarkan, Shutur eli sharri atau "Melampaui Semua Raja Lain". 

Versi Babilonia Standar yang kemudian disusun oleh Sîn-leqi-unninni berasal dari sekitar abad ke-13 hingga ke-10 SM dan memuat, Sha naqba imuru atau "Dia Yang Melihat Kedalaman", secara harfiah "Dia Yang Melihat Yang Tak Diketahui."

Gilgamesh, raja Uruk, dan Enkidu, seorang manusia liar yang diciptakan oleh para dewa untuk menghentikan Gilgamesh dari menindas rakyatnya. Setelah Enkidu menjadi beradab melalui inisiasi seksual dengan Shamhat ia pergi ke Uruk, di mana ia menantang Gilgamesh untuk adu kekuatan. 


Bersama-sama, mereka melakukan perjalanan selama enam hari ke Hutan Cedar yang legendaris, di mana mereka akhirnya membunuh Penjaganya, Humbaba,dan menebang Pohon Cedar yang suci. 

Dewi Ishtar mengirimkan Banteng Surga untuk menghukum Gilgamesh karena menolak rayuannya. Gilgamesh dan Enkidu membunuhnya, menghina Ishtar dalam prosesnya. Para dewa memutuskan untuk menghukum Enkidu dengan memberinya penyakit yang mematikan.

Pada bagian kedua dari epos tersebut, kesedihan atas kematian Enkidu menyebabkan Gilgamesh melakukan perjalanan panjang dan berbahaya untuk menemukan rahasia kehidupan abadi. 

Akhirnya, ia bertemu dengan Utnapishtim dan istrinya, satu-satunya manusia yang selamat dari Banjir yang dipicu oleh para dewa Athra-Hasi.  Gilgamesh belajar darinya bahwa "Kehidupan, yang kau cari, tidak akan pernah kau temukan."

Karena ketika para dewa menciptakan manusia, mereka membiarkan kematian menjadi bagiannya, dan kehidupan di tangan mereka sendiri". 

Cerita Pohon Cedar dan Banjir ternyata tidak berakhir. Berlanjut dalam kehidupan nyata sebagai realitas.

Gerakan Membeli Hutan

Gerakan "membeli hutan" adalah inisiatif viral yang dipicu oleh keprihatinan publik terhadap deforestasi, seperti yang dipopulerkan oleh Pandawara Group, untuk mengumpulkan dana secara gotong royong demi mencegah alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan atau tambang. 

Menyelamatkan hutan dari konversi menjadi perkebunan sawit, pertambangan, atau pembangunan komersial menunjukkan kekecewaan publik atas kegagalan pemerintah dalam melindungi hutan di Sumatera.

Johan Eliasch (Membeli 400.000 Hektare di Amazon), delansir happyeconews, pendekatan inovatif aktivis miliarder Swedia terhadap konservasi hutan hujan adalah dengan membelinya dan melindunginya. 

Ted Turner. Raksasa Konservasi di Amerika Serikat Luas tanah: ± 772.000 hektare Pendiri CNN, Ted Turner, dikenal sebagai salah satu pemilik tanah pribadi terbesar di Amerika Utara. Lahan ini sebagian besar dikelola untuk konservasi alam, habitat satwa liar seperti bison, dan pendidikan ekologis. 

Douglas Tompkins (Pendiri Taman Nasional Patagonia) Luas tanah konservasi: 890.000 hektare saja untuk Pumalín Park Douglas Tompkins dan istrinya Kris membeli dan mengelola lahan di Patagonia seluas ratusan ribu hektar, termasuk kawasan yang kini menjadi Pumalín Douglas Tompkins National Park seluas lebih dari 400.000 ha.  

Hansjörg Wyss (Filantropis Konservasi Global) Luas program lahan: Berkontribusi terhadap perlindungan ratusan ribu hektare Melalui Wyss Foundation, Hansjörg Wyss mendukung pembelian dan pelestarian lahan hutan serta ekosistem alam di beberapa negara, meskipun sebagian besar dilakukan lewat donasi kepada organisasi konservasi.

Yvon Chouinard (Aktivis Alam & Pendiri Patagonia) Luas dukungan lahan: Ribuan hingga puluhan ribu hektare Sebagai pendiri Patagonia, Chouinard dan organisasinya mendukung sejumlah proyek rewilding dan penanaman kembali hutan di berbagai benua.

Jeff Bezos (Reforestasi Global) Luas pendanaan proyek: Ratusan ribu hektar (melalui Bezos Earth Fund) Jeff Bezos tidak secara langsung memiliki tanah seperti pemilik ranch, tetapi melalui dana filantropi Bezos Earth Fund.

George Soros (Investasi Hijau untuk Alam) Luas dukungan lahan: Ribuan hingga puluhan ribu hektare George Soros dan Open Society Foundations mendukung perlindungan kawasan hutan dan program konservasi di Eropa dan Amerika untuk pengelolaan lahan berkelanjutan. (Bentuk dukungan lewat pendanaan proyek).

Anders Holch Povlsen (Raja Rewilding Skotlandia) Luas tanah: ± 89.000 hektare di Skotlandia Pemilik grup fashion Bestseller ini menjadi pemilik tanah pribadi terbesar di Inggris Raya, dengan puluhan ribu hektar tanah di Highlands yang difokuskan pada proyek rewilding dan restorasi ekosistem alami.

Amazon dan iklim Hipertropis

Hutan hujan Amazon kini memasuki pola iklim baru yang oleh para ilmuwan disebut sebagai kondisi “hipertropis”, ditandai panas dan kekeringan ekstrem yang melampaui batas ekosistem tropis. Fenomena ini dianggap sebagai kondisi yang nyaris tak pernah muncul di Bumi sejak sekitar 10 juta tahun lalu.

Perubahan ini dipicu oleh kombinasi panas ekstrem dan kekeringan berkepanjangan yang kian sering melanda kawasan tersebut akibat pemanasan global. 

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature pada tanggal,10 Desember 2025, yang menegaskan bahwa Amazon tengah melampaui batas toleransi ekosistem hutan tropis.

Selama ini, hutan tropis dikenal sebagai bioma terhangat dan terbasah di planet ini. Namun, pemanasan akibat aktivitas manusia mendorong kawasan tersebut ke kondisi iklim yang tidak lagi memiliki padanan di era modern. 

Para ilmuwan menemukan bahwa kekeringan di kawasan tropis sekarang berlangsung di bawah suhu yang jauh lebih panas dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini membuat tekanan terhadap vegetasi meningkat tajam dan kerusakan ekosistem menjadi semakin parah. 

Berdasarkan analisis data demografi hutan Amazon selama lebih dari 30 tahun, para ilmuwan menemukan bahwa kematian pohon meningkat drastis setiap kali terjadi kekeringan panas. 

Bahkan, tingkat kematian pohon tercatat melonjak hingga 55 persen pada periode-periode ekstrem tersebut. Spesies yang paling rentan adalah pohon perintis yang tumbuh cepat dengan kepadatan kayu rendah. 

Jenis ini umumnya berperan penting dalam regenerasi hutan, sehingga kehilapngannya berpotensi mengganggu struktur ekosistem secara menyeluruh. 

Penelitian juga mengamati langsung kondisi lapangan selama peristiwa El Niño kuat pada 2015 dan 2023. Hasilnya menunjukkan bahwa ketika kelembaban tanah turun hingga di bawah sekitar sepertiga kapasitas normal, laju transpirasi pohon langsung anjlok. 

Pohon menutup pori-pori daunnya untuk menghemat air, tetapi langkah ini justru menghambat fotosintesis. Akibatnya, pohon mengalami kekurangan karbon, sementara di saat yang sama terjadi kerusakan sistem hidrolik akibat terbentuknya gelembung udara di dalam jaringan pengangkut air. 

Tahun 2020 dianggap sebagai salah satu titik balik paling kelam dalam sejarah lingkungan modern. Di tahun inilah, Sebagian Kawasan Amazon atau hutan hujan terbesar di Dunia mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan fungsi.

Secara historis, Hutan Amazon dikenal sebagai "Paru-Paru Dunia" karena menyerap karbon dioksida (CO2) dalam jumlah besar dari atmosfer, menjadikannya penyerap karbon atau Carbon Sink yang vital untuk memitigasi perubahan iklim global.

Dari “Paru-Paru Dunia” yang selama jutaan tahun menyerap karbon, kini beberapa wilayahnya justru melepaskan lebih banyak CO2 dari pada yang mereka serap.

Ya, pernyataan bahwa sebagian Hutan Amazon telah berubah menjadi kontributor bersih pemanasan dan bukan lagi penyerap karbon didukung oleh temuan ilmiah, dengan data penting yang muncul sekitar tahun 2020 dan 2021.

Bagian tenggara Amazon melepaskan sekitar 1 miliar ton CO2 bersih setiap tahun. Angka yang biasanya hanya muncul dalam laporan emisi industri negara maju, kini datang dari sebuah hutan yang seharusnya menjadi pelindung Bumi.

Singkatnya, kombinasi deforestasi yang meluas, peningkatan suhu, dan kekeringan telah merusak kemampuan alami hutan untuk berfungsi sebagai penyerap karbon, mengubahnya menjadi sumber emisi gas rumah kaca yang mempercepat perubahan iklim.

Global antropogenik merujuk pada dampak atau perubahan pada skala global yang disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti peningkatan suhu bumi (pemanasan global), pencemaran lingkungan, dan perubahan ekosistem akibat industrialisasi, transportasi, deforestasi, serta penggunaan bahan bakar fosil yang meningkatkan gas rumah kaca. Ini adalah penyebab utama perubahan iklim modern.

Tahun lalu, Menhut Raja Juli mau babat 20 juta lahan hutan, demi pangan, lahan pertanian, perkebunan sawit sebagai bio energi. Seperti kita ketahui RI adalah juara Deforestasi. Kalimantan dan Sumatera menjadi bukti. Papua akan berlanjut. Kita sudah kehilangan 11 juta hutan primer dalam dua dekade terakhir. 

Sepertinya etos Gilgamesh akan berulang. Kutukan Dewa kembali bercerita. "Masuklah ke hutan bersembunyilah, jangan menjulurkan kepala dan tunggu," hingga datangnya pembeli areal hutan?

*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

Sekjen PBB Kecewa AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional

Jumat, 09 Januari 2026 | 16:15

Gus Yaqut Tersangka Kuota Haji, PKB: Walau Lambat, Negara Akhirnya Hadir

Jumat, 09 Januari 2026 | 16:15

Gus Yahya Tak Mau Ikut Campur Kasus Yaqut

Jumat, 09 Januari 2026 | 16:03

TCL Pamer Inovasi Teknologi Visual di CES 2026

Jumat, 09 Januari 2026 | 15:56

Orang Dekat Benarkan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis Ngadep Jokowi di Solo

Jumat, 09 Januari 2026 | 15:47

KPK Sudah Kirim Pemberitahuan Penetapan Tersangka ke Yaqut Cholil dan Gus Alex

Jumat, 09 Januari 2026 | 15:24

Komisi VIII DPR: Pelunasan BPIH 2026 Sudah 100 Persen, Tak Ada yang Tertunda

Jumat, 09 Januari 2026 | 14:56

37 WNI di Venezuela Dipastikan Aman, Kemlu Siapkan Rencana Kontigensi

Jumat, 09 Januari 2026 | 14:45

Pilkada Lewat DPRD Bisa Merembet Presiden Dipilih DPR RI

Jumat, 09 Januari 2026 | 14:40

PP Pemuda Muhammadiyah Tak Terlibat Laporkan Pandji Pragiwaksono

Jumat, 09 Januari 2026 | 14:26

Selengkapnya