Berita

Uighur di Turki/Net

Dunia

China Makin Berani, Turki Tidak Lagi Aman Bagi Uighur

MINGGU, 27 JUNI 2021 | 07:41 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Turki tidak dapat lagi dijadikan tempat yang aman bagi para pengungsi Uighur setelah muncul banyak laporan mengenai penindasan transnasional yang dilakukan China terhadap etnis tersebut.

Laporan dari Oxus Society for Central Asian Affairs baru-baru ini menyebutkan pemerintah China secara telah memperluas tindakan kerasnya terhadap minoritas Uighur ke negara-negara yang menjadi tujuan mencari suaka, termasuk Turki.

"Penjelasan yang mungkin untuk fiksasi China yang berkembang di Timur Tengah terletak pada perkembangan politik di Turki selama sedekade terakhir," kata laporan itu, seperti yang dikutip Ahval pada Minggu (27/6).


China dilaporkan sudah lama melakukan represi terhadap hak-hak budaya warga Uighur yang tinggal di Xinjiang. Saat ini, terdapat lebih dari 1 juta orang Uighur yang diyakini diisolasi di kamp konsentrasi pemerintah, menjadi sasaran berbagai bentuk kekerasan fisik dan mental.

Sejak 1950-an, ribuan orang Uighur yang melarikan diri dari penganiayaan di Xinjiang dengan mencari perlindungan ke Turki. Diperkirakan ada 50.000 orang Uighur yang saat ini tinggal di Turki, menjadi diaspora Uighur terbesar di dunia.

Secara historis, Turki memberikan dukungan pada Uighur. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, Ankara tengah meningkatkan hubungan dengan Beijing.

"Dalam beberapa tahun terakhir, Turki telah secara signifikan melunakkan dukungan retorisnya untuk Uighur, selain meningkatkan rendisi, penahanan, dan pengawasan terhadap populasi Uighur di sana," sambung laporan itu.

Pada 2021 saja, lapran itu menyebut terdapat 57 orang Uighur yang telah ditahan di Turki.

Terlebih dengan situasi pandemi Covid-19, muncul dugaan bahwa China berusaha untuk mendapatkan konsesi atas imbalan pengiriman vaksin Covid-19 ke Turki.

“Menjadi semakin jelas bahwa Turki tidak lagi menjadi tempat yang aman seperti dulu bagi para pengungsi dari wilayah Uighur,” pungkas laporan itu.

Populer

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Miliki Segudang Prestasi, Banu Laksmana Kini Jabat Kajari Cimahi

Jumat, 26 Desember 2025 | 05:22

Dugaan Korupsi Tambang Nikel di Sultra Mulai Tercium Kejagung

Minggu, 28 Desember 2025 | 00:54

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

UPDATE

Lima Penyidik Dipromosikan Jadi Kapolres, Ini Kata KPK

Senin, 05 Januari 2026 | 12:14

RI Hadapi Tantangan Ekonomi, Energi, dan Ekologis

Senin, 05 Januari 2026 | 12:07

Pendiri Synergy Policies: AS Langgar Kedaulatan Venezuela Tanpa Dasar Hukum

Senin, 05 Januari 2026 | 12:04

Pandji Pragiwaksono Pecah

Senin, 05 Januari 2026 | 12:00

Tokoh Publik Ikut Hadiri Sidang Nadiem Makarim

Senin, 05 Januari 2026 | 11:58

Tak Berani Sebut AS, Dino Patti Djalal Kritik Sikap Kemlu dan Sugiono soal Venezuela

Senin, 05 Januari 2026 | 11:56

Asosiasi Ojol Tuntut Penerbitan Perpres Skema Tarif 90 Persen untuk Pengemudi

Senin, 05 Januari 2026 | 11:48

Hakim Soroti Peralihan KUHAP Baru di Sidang Nadiem Makarim

Senin, 05 Januari 2026 | 11:44

Akhir Petrodolar

Senin, 05 Januari 2026 | 11:32

Kuba Siap Berjuang untuk Venezuela, Menolak Tunduk Pada AS

Senin, 05 Januari 2026 | 11:28

Selengkapnya