Berita

Mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai/Net

Dunia

Ekstremisme Masih Tinggi, Hamid Karzai: Misi AS Di Afghanistan Telah Gagal

SELASA, 22 JUNI 2021 | 13:50 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Misi Amerika Serikat (AS) untuk membawa stabilitas ke Afghanistan selama dua dekade terakhir dinyatakan telah gagal karena ekstremisme di negara itu masih sangat tinggi.

Demikian yang dikatakan oleh mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai dalam sebuah wawancara dengan Associated Press pada Minggu (20/6).

"Komunitas internasional datang ke sini 20 tahun yang lalu dengan tujuan yang jelas untuk memerangi ekstremisme dan membawa stabilitas. Tetapi ekstremisme berada pada titik tertinggi hari ini. Jadi mereka gagal," ujarnya.


Karzai menyebut penarikan pasukan AS dan NATO telah meninggalkan warisan berupa aib dan bencana bagi Afghanistan.

"Kami mengakui sebagai orang Afghanistan semua kegagalan kami, tetapi bagaimana dengan kekuatan-kekuatan yang lebih besar yang datang ke sini untuk tujuan itu? Di mana mereka meninggalkan kita sekarang? Dalam aib dan bencana total," jelas Karzai.

Selama 13 tahun pemerintahannya, Karzai telah mendesak AS untuk pergi dari Afghanistan. Ia menegaskan, rakyat Afghanistan memiliki keinginan dan tanggung jawab untuk menentukan masa depan negara mereka sendiri.

"Kita akan lebih baik tanpa kehadiran militer mereka. Saya pikir kita harus membela negara kita sendiri dan menjaga hidup kita sendiri. Lebih baik bagi Afghanistan jika mereka pergi," ucapnya.

Pemerintahan Karzai mengikuti penggulingan Taliban pada tahun 2001 oleh koalisi pimpinan AS yang meluncurkan invasi untuk memburu dan menghancurkan jaringan al-Qaeda dan pemimpinnya, Osama bin Laden, yang dipersalahkan atas serangan 9/11 di AS.

Selama pemerintahan Karzai, perempuan memperoleh lebih banyak hak, anak perempuan kembali bersekolah, masyarakat sipil muda yang bersemangat muncul, gedung-gedung tinggi baru didirikan di ibukota Kabul dan jalan serta infrastruktur dibangun.

Tetapi pemerintahannya juga ditandai dengan tuduhan korupsi, perdagangan narkoba, dan konflik dengan AS.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

4 Lapis Kegagalan PSSI dan Otoritas Liga

Jumat, 19 Juni 2026 | 02:18

Air Zamzam Jemaah Haji akan Didistribusikan di Tanah Air

Jumat, 19 Juni 2026 | 02:00

Gibran Prioritaskan Program MBG di Wilayah 3T

Jumat, 19 Juni 2026 | 01:21

Ceko Kontra Afsel Berbagi Skor 1-1

Jumat, 19 Juni 2026 | 01:19

Wamendes Dorong Intelektual Muda Mendukung Pembangunan Desa

Jumat, 19 Juni 2026 | 01:00

MBG Bermanfaat untuk Masa Depan Anak-anak

Jumat, 19 Juni 2026 | 00:26

Bomba Sayang Bumi Bagikan Bibit Tanaman di Muara Enim

Jumat, 19 Juni 2026 | 00:11

Rupiah Tak Bisa Kuat hanya dengan Kebijakan Moneter

Jumat, 19 Juni 2026 | 00:00

Warga Papua Surati Presiden Prabowo Minta Atensi Kasus Lahan Rp50 Miliar

Kamis, 18 Juni 2026 | 23:51

Kinerja Mendag Budi Santoso Harus Dievaluasi Demi Akselerasi Ekonomi

Kamis, 18 Juni 2026 | 23:37

Selengkapnya