Berita

Pengamat Politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing/Net

Politik

Benar Tidaknya, ICW Bisa Adu Data Soal Dugaan Kucuran Dana Asing Yang Jutaan Dolar AS

SENIN, 21 JUNI 2021 | 21:51 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Indonesia Corruption Watch (ICW) disebut mendapatkan kucuran dana asing yang penggunaannya disebut-sebut tidak jelas.

Ketua Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu Arief Poyuono, mendapat data dana hbah yang diterima ICW tersebut.

Disebutkan, ada dana sebesar 2,8 juta dolar Amerika Serikat dari UNODC melalui KPK yang nilainya setara dengan Rp 21,8 miliar dan Rp 1.474.974.795.


Selain itu, ICW juga menerima dari USAID tahun 2015 sebesar 289 juta dolar Amerika Serikat yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dan tidak bisa diaudit oleh BPK RI.

Dari data tersebut, Arief mendesak KPK, Polri, dan BPK untuk memeriksa ICW terkait penggunaan dana bantuan asing tersebut.

Menyusul, Pengamat Politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing, mengomentari temuan Arief Poyuono tersebut.

Ia menilai, mantan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu tidak mungkin asal jeplak, tapi mengacu pada basis data dan fakta yang terpercaya.

"Saya pikir para tokoh tersebut menyampaikan pandangannya pasti ada dasarnya, karena bagaimana pun nama-nama itu tokoh atau elit di republik ini. Sehingga ucapan mereka pasti berbasis pada informasi dan data yang mereka peroleh," kata Emrus kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (21/6).

Oleh karena itu, Emrus menyarankan agar ICW beradu data dengan Arief Poyuono dan pihak-pihak yang menyebut ICW menerima suntikan dana asing yang tidak jelas sumber dan penggunaannya itu.

Dari situ menurutnya, nantinya publik akan menilai validitas data kedua yang dipaparkan oleh kedua belah pihak, baik itu dari ICW ataupun Arief Poyuono dan pihak lainnya membuka wacana ini.

"Saya pikir mereka bertemu saja dalam suatu diskusi publik. Mereka beradu fakta, data, bukti, dan argumentasi. Daripada kedua belah pihak berwacana satu dengan yang lain. Tidak ada salahnya terbuka saja data yang mereka peroleh," ucapnya.

Terkait desakan Arief Poyuono yang meminta KPK Polri dan BPK memeriksa ICW, Emrus memandang itu bisa dilakukaj saat ditemukan dugaan penyimpangan. Namun, jika terbukti tidak ada penyimpangan, maka aparat penegak hukum tidak boleh memaksakan pemeriksaan terhadap ICW.

"Pernyataan Arief Poyuono bisa diterima sebagai sebuah kebebasan berpendapat. Tetapi saya lebih mendorong keterbukaan diantara mereka," ucapnya.

"Kalau memang nanti kita melihat ada penyimpangan, ya saya kira tidak ada salahnya dilanjutkan ke proses hukum. Tapi kalau memang tidak ada penyimpangan, ya saya kira tidak ada masalah," demikian Emrus.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

IJTI: Buku Saku 0 Persen Rujukan Penting Pers dan Publik

Sabtu, 11 April 2026 | 18:18

Prabowo Minta Maaf Belum Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

Sabtu, 11 April 2026 | 17:50

Aktivis Tegas Lawan Pengkhianat Konstitusi

Sabtu, 11 April 2026 | 17:27

OTT KPK Tangkap 18 Orang, Bupati Tulungagung Digulung

Sabtu, 11 April 2026 | 16:19

Ingatkan JK, Banggar DPR: Kenaikan Harga BBM Bisa Turunkan Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 11 April 2026 | 16:14

Wamen Ossy: Satgas PKH Wujud Penyelamatan Kekayaan Negara

Sabtu, 11 April 2026 | 15:54

Jawab Tren, TV Estetik dengan Teknologi Flagship Diluncurkan

Sabtu, 11 April 2026 | 15:21

KNPI Soroti Gerakan Pemakzulan: Sebut Capaian Pemerintahan Prabowo Sangat Nyata

Sabtu, 11 April 2026 | 14:54

Setelah 34 Tahun, Prabowo Pamit dari Kursi Ketum IPSI di Munas XVI

Sabtu, 11 April 2026 | 14:47

Hadiri Munas IPSI, Prabowo Ungkap Jejak Keluarga dalam Dunia Pencak Silat

Sabtu, 11 April 2026 | 14:28

Selengkapnya