Berita

Ilustrasi jemaah haji/Net

Publika

Ke Mana Dana Haji Mengalir?

MINGGU, 13 JUNI 2021 | 17:27 WIB

KERAJAAN Arab Saudi sudah memutuskan perihal pelaksanaan ibadah haji 1442 H/2021. Kuota jemaah haji dibatasi hanya untuk 60.000 jemaah saja, yang meliputi warga Arab Saudi maupun orang asing yang sudah tinggal di Arab Saudi.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia sudah memutuskan tidak memberangkatkan jemaah haji karena saat itu belum ada kejelasan dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 660 Tahun 2021.

Keputusan tidak memberangkatkan jemaah haji menuai kritik, salah satunya dikaitkan dengan pengelolaan dana haji. Banyak yang mempertanyakan transparansi dan keamanan dana haji.


Di antaranya, mantan jurubicara Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Adhie Massardi memberikan usul agar dilakukan audit independen dengan menggandeng ormas-ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah.

Atau dengan cara lain yang lebih simple uangnya diperlihatkan secara fisik kepada masyarakat di Monas.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Anggito Abimanyu pada 7 Juni 2021 memberikan 9 klarifikasi. Di antaranya, katanya, tidak ada investasi dana haji yang dialokasikan ke pembiayaan infrastruktur.

Alokasi investasi ditujukan kepada investasi dengan profil risiko low to moderate. 90 persen adalah dalam bentuk surat berharga syariah negara dan sukuk korporasi.

Dari jawaban tersebut, BPKH perlu menjelaskan lebih rinci lagi perihal di satu sisi menyatakan tidak ada pembiayaan infrastruktur namun di sisi lain menyatakan 90 persen investasi dalam bentuk surat berharga syariah negara (SBSN) dan Sukuk Korporasi.

Perlu diketahui, SBSN merupakan salah satu sumber pembiayaan APBN yang kemudian diwujudkan dalam bentuk belanja negara. Adapun anggaran infrastruktur dalam APBN 2021 mencapai Rp 414 triliun, sedangkan di tahun 2020 sebesar Rp 281 triliun.

Dengan masuknya dana haji ke dalam APBN, apakah ada jaminan tidak ada yang dialokasikan untuk belanja infrastruktur?

Selain SBSN, alokasi investasi lainnya adalah sukuk korporasi. Meskipun investasinya dengan profil risiko low to moderate, namun tidak ada jaminan keamanan investasi 100  persen. BPKH juga perlu membeberkan korporasi-korporasi yang menjadi tujuan investasi Sukuk sehingga publik bisa menilai tingkat keamanan investasi di korporasi tersebut.

Selain itu, BPKH juga perlu menjelaskan alasan lebih memilih investasi jangka panjang dibanding jangka pendek. Hal tersebut dapat dilihat pada laporan 2020 dimana ada 3 keputusan penting, yakni: (1) menurunnya alokasi penempatan pada bank sebesar Rp9,0 triliun, dari Rp 54,2 triliun pada 2019 turun menjadi Rp 45,2 triliun pada 2020, (2) menurunnya investasi jangka pendek sebesar Rp 1,1 triliun, dari Rp 9,9 triliun pada 2019 turun menjadi Rp 8,8 triliun pada 2020, dan (3) meningkatnya investasi jangka panjang sebesar Rp 30,7 triliun, dari Rp 60,0 triliun pada 2019 naik menjadi Rp 90,7 triliun pada 2020.

Bukankah dalam keadaan normal, haji dilaksanakan tiap tahun. Artinya, dana haji juga dibutuhkan tiap tahun. Kenapa dana haji sebesar Rp 90,7 triliun ditempatkan pada investasi jangka panjang?

Dengan pertimbangan tersebut, sudah tepat usul dari mantan jurubicara Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Adhie Massardi, agar dilakukan audit independen dengan menggandeng ormas-ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah.

Persoalan tiadanya keberangkatan jemaah haji Indonesia pada musim haji 2021 sudah terjawab dengan jelas. Persoalan kedua perihal pengelolaan dana haji perlu juga diperjelas agar umat mendapat jawaban yang tepat dan bertanggung jawab.

M. Rahmat
Ketua Perhimpunan Masyarakat Madani (Prima)

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya