Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Laporan: Belanda Gagal Lindungi Anak-anak Dari Kekerasan Seksual, Setiap Tahun Ada Lebih Dari 20 Ribu Korban

SELASA, 08 JUNI 2021 | 17:02 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Belanda dinilai gagal melindungi anak-anak dari kekerasan seksual. Hampir setengah dari semua anak perempuan dan satu dari lima anak laki-laki mengalami kekerasan seksual sebelum ulang tahun ke-18 mereka. Lebih dari 20 ribu anak menjadi korban setiap tahun.

“Itu berarti korban pemerkosaan, penyerangan seksual atau pemerasan,” kata Herman Bolhaar, Pelapor Nasional untuk Perdagangan Manusia dan Kekerasan Seksual Terhadap Anak kepada media lokal, seperti dikutip dari NL Times, Selasa (8/6).

“Sekolah, pemerintah dan lembaga perlu berbuat lebih banyak, dan lebih cepat, untuk mencegah kekerasan seksual,” kata Bolhaar.


Menurutnya, pelakunya banyak yang berusia muda, lebih dari seperempatnya adalah anak di bawah umur.

“Banyak anak muda yang tidak tahu apa batasannya, untuk diri sendiri, apalagi untuk orang lain. Sama seperti kita memberikan pelajaran renang kepada anak-anak, program struktural harus diatur seputar tema ini, misalnya di sekolah. Itu harus menjadi nilai tetap dalam pendidikan,” ujarnya.

Dia mengatakan, seperempat dari pelanggaran seks ringan melakukan pelanggaran baru dalam waktu dua tahun.

Menurut Bolhaar, pelanggar tidak dipantau oleh pihak berwenang cukup lama setelah hukuman mereka. Pengadilan dan hukuman mereka juga harus dilakukan lebih cepat.

“Rata-rata, ada 417 hari antara hari kasus diajukan ke Kejaksaan Umum dan putusan dibuat oleh pengadilan,” ujarnya.

Bolhaar juga mengungkapkan, banyak pelaku menjadi korban kekerasan seksual itu sendiri. Ini sering melibatkan kaum muda yang rentan yang sudah memiliki masalah di rumah atau di sekolah.

“Mengidentifikasi masalah ini sejak dini sangat penting dan harus dilakukan dengan lebih baik. Polisi, Kejaksaan, dan pemerintah kota harus mengambil langkah dalam hal ini,” katanya.

Bolhaar juga ingin para pekerja muda lebih terlatih dalam menjadikan kekerasan seksual sebagai topik yang dapat didiskusikan dengan aman.

“Lebih dari separuh korban tidak pernah melaporkan diserang, seringkali karena mereka takut. Ini perlu diubah,” demikian Bolhaar.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Tak Perlu Takut dengan Ide Kewarganegaraan Ganda Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:26

Cara Mengubah Desil DTSEN Secara Online dan Offline, Lengkap dengan Langkahnya

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:15

Tak Cuma Revisi, DPR Sepakat Regulasi Baru Migas

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:14

GBNI Dukung Program Kerakyatan Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:37

B50 Perkuat Kemandirian Energi, Hemat Devisa, dan Dorong Transformasi Ekonomi

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:34

Presiden Perintahkan Penanganan Darurat, Wamensos Terjun ke Lokasi Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:28

21 Kantong Parkir Disiapkan Saat Perayaan HUT ke-81 RI di Jakarta

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:31

MBG Harus Kembali ke Tujuan Awal Bukan Jadi Ladang Bisnis

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:21

Ruas Jalan di Jakarta Direkayasa Saat Perayaan HUT ke-81 RI

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:12

Besok! Ongkos Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta Cuma Rp8

Minggu, 16 Agustus 2026 | 07:30

Selengkapnya