Berita

Paus Fransiskus/Net

Dunia

Paus Fransiskus Mengaku Sedih Atas Penemuan 215 Jasad Anak, Tapi Belum Meminta Maaf Atas Nama Gereja

SENIN, 07 JUNI 2021 | 07:37 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Paus Fransiskus pada Minggu (6/6) akhirnya buka suara soal penemuan sisa-sisa 215 jasad anak di bekas sekolah asrama Katolik untuk siswa pribumi di Kanada. Dia mengaku sedih atas peristiwa tersebut dan menyerukan penghormatan terhadap hak dan budaya masyarakat asli.

Namun demikian, Paus tidak mengungkapkan  permintaan maaf secara langsung, seperti yang diminta beberapa orang Kanada. Dia juga tidak harus bertanggung jawab atas kematian tersebut atas nama Gereja Katolik.

Berbicara kepada para peziarah dan turis di Lapangan Santo Petrus untuk pemberkatan mingguannya, Paus mendesak para pemimpin politik dan agama Katolik Kanada untuk bekerja sama dengan tekad untuk menjelaskan temuan itu dan untuk mencari rekonsiliasi dan penyembuhan.


"Saya bersatu bersama orang-orang Kanada yang telah trauma dengan berita mengejutkan itu," kata Paus seperti dikutip dari AFP, Senin (7/6).

Sekolah asrama yang beroperasi antara tahun 1831 dan 1996 dijalankan oleh sejumlah denominasi Kristen atas nama pemerintah. Sebagian besar sekolah-sekolah itu dijalankan oleh Gereja Katolik.

Penemuan sisa-sisa anak-anak di Kamloops Indian Residential School di British Columbia bulan lalu, yang ditutup pada tahun 1978, telah membuka kembali luka lama dan memicu kemarahan di Kanada tentang kurangnya informasi dan akuntabilitas.

"Saya mengikuti dengan sedih berita yang datang dari Kanada tentang penemuan jenazah 215 anak. Saya bergabung dengan gereja Katolik di Kanada dalam mengungkapkan kedekatan dengan orang-orang Kanada yang trauma dengan berita mengejutkan itu,'' kata Paus Fransiskus dalam sambutannya yang biasa pada Minggu siang kepada publik.

"Penemuan menyedihkan ini meningkatkan kesadaran akan kesedihan dan penderitaan di masa lalu. Semoga otoritas politik dan agama terus bekerja sama dengan tekad untuk menjelaskan perselingkuhan yang menyedihkan ini dan berkomitmen untuk jalan penyembuhan,” tambah Francis

Menambahkan bahwa peristiwa ini menjadi pengingat ke depannya untuk berjalan berdampingan dalam dialog dan saling menghormati hak dan nilai budaya semua putra dan putri Kanada.

Kamloops Indian Residential School secara paksa memisahkan sekitar 150.000 anak dari rumah mereka di masa lalu. Banyak yang menjadi sasaran pelecehan, pemerkosaan, dan kekurangan gizi dalam apa yang disebut Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Kanada pada tahun 2015 sebagai 'genosida budaya'.

“Mari kita memuji Tuhan jiwa semua anak yang meninggal di sekolah-sekolah perumahan Kanada dan marilah kita berdoa untuk keluarga dan komunitas asli Kanada yang hancur oleh rasa sakit,” kata Paus  sebelum meminta orang banyak untuk bergabung dengannya dalam keheningan doa.

Dua hari lalu, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan bahwa Gereja Katolik harus bertanggung jawab atas perannya dalam menjalankan banyak sekolah.

Trudeau pada hari Jumat mengecam Gereja karena diam, dan memintanya untuk secara resmi meminta maaf dan untuk memperbaiki perannya yang menonjol dalam sistem sekolah asrama pribumi yang dikelola gereja sebelumnya.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Herman Deru Perintahkan Jalinsum Diperbaiki Usai Tragedi Bus ALS

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:22

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Pemakzulan Trump Mencoreng Citra Demokrasi Barat

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:01

Politik Mesias Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:27

Saksi Sidang di PN Jakbar Dikejar-kejar hingga Diduga Dianiaya

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:06

Pendidikan Bukan Komoditas Ekonomi

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:03

Korban Kecelakaan Bus ALS Jadi 18 Orang

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:32

Kritik Amien Rais Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:14

Selengkapnya