Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Pengamat: Perluasan Sanksi Biden Pada 59 Perusahaan China Justru Rugikan Investor AS Sendiri

SABTU, 05 JUNI 2021 | 06:49 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Para ahli di Beijing angkat bicara soal keputusan Joe Biden yang memperluas sanksi era pendahulunya, Donald Trump terhadap 59 perusahaan China pada Kamis (3/6).

Menurut para ahli, lewat keputusan tersebut pemerintahan Biden sedang mencari strategi yang lebih komprehensif dan mendalam untuk bersaing dengan China. Padahal, menurut mereka, dengan keputusan tersebut, AS seolah seperti sedang 'mengangkat batu yang pada akhirnya akan jatuh di kakinya sendiri'.

Biden pada Kamis (3/6) menandatangani perintah eksekutif yang melarang warga AS memiliki atau memperdagangkan sekuritas apa pun yang terkait dengan 59 perusahaan dengan alasan ancaman teknologi pengawasan China, itu termasuk Huawei Technologies dan tiga perusahaan telekomunikasi terbesar di negara itu.


Larangan investasi baru itu akan berlaku mulai 2 Agustus mendatang. Investor memiliki waktu satu tahun untuk melakukan divestasi.

Ini adalah perintah eksekutif paling luas yang menargetkan entitas China sejak Biden menjabat meskipun ada sanksi yang tersebar sebelumnya.

"Biden tidak hanya mempertahankan tetapi juga memperluas kebijakan pada perusahaan-perusahaan China pada periode pendahulunya, dan salah satu tujuan saat ini adalah mencari strategi yang lebih komprehensif dan mendalam untuk bersaing dengan China," kata Li Haidong, profesor di Institute of International Hubungan Universitas Luar Negeri China, seperti dikutip dari Global Times, Jumat (4/6).

"Langkah tersebut adalah sebuah operasi politik dengan mengorbankan kepentingan ekonomi, memiliki makna 'simbolis' yang kuat. Ini seperti menunjukkan sikap AS terhadap sekutunya," ujar Li.

Namun, Li mencatat larangan yang lebih luas pasti akan akan menyebabkan kerugian yang lebih besar bagi perusahaan dan investor AS yang memiliki kerja sama erat dengan entitas dalam 'daftar hitam' Biden.

"Seperti mengangkat batu hanya untuk menjatuhkannya sendiri pada akhirnya bagi pemerintah AS," katanya.

Sementara mantan wakil direktur Asosiasi Operasi Ekonomi Beijing, Tian Yun mengatakan perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa perang teknologi yang meningkat antara China dan AS tidak akan berubah di bawah pemerintahan Biden.

"Banyak perusahaan dalam urutan Biden sudah ada dalam daftar Pemerintah Trump, dan daftar baru memiliki makna simbolis yang lebih daripada signifikansi praktis untuk memenangkan dukungan pemilih Trump," ujarnya.

Pengamat China mengatakan salah satu tujuan pemerintahan Biden saat ini adalah untuk mengembangkan persaingan yang lebih komprehensif dan strategis.

Upaya pemerintah AS untuk melemahkan perkembangan ekonomi dan teknologi perusahaan China tidak akan berhasil dan rencananya hanya akan menyebabkan kerugian bagi perusahaan dan investor AS, kata mereka. 

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya