Berita

Isu Hak asasi Manusia di Myanmar kembali mengundang sorotan setelah baru-baru ini sebuah pengadilan di negara tersebut yang dikuasai militer memenjarakan dua wartawan/Reuters

Dunia

Lagi, Dua Wartawan Myanmar Masuk Bui Setelah Liput Protes Anti-Kudeta

KAMIS, 03 JUNI 2021 | 13:17 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Isu Hak asasi Manusia di Myanmar kembali mengundang sorotan setelah baru-baru ini sebuah pengadilan di negara tersebut yang dikuasai militer memenjarakan dua wartawan.

Mereka dipenjara di bawah undang-undang era kolonial yang baru-baru ini direvisi yang menyebut bahwa penyebaran "berita palsu" adalah sebuah bentuk kejahatan. Namun, yang menjadi polemik adalah, pengungkapan fakta terkait kudeta dan kekerasan militer yang dilakukan oleh wartawan dalam kerangka kerja jurnalisme di Myanmar kerap kali dicap sebagai "berita palsu".

Mengutip kabar yang dimuat Al Jazeera (Kamis, 3/6), pengadilan militer di Myeik selatan pada menghukum wartawan bernama Aung Kyaw dari Suara Demokratik Burma (DVB) dan Zaw Zaw, seorang reporter lepas untuk Mizzima News dengan kurungan penjara selama dua tahun atas pelaporan mereka tentang protes anti-kudeta yang melanda Myanmar.


Aung Kyaw, yang menyiarkan langsung penangkapannya, adalah jurnalis DVB ketiga yang dipenjara sejak kudeta militer yang terjadi di Myanmar. Kudeta itu diketahui memicu gelombang protes dan seruan untuk pemulihan pemerintahan demokratis Aung San Suu Kyi.

Namun, pasukan keamanan menanggapi protes yang terjadi dengan kekerasan dan penangkapan.

Bahkan Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, yang telah melacak penangkapan dan kematian, menemukan bahwa setidaknya 841 orang telah tewas dalam kekerasan tersebut.

Tindakan keras militer tersebut bukan hanya dilakukan pada pengunjuk rasa, namun juga pada media massa.

Militer yang berkuasa menindak media independen, mencabut izin sejumlah organisasi berita, termasuk DVB dan Mizzima, juga membatasi akses ke internet dan melarang televisi satelit.

“Junta militer secara ilegal menahan Aung Kyaw,” begitu kutipan kabar yang dimuat oleh DVB dalam sebuah pernyataan.

“Ini jelas merupakan pelanggaran hukum nasional dan internasional oleh junta Burma," sambung pernyataan yang sama.

Sementara itu media Mizzima dalam sebuah pernyataan menyebut bahwa Zaw Zaw adalah salah satu dari lima stafnya yang ditahan sejak kudeta terjadi.

“Mizzima sangat percaya bahwa jurnalisme dan hak atas kebebasan berekspresi bukanlah kejahatan dan bahwa Mizzima dan semua media independen Myanmar harus diizinkan untuk berfungsi secara bebas di Myanmar,” begitu bunyi pernyataan pihak Mizzima di situs web resminya.

Menurut kelompok pemantau Reporting ASEAN, sejauh ini ada 87 wartawan yang telah ditangkap sejak kudeta Myanmar, 51 di antaranya masih ditahan.

Bukan hanya wartawan lokal, sejumlah wartawan asing juga telah ditahan termasuk dua warga negara Amerika Serikat.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Penumpang Kereta Bandara Tembus 6,2 Juta Pelanggan Hingga Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:20

Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:15

Prabowo Dorong WNI Masuk Pasar Kerja Teknologi Jerman

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:11

Warna-warni Kendaraan Hias Meriahkan Perayaan 1 Muharam

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:10

Oktasari: Kritik Boleh, Tapi Jangan Abaikan Kerja Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:46

Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Belum Lapor LHKPN 2025, Mendes Yandri Punya Harta Rp20,95 Miliar Saat Awal Menjabat

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Israel Masih Tak Terima Rencana Damai Iran-AS

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:12

Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:52

Universitas Binawan Buka Akses Penyetaraan Kualifikasi Nakes Indonesia di Uni Eropa

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:44

Selengkapnya