Berita

Presiden Justin Trudeau/Net

Dunia

Kanada Tuntut Permintaan Maaf Resmi Paus Fransiskus Atas Penemuan 215 Jenazah Anak Pribumi

KAMIS, 03 JUNI 2021 | 09:23 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah Kanada meminta Paus Fransiskus untuk mengeluarkan pernyataan permintaan maaf resmi atas peran yang dimainkan gereja Katolik dalam sistem sekolah asrama di Kanada, pasca penemuan sisa jenazah 215 anak di tempat yang dulunya merupakan sekolah terbesar di negara itu.

Kamloops Indian Residential School adalah fasilitas pendidikan terbesar di Kanada dan dioperasikan oleh gereja Katolik Roma antara 1890 dan 1969 sebelum pemerintah federal mengambil alih sebagai sekolah harian sampai ditutupnya pada tahun 1978.

Saat itu, hampir tiga perempat dari 130 sekolah dijalankan oleh kongregasi misionaris Katolik.


Permintaan maaf kepausan adalah salah satu dari 94 rekomendasi yang dibuat oleh Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang dibentuk sebagai bagian dari permintaan maaf pemerintah.

Pada 2017, Perdana Menteri Justin Trudeau telah meminta Paus untuk mempertimbangkan sikap 'permntaan maaf'  selama kunjungan ke Vatikan. Saat itu, isu bahwa sekolah asrama Katholik telah memainkan peran kekerasan dan pelecehan terhadap anak telah banyak dibahas.  

Konferensi Waligereja Katolik Kanada mengumumkan pada tahun 2018  bahwa Paus tidak dapat secara pribadi meminta maaf atas sekolah-sekolah asrama yang melakukan kekerasan terhadap anak-anak pribumi, meskipun ia tidak menghindar dari mengakui ketidakadilan yang dihadapi oleh masyarakat pribumi di seluruh dunia.

“Saya pikir memalukan bahwa hal itu belum dilakukan juga sampai sekarang," kata Marc Miller, menteri layanan masyarakat adat Kanada, seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (3/6).

“Ada tanggung jawab yang terletak tepat di pundak para uskup Katolik Kanada,” tambahnya.

Menteri Hubungan Masyarakat Adat, Carolyn Bennett, menambahkan bahwa permintaan maaf oleh Paus akan membantu mengurangi derita para penyotas dan keluarga yang ditinggalkan.

“Mereka ingin mendengar Paus meminta maaf,” katanya.

Kanada menghadapi sejarah kelam pelecehan di sekolah-sekolah asrama.

Dari abad ke-19 hingga 1970-an, lebih dari 150.000 anak-anak pribumi diambil paksa untuk masuk ke sekolah-sekolah Kristen yang didanai negara sebagai bagian dari program untuk mengasimilasi mereka ke dalam masyarakat Kanada.

Mereka juga dipaksa masuk Kristen dan tidak diizinkan berbicara bahasa ibu mereka. Banyak yang dipukuli dan dicaci maki, dan hingga 6.000 orang dikatakan 'hilang; dan lainnya telah meninggal.

Pemerintah Kanada meminta maaf di parlemen pada tahun 2008 dan mengakui bahwa di masa lalu, kekerasan fisik dan seksual di sekolah-sekolah asrama merajalela. Banyak siswa yang dipukuli hanya karena berbicara bahasa mereka. Mereka juga kehilangan kontak dengan orang tua dan adat istiadat mereka.

Para pemimpin adat berencana untuk membawa ahli forensik untuk mengidentifikasi dan memulangkan sisa-sisa anak-anak yang ditemukan terkubur di situs Kamloops.

Perry Bellegarde, kepala persatuan bangsa pribumi berbicara dengan Trudeau minggu ini, mendesaknya untuk bekerja dengan komunitas bangsa pribumi untuk menemukan semua kuburan tak bertanda dari anak-anak yang diculik dan 'hilang'.

Murray Sinclair, mantan ketua komisi rekonsiliasi, mengatakan kemungkinan akan lebih banyak situs  yang ditemukan.

“Kami tahu ada banyak situs yang mirip dengan Kamloops yang akan terungkap di masa depan. Kita harus mulai mempersiapkan diri untuk itu,” kata Sinclair.

Paus telah menghadapi kemarahan penduduk asli Kanada atas penolakannya untuk meminta maaf atas pelecehan di masa lalu.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya