Berita

Ilustrasi/Net

Kesehatan

Hindari Stigmatisasi, WHO Ubah Penyebutan Varian Covid-19 Dengan Alfabet Yunani Bukan Nama Negara Asal

SELASA, 01 JUNI 2021 | 08:46 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Demi menghindari stigmatisasi terhadap negara tempat pertama kali mutasi Covid-19 terdeteksi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan mengubah penyebutan setiap varian baru yang muncul dengan huruf alfabet Yunani.

Sistem baru ini berlaku untuk varian yang menjadi perhatian, yang paling meresahkan di mana empat di antaranya telah meluas penyebarannya, dan untuk varian tingkat kedua yang sedang dilacak.

"Mereka tidak akan menggantikan nama ilmiah yang ada, tetapi menyebutan ini ditujukan untuk membantu dalam diskusi publik," kata Maria Van Kerkhove, kepala teknis Covid-19 WHO, seperti dikutip dari AFP, Selasa (1/6). Menambahkan bahwa penyebutan baru itu juga agar memudahkan dalam pengucapannya.


Di bawah sistem baru, varian yang menjadi perhatian mengambil nama berikut: yang sampai sekarang disebut varian Inggris atau B.1.1.7 akan diubah penyebutannya menjadi Alpha, untuk variab B.1.351 yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan, akan disebut dengan Beta, sedangkan P.1 Brasil menjadi Gamma.

Varian India yang disebut B.1.617 dibagi menjadi sub-garis keturunan, di mana varian B.1.617.2 menjadi Delta, sedangkan varian lainnya B.1.617.1 akan disebut sebagai Kappa.

Selain nama-nama ini, ada dua nama ilmiah lain yang digunakan untuk setiap mutasi, sementara nama geografis yang berbeda telah digunakan untuk menggambarkan varian yang sama.

Misalnya, di Inggris, apa yang disebut negara lain sebagai varian Inggris sering disebut varian Kent -- county di Inggris tenggara tempat pertama kali varian tersebut ditemukan.

Nama-nama garis keturunan seperti B.1.1.7.2 masih akan terus digunakan di kalangan ilmiah, untuk informasi mutasi yang tersampaikan oleh namanya.

"Meskipun memiliki kelebihan, nama-nama ilmiah ini sulit untuk diucapkan dan diingat, dan cenderung salah dilaporkan," kata WHO dalam sebuah pernyataan. Akibatnya, orang sering menggunakan varian panggilan berdasarkan tempat terdeteksinya virus, yang pada akhirya seperti menstigmatisasi dan diskriminatif.

"Untuk menghindari hal ini dan untuk menyederhanakan komunikasi publik, WHO mendorong otoritas nasional, media, dan lainnya untuk mengadopsi label baru ini," kata mereka.

Keputusan WHO sepertinya masih terkait dengan keputusan Presiden AS Joe Biden, yang awal bulan ini menandatangani undang-undang kejahatan rasial yang bertujuan melindungi orang Amerika keturunan Asia yang mengalami lonjakan serangan selama pandemi Covid-19.

Kelompok anti-ekstrimisme AS mengatakan jumlah serangan dan kejahatan rasial terhadap orang Asia-Amerika telah meledak sejak awal krisis.

Mereka menyalahkan mantan presiden Donald Trump, yang berulang kali menyebut Covid-19 sebagai 'virus China'.

WHO telah mencoba membuat nomenklatur baru yang disederhanakan untuk varian tersebut selama beberapa bulan.

Alfabet Yunani berisi 24 huruf tetapi belum ada rencana ke mana harus pergi selanjutnya jika sudah habis.

Epsilon, Zeta, Eta, Theta dan Iota telah dianggap sebagai varian yang diminati.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya