Berita

Presiden Joe Biden/Net

Dunia

Stop Kejahatan Rasial Anti-Asia, Joe Biden Teken Undang-Undang Kebencian Covid-19

JUMAT, 21 MEI 2021 | 09:23 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Presiden AS Joe Biden akhirnya menandatangani undang-undang baru yang berusaha membendung kejahatan rasial terhadap orang Asia-Amerika dan Kepulauan Pasifik yang mengalami lonjakan dramatis selama pandemi virus corona, Kamis (20/5) waktu setempat.

"Kebencian tidak bisa diberikan tempat berlindung yang aman di Amerika," kata Biden, sebelum menandatangani RUU tersebut, seperti dikutip dari People, Jumat (21/5).

"Itu tidak bisa diabaikan seperti, 'Oh, itulah yang terjadi.' Adikku Valerie dan aku selalu membicarakannya. Kita harus angkat bicara," lanjutnya.


Undang-Undang Kejahatan Kebencian Covid-19 disahkan Senat bulan lalu dengan suara 94 banding 1, dan disahkan DPR dengan selisih 364-62 pada hari Selasa (18/5).

Di bawah undang-undang baru, Departemen Kehakiman (DOJ) akan mempercepat peninjauan atas kejahatan rasial yang dilaporkan. DOJ juga akan menyiapkan hotline online nasional di mana kejahatan tersebut dapat lebih mudah dilaporkan. Undang-undang juga akan menunjuk seorang pejabat untuk mengawasi upaya di DOJ.

Selain itu, RUU tersebut akan memberikan hibah kepada negara bagian untuk memungkinkan mereka mengatur hotline serupa, sementara juga meminta DOJ dan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan untuk mengeluarkan informasi publik dalam upaya untuk meningkatkan kesadaran tentang meningkatnya kejahatan rasial di tengah pandemi Covid-19.

Pada upacara penandatanganan RUU Kamis, Biden didampingi oleh beberapa anggota parlemen, termasuk anggota kongres Asia yang menyusun RUU tersebut.  

Selain itu, ada Wakil Presiden Kamala Harris, Senator Tammy Duckworth, seorang veteran perang dan asli Thailand, dan pemimpin minoritas Senat, Partai Republik Mitch McConnell, yang istrinya adalah penduduk asli Taiwan.

 Kelompok advokasi Asia Stop AAPI Hate memuji RUU tersebut, tetapi mengatakan lebih banyak undang-undang diperlukan untuk mengatasi "akar penyebab rasisme dan penindasan sistemik."

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Korban Jiwa Gempa NTT Bertambah jadi 53 Orang, 135 Warga Luka-Luka

Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:27

Rusak Berat Diguncang Gempa, Hotel Jayakarta Suites Komodo Flores Tutup Sementara

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:43

SBY Minta Maaf

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:15

Tembus Jalur Laut, Bantuan Gempa M 7,7 Disalurkan ke Pulau Palue Sikka

Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:47

Polri Terbangkan 10 Anjing K9 untuk Cari Korban Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:12

3,4 Ton Logistik untuk NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:50

Reza Aulia Diberhentikan, Kursi Direktur Niaga Garuda Kosong

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:40

Kemendikdasmen Jangan Lamban Merespons Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:04

Retorika Janji Kemerdekaan

Minggu, 16 Agustus 2026 | 16:35

Jalur Alternatif Darat Penghubung Ende-Nagekeo Masih Terputus

Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:33

Selengkapnya