Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian/Net
China terus berupaya menjadi penengah konflik antara Palestina dan Israel yang ditandai dengan diskusi antara utusan khusus mereka bersama para pejabat Palestina dan Mesir. Dalam diskusi tersebut juga akan menjangkau pihak lain termasuk Israel, Rusia, dan Uni Eropa.
Keterangan tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian dalam konferensi pers rutin pada Kamis (20/5) waktu setempat.
"Sejak pecahnya konflik Palestina-Israel, China telah memainkan peran sebagai negara besar yang bertanggung jawab dan melakukan banyak pekerjaan konstruktif. Sebagai presiden bergilir dari Dewan Keamanan PBB, China telah memberikan prioritas utama untuk menangani konflik Palestina-Israel saat ini," katanya, seperti dikutip dari Global Times.
Salah satu upaya Beijing adalah dengan mengadakan diskusi bersama sejumlah perwakilan sejumlah negara untuk menemukan solusi terbaik atas konflik yang saat ini sedang berlangsung.
Dikatakan Zhao, utusan khusus Pemerintah China untuk Timur Tengah Zhai Jun, telah melakukan percakapan telepon dengan pejabat kementerian luar negeri Palestina dan Mesir dan melakukan mediasi aktif.
"Dia menyerukan gencatan senjata segera dan menghentikan kekerasan, mendesak lebih banyak bantuan untuk Palestina, dan menegaskan kembali komitmen kuat untuk "solusi dua negara," kata Zhao.
Zhao mengatakan, utusan khusus China juga akan melakukan percakapan telepon dengan orang-orang dari Israel, Rusia, PBB dan Uni Eropa.
"Selama konflik di Timur Tengah berlanjut, China tidak akan menghentikan upayanya untuk mempromosikan perundingan perdamaian," kata Zhao.
Zhao bahkan mengatakan, "Di masa depan, China juga akan menjadi tuan rumah seminar bagi para pendukung perdamaian Palestina dan Israel serta menyambut perwakilan dari Palestina dan Israel untuk datang ke China untuk negosiasi langsung."
Sementara mantan duta besar China untuk Iran dan pakar urusan Timur Tengah, Hua Liming mengatakan bahwa China saat ini sedang mencoba menawarkan jenis mediasi baru, dan mencari solusi yang lebih adil dan lebih efektif untuk konflik Palestina-Israel yang sudah lama ada.
"Tidak seperti AS dan kekuatan besar lainnya, China tidak memiliki konflik dengan pihak mana pun dan China tidak memiliki sejarah kolonial di wilayah tersebut," kata Hua.
"Saat ini, China menjadi pembeli energi terbesar dari wilayah tersebut dan salah satu mitra dagang terpenting bagi banyak negara Timur Tengah, begitu banyak negara kawasan mengharapkan China untuk memberikan lebih banyak kontribusi untuk menyelesaikan masalah mereka," ujarnya.
Di masa lalu, AS adalah mediator utama untuk menyelesaikan masalah Palestina dan Israel, tetapi solusi yang ditawarkannya tidak akan bertahan lama, dan masalah tersebut telah jatuh ke dalam siklus konflik yang berdampak buruk bagi Palestina dan Israel, papar Hua.
"China tidak akan pernah meniru solusi seperti itu. Tapi kasusnya sangat rumit, jadi China perlu waktu untuk mencari jalan baru bersama dengan semua pihak terkait di kawasan. Situasi saat ini sepertinya tidak akan meningkat tetapi juga tidak akan segera berhenti," ujarnya.