Berita

Ilustrasi/Net

Histoire

Perang Sirkasia, Tragedi Pembantaian Muslim Kaukasia Oleh Rusia

JUMAT, 21 MEI 2021 | 06:41 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

  Kaum Muslim di Kaukasia pernah menjadi bulan-bulanan Kekaisaran Rusia yang kemudian memercikkan perang yang dikenal sebagai Perang Sirkasia.

Sisa-sisa perlawanan terakhir mereka terhadap Rusia berakhir di sekitar kota pelabuhan Laut Hitam Sochi pada 21 Mei 1864.
Perang Rusia-Sirkasia ini juga dikenal sebagai Invasi Rusia ke Sirkasia, Tanggal dimulainya perang tidak ada yang tahu pasti, tetapi sejarah mencatat perang dimulai sekitar tahun 1763, ketika Rusia mulai membangun benteng musuh di wilayah Sirkasia.

Perang berakhir 101 tahun kemudian dengan pasukan terakhir Sirkassia dikalahkan pada 21 Mei 1864. Ini adalah perang terpanjang yang pernah dilancarkan Rusia dalam sejarah.

Perang berakhir 101 tahun kemudian dengan pasukan terakhir Sirkassia dikalahkan pada 21 Mei 1864. Ini adalah perang terpanjang yang pernah dilancarkan Rusia dalam sejarah.

Sirkasia merupakan sebuah etnis yang berasal dari Pegunungan Kaukasus di Kaukus Utara di sepanjang pantai timur Laut Hitam hingga Laut Kaspia.

Mereka secara tradisional dikenal sebagai pendaki gunung dan terbiasa hidup dalam kondisi yang keras.

Sebelum masuknya Islam, orang Sirkasia mempraktikkan agama Kristen yang diperkenalkan oleh para penguasa Kekaisaran Bizantium dan Georgia, seperti disebutkan dalam Encyclopaedia Britannica 1989, halaman 326, dan Encyclopaedia of Islam 1991, halaman 22.

Islam pertama kali diperkenalkan kepada kaum bangsawan Sirkasia pada abad ke-16. Pada awal abad ke-18 agama tersebut menyebar ke seluruh penduduk. Bahkan setelah Islamisasi masyarakat Sirkasia, sisa-sisa penyembahan politeistik pra-Kristen kuno tetap ada.

Selama abad ke-12 Sirkassia berada di bawah kendali Georgia. Kemudian di abad ke-16 pemimpin Sirkasia meminta dukungan Rusia terhadap serangan dari Turki dan Iran.

Di era Tsar Rusia inilah nasib bangsa Sirkasia berubah drastis.

Pada pertengahan abad ke-19, imperium Tsar Rusia berusaha memperluas wilayahnya ke selatan dan menargetkan wilayah Kaukasus tempat orang Sirkasia bermukim yang sebelumnya berada di bawah pengaruh Kekhalifahan Turki Utsmani.

Disebutkan bahwa embangunan benteng Mozdok di Kabardia oleh Rusia pada 1763 sebagai permulaan Perang Rusia�"Sirkasia.

Tindakan Rusia menaklukkan tanah Kaukasus Utara ini mendapat restu dari Turki Utsmani, merujuk pada perjanjian Küçük Kaynarca pada 1774 dan Perjanjian Adrianople 1829 yang membahas soal pengakhiran Perang Rusia - Turki dan perubahan wilayah kekuasaan.

Sirkasia berupaya melakukan perlawanan. Perang Rusia-Sirkasia pun berlangsung cukup lama. Butuh waktu lebih dari dari seabad untuk menaklukkan suku-suku lokal Sirkasia yang mayoritas beragama Islam. Meski keislaman orang Sirkasia dipengaruhi oleh Kekhalifahan Utsmani pada abad ke-17, tetapi orang-orang Sirkasia tak pernah merasa wilayahnya berada di bawah kendali penuh Utsmani.

Meski Rusia mendapat restu dari Turki Utsmani, orang Sirkasia tak mau tunduk dan melawan dengan sengit di bawah kepemimpinan Shamil, seorang imam Chechnya dan Dagestan.

Rusia memandang penduduk yang mendiami Kaukasus Utara ini sebagai suku-suku barbar dari pegunungan yang dijuluki sebagai 'khishchniki' yang berarti pencuri atau perampok karena dianggap telah menyerang benteng Rusia. Sementara julukan yang lebih populer dipakai oleh Rusia adalah Cherkes (Sirkasia) yang berarti orang gunung.

Tentara Rusia mengembangkan strategi retribusi baru di awal tahun 1800-an terhadap serangan Sirkasia. Pasukan Rusia diperintahkan untuk menyerang desa-desa tempat keluarga para pejuang Sirkasia tinggal.

Rusia melakukan berbagai pembunuhan dan penculikan untuk menghapus dukungan pedesaan yang luas yang dinikmati pejuang Sirkasia sebagai penduduk dataran tinggi.

Rusia juga menghancurkan tanaman dan ternak, membuat rakyat jelata Sirkasia tidak bisa bertahan hidup.

Mereka akhirnya dipaksa untuk tunduk pada aturan Rusia atau diusir dari desa mereka.

Jenderal Militer Rusia Dmitry Milyutin adalah sosok di balik pengusiran besar-besaran orang Sirkasia dari tanah air mereka, sebuah kebijakan yang dia sebut sebagai 'kebutuhan publik'.

Milyutin membagikan pandangannya secara publik dengan menerbitkannya pada tahun 1857.

Dia berkata, "Melenyapkan bangsa Sirkasia akan menjadi tujuan itu sendiri, membersihkan tanah dari unsur-unsur yang tidak bersahabat."

Rencananya disetujui oleh Tsar Alexander II dan Milyutin diangkat ke posisi Menteri Perang pada tahun 1861.

Tidak lama kemudian, komandan militer Rusia Nikolai Yevdokimov mengusulkan agar orang Sirkasia diusir ke Kekaisaran Ottoman.

Dia mengatakan bahwa orang Sirkasia dapat memilih salah satu dari dua pilihan, "Kematian, atau kesetiaan kepada Kekaisaran Rusia."

Penaklukan Rusia atas Circassia selesai pada 1864.  Setelah penaklukan Rusia, banyak orang Sirkasia meninggalkan negara itu.

Catatan Ottoman menunjukkan bahwa 595.000 orang Sirkasia meninggalkan Sirkasia menuju Kekaisaran Ottoman (sekarang disebut Turki) antara tahun 1856 dan 1864. Pada tahun 1945 masih ada lebih dari 66.000 penutur asli Sirkasia di Turki, dan ada komunitas Sirkasia yang lebih kecil di Suriah, Yordania, Irak dan Iran.

Rusia masih menganggap sisa-sisa orang Sirkasia sebagai musuh. Meski perang sudah berakhir, Kaukasus Utara masih menjadi daerah operasi militer selama beberapa dekade dan melakukan serangkaian intimidasi. Dari peristiwa itulah muncul tuduhan bahwa Kekaisaran Rusia telah melakukan kejahatan perang berupa pembersihan etnis dan genosida terhadap bangsa Adighe Sirkasia.

Selama pengasingan massal, ribuan orang Sirkasia kehilangan nyawa di perairan Laut Hitam. Laut itu pun menjadi tempat peristirahatan ribuan orang selama perjalanan yang suram.

Sirkasia sekarang di seluruh dunia menandai 21 Mei sebagai hari mengenang pengasingan mereka yang tragis.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Mafia Infrastruktur Diduga Kepung Menteri Dody Lewat Isu Miring

Kamis, 06 Agustus 2026 | 00:05

Menhan hingga Ketua Komisi I DPR Terima Brevet Korps Marinir

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:46

Ketimpangan Penduduk Meningkat, Gini Ratio Naik ke 0,368

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:22

Mahkamah Agung Diminta Evaluasi Ketua PN Jakarta Timur

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38

Gempa M 6,4 Guncang Kepulauan Talaud, Tidak Ada Korban Jiwa

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:31

Kader Golkar Wonosobo Ngadu ke DPP soal Dua Kali Musda

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:14

Di Balik Tribun Sunyi Piala Presiden, Puluhan Pecalang Jaga Harmoni El Clasico

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:09

Kisruh Diadukan ke Bahlil, Mafa Uswanas Diusulkan jadi Plt Ketum AMPI

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:50

Pergeseran Public Goods Sektor Kesehatan

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:40

BRAINS Demokrat Kolaborasi Bareng IRI Perkuat Demokrasi Lintas Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:17

Selengkapnya