Pasukan IDF menembakkan peluru di sepanjang perbatasan Gaza/Net
Pasukan Hamas membantah laporan bahwa mereka tengah bersiap melakukan gencatan senjata dengan Israel.
Anggota biro politik Hamas, Izzat al-Rishq, mengatakan pembicaraan mengenai gencatan senjata sama sekali belum menemukan kesepakatan.
"Belum. Belum ada kesepakatan yang dicapai. Juga belum ada jangka waktu pasti untuk gencatan senjata juga," katanya, menurut laporan media Dunya Al Watan, seperti dikutip dari Tass, Rabu (19/5).
Namun al-Rishq mengakui bahwa upaya mediator dan kontak terus berlanjut tanpa henti.
Sumber resmi di Kairo mengatakan pada Selasa (18/5) bahwa Mesir telah mengajukan proposal bagi Israel dan Palestina untuk gencatan senjata mulai Kamis (20/5) pukul 06:00 waktu setempat.
"Kairo telah mengajukan proposal untuk gencatan senjata yang akan berlaku mulai Kamis, 20 Mei, pukul 06:00 waktu setempat, berkoordinasi dengan pemerintah AS," kata sumber itu kepada kantor berita Tass.
"Kami menunggu faksi Palestina dan pemerintah Israel untuk menanggapi, dan mengharapkan operasi militer dihentikan pada akhir pekan ini."
Delegasi Mesir yang menangani masalah keamanan akan berangkat ke Tel Aviv untuk berbicara dengan rekan-rekan Israel. Kontak dengan pihak Palestina juga dipertahankan. Namun, sejauh ini belum ada kunjungan ke Gaza yang dijadwalkan karena serangan udara masih terus berlangsung.
Menurut
Al Arabiya, Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta faksi Palestina, mendukung inisiatif gencatan senjata yang diusung Mesir. Hingga saat ini Israel belum menanggapi proposal tersebut.
Israel dan kelompok Hamas di Jalur Gaza saling melemparkan serangan rudal sejak 10 Mei, menyusul ledakan kerusuhan di dekat masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem pada awal Mei.
Bentrokan antara warga Palestina dan polisi Israel dipicu oleh keputusan pengadilan Israel untuk menyita rumah-rumah keluarga Palestina dan Arab di lingkungan Sheikh yang telah tinggal di sana selama lebih dari 50 tahun.