Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Analis Beijing: Militer AS Sewa Kapal Sipil Untuk Mata-matai China Dari Dekat

SELASA, 11 MEI 2021 | 11:34 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sejumlah analis memperingatkan pemerintah China soal dugaan militer AS yang tampaknya menyewa kapal sipil Norwegia yang misterius untuk melakukan pengintaian dekat di China, dekat pulau Taiwan, dan di Laut China Selatan.

Peringatan tersebut merujuk pada laporan South China Sea Strategic Situation Probing Initiative (SCSPI), sebuah lembaga pemikir yang berbasis di Beijing, yang mengatakan pada Minggu (9/5) bahwa The Grand Canyon II, sebuah multirole dukungan konstruksi kapal yang tampaknya berafiliasi dengan perusahaan jasa minyak dan gas AS, Helix Energy yang disebut memiliki banyak koneksi militer AS, telah melakukan operasi yang dirahasiakan selama beberapa bulan terakhir.

Pada awal Maret, kapal tersebut tiba di Yokosuka, Jepang, dari Guam untuk membawa helikopter MH-60S Seahawk yang diselamatkan pada 17 Maret setelah jatuh ke laut dalam 92 mil laut di timur ke Okinawa. Pesawat tersebut jatuh pada 25 Januari 2020 setelah lepas landas dari kapal komando amfibi USS Blue Ridge, kapal bendera Armada ke-7 AS.


Menurut data pelacakan yang dirilis oleh SCSPI, Grand Canyon II telah beroperasi di dekat pulau Taiwan dan di Laut Cina Selatan selama sebulan terakhir, dan kehadirannya telah menimbulkan pertanyaan. Data juga menunjukkan bahwa sejak akhir tahun 2020, kapal tersebut telah tinggal di Taichung dan Kaohsiung di pulau Taiwan, serta Nagasaki dan Yokosuka di Jepang.

Para pengamat kemudian menunjukkan bahwa Angkatan Laut AS memiliki pelabuhan di Nagasaki dan Yokosuka.

"Dilihat dari data pelacakan kapal yang menunjukkan kapal itu tinggal di dekat pulau Taiwan untuk waktu yang lama, dan karena kapal tersebut pernah bekerja dengan militer AS, Grand Canyon II sangat mungkin menjadi kapal mata-mata yang disewa oleh militer AS untuk misi khusus," kata seorang analis militer yang tidak disebutkan namanya kepada media China, Global Times.

Sementara Wei Dongxu, seorang ahli militer yang berbasis di Beijing mengatakan hal itu bisa saja terjadi, karena AS punya sejarang manfaatkan kapal swasta untuk kegiatan militer mereka.

"AS memiliki sejarah menggunakan kapal sipil untuk misi militer. Kapal khusus ini dapat mendukung Angkatan Laut AS dalam pengintaian dan pengumpulan intelijen di dekat pulau Taiwan," kata Wei.

"Kapal itu dapat melakukan misi pengintaian dan penyadapan dengan mengumpulkan sinyal radio di sekitarnya, menempatkan perangkat pendeteksi ke laut untuk survei hidrologi atau bahkan menggunakan perangkat sonar untuk melacak aktivitas kapal selam," ujarnya, sambil mencatat bahwa itu juga bisa berfungsi sebagai pangkalan rahasia dan agen khusus dapat menggunakannya untuk transportasi dan operasi rahasia.

SCSPI sebelumnya mengungkapkan bahwa militer AS juga menyewa pesawat pribadi untuk operasi pengintaian jarak dekat di China.

Misalnya, pada 31 Maret 2020, perusahaan AS Tenax Aerospace mengerahkan pesawat pengintai maritim Bombardier CL-604 ke Pangkalan Udara Kadena di Okinawa. Pesawat itu melakukan lebih dari 250 flybys pengintai jarak dekat di China sebelum kembali ke AS pada 17 Maret tahun ini.

Laporan luar negeri mengatakan bahwa berurusan di "zona abu-abu" membutuhkan jenis manuver yang lebih fleksibel karena mereka menghadapi lebih sedikit tekanan diplomatik yang dibawa oleh risiko konfrontasi militer langsung.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

27 Ton Bantuan Korban Gempa NTT Diberangkatkan dari Lanud Halim

Senin, 17 Agustus 2026 | 05:57

Merdeka dan Menderita

Senin, 17 Agustus 2026 | 05:23

Legislator PDIP Dorong Penguatan SKK Migas Lewat Revisi UU 22/2001

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:59

TelkomGroup Tancap Gas Perbaiki Layanan Pascagempa NTT

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:32

Malam Renungan Suci

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:17

DOB Bekasi Utara Sangat Penting, Ini Alasannya

Senin, 17 Agustus 2026 | 03:45

Jebolan Akmil 2003 Ini Siap Komandani Upacara HUT ke-81 RI di Istana

Senin, 17 Agustus 2026 | 03:23

Koperasi dan Cacat Epistemologis Pemahaman

Senin, 17 Agustus 2026 | 02:47

Kampung Binaan Pertamina Lubricants Dorong Ekonomi Sirkuler di Jakut

Senin, 17 Agustus 2026 | 02:20

Buku ‘Transformasi Tata Kelola Perikanan Indonesia’ Jawab Masalah Ekonomi Biru hingga PIT

Senin, 17 Agustus 2026 | 01:55

Selengkapnya