Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Politik

Semua Pejabat Tak Boleh Menihilkan Prinsip HAM Dalam Menyikapi Situasi Di Papua

KAMIS, 06 MEI 2021 | 14:11 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Hak asasi manusia (HAM) merupakan hal utama yang perlu diperhatikan dalam penanganan situasi di Papua. Dan hal tersebut harus tercermin dalam sikap para pemangku kepentingan di Indonesia.

Begitu bunyi pernyataan pers Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI) yang dibacakan secara daring oleh Koordinator Klaster Kajian Konflik, Pertahanan dan Keamanan Muhamad Haripin pada Kamis (6/5).

Haripin mengatakan, pemerintahan Presiden Joko Widodo seharusnya mengambil sikap yang proporsional, terukur, dan menjunjung tinggi keselamatan masyarakat, serta hak asasi manusia (HAM) dalam menangani situasi di Papua.


"(Kami) mendorong semua pemangku kepentingan untuk bersikap etis, menjunjung tinggi rasa kemanusiaan, dan penghormatan terhadap HAM dalam menyikapi situasi di Papua," ujarnya.

Dalam pernyataan tersebut, ia juga menyoroti komentar yang diberikan oleh seorang tokoh sipil/pejabat tinggi lembaga negara yang menihilkan prinsip HAM dalam penanganan konflik. Itu merupakan pandangan yang amat berbahaya bagi upaya memutus siklus kekerasan di Papua.

Sebelumnya, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo sendiri dikecam oleh banyak pihak karena mendorong pemerintah untuk mengerahkan aparat keamanan untuk menumpas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua. Pernyataan tersebut dianggap tidak etis dan mencerminkan prinsip HAM.

"Selain bertentangan dengan hukum di Indonesia sendiri, peminggiran HAM itu mencoreng wajah bangsa Indonesia sebagai bagian dari warga dunia," tambah Haripin.

Menurutnya, saat ini pemerintah sendiri berupaya mendorong demokratisasi dan penghormatan HAM di banyak tempat, termasuk Myanmar dan Palestina. Seharusnya, upaya tersebut juga tercermin di dalam negeri.

" Indonesia juga wajib memastikan pemenuhan hak serupa bagi masyarakat di dalam negeri," pungkasnya.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

SOFA Siapkan Rp131 Miliar untuk Proyek Sampah Jadi Energi

Sabtu, 19 September 2026 | 14:14

Menimbang Kembali POD South Andaman

Sabtu, 19 September 2026 | 13:46

Prabowo Teriak “Free Palestine” Tiga Kali, Singgung Indonesia Tak Berdaya Bantu Palestina

Sabtu, 19 September 2026 | 13:45

HUT ke-81 TNI di Monas, Prabowo Dijadwalkan Jadi Irup

Sabtu, 19 September 2026 | 13:27

Kejagung Turun Tangan Kawal Proyek Jalan IKN Senilai Rp3,986 Triliun

Sabtu, 19 September 2026 | 13:24

Saham BMW Anjlok 4,46 Persen

Sabtu, 19 September 2026 | 12:59

Ratusan Hotel di Bali Bangkrut Lalu Dilego

Sabtu, 19 September 2026 | 12:36

Penanaman Pohon Bukti Nyata Kontribusi Alumni Unpad

Sabtu, 19 September 2026 | 12:17

Pasar Minggu Bakal Disulap Jadi Kawasan Terintegrasi, Investasinya Rp1 Triliun

Sabtu, 19 September 2026 | 12:13

Jarnas Prabowo-Gibran Minta Kebun Sawit Rakyat di Kawasan Hutan Tak Digusur

Sabtu, 19 September 2026 | 11:45

Selengkapnya